Babel Tekor 4 T Setahun!

by -

///Gub : Selain Moratorium, Buat Bursa Baru

KELAPAKAMPIT-Harga bijih timah yang mengalami kemerosotan di pasar dunia, berdampak pada berkurangnya pemasukan dari sektor tambang. Akibatnya, Bangka Belitung (Babel) sebagai wilayah penghasil timah harus kehilangan triliunan rupiah. “Saya kasih tahu, harga timah per ton sudah turun dibawah 18 ribu USD, tahun lalu masih 23 ribu USD. Artinya ada 5 ribu USD selisihnya. Itu sama saja dengan kehilangan 4 triliun rupiah dalam 1 tahun,” ujar Bupati Belitung Timur (Beltim), Basuri T Purnama saat memberikan sambutan malam resepsi hari jadi Beltim ke-12 yang diselenggarakan Kecamatan Kelapa Kampit, Selasa (10/2) malam. “Beda 5 ribu USD atau 60 juta per ton. Kalau dikalikan 80 ribu ton, itu lebih dari 4 triliun rupiah,”imbuhnya.
Kondisi ini, kata Basuri harus menjadi perhatian. Sebagai Bupati, Basuri mengaku telah melapor ke pemerintah pusat dan presiden.  “Saya lapor ke pusat dan presiden supaya Singapura, Malaysia dan Thailand, kasih tahu dari mana asal timahnya,”ujarnya.
Basuri menegaskan, Beltim tanpa tambang timah mampu mensejahterakan masyarakat. Sebab itu, dirinya meyakini Beltim harus mendorong sektor lain berkembang. “Tahun 2010, APBD Beltim Rp 400 milyar, sekarang lewat Rp 800 milyar. Tentu tidak akan cukup selama pembangunan dibutuhkan,”ujarnya.
Basuri menyadari, tambang masih menjadi budaya. Masyarakat masih senang menambang. Namun, sektor tambang tidak dapat selamanya dijadikan lokomotif ekonomi masyarakat. “Katakanlah tambang masih 10 tahun kedepan, nah kita harus persiapkan minimal 3 sektor agar sejajar dan masyarakat bisa sejahtera. Kalau ini disiapkan, saya tidak khawatir,”kata Basuri.
“Di usia ini (12 tahun-red) kita sudah mampu memberikan banyak peningkatan yang diharapkan. Dan kita harus tahu, saat ini, kabupaten kebanggaan kita ini, mendapatkan predikat terbaik ke-2 dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD) se Babel setelah Pangkalpinang,” ungkap Basuri bangga.
Sementara itu, selain mendesak moratorium timah, Gubernur Bangka Belitung (Babel) Rustam Effendi juga menginginkan membut bursa timah baru agar harga menjadi lebih sehat. “Penurunan kita bukan hanya semata timah saja, tapi semua komoditi mengalami penurunan. Saya sudah ketemu Dirut PT Timah, dan minggu depan saya akan adakan pertemuan dengan semua pelaku timah tanpa diwakilkan, karena itu kita akan atur jadwalnya,”ungkap Rustam.
Mengenai rencana moratorium ini, menurut Rustam Dirut PT Timah, Sukrisno memberikan respon yang baik, hanya saja tinggal mensinkronisasikan ke Kementrian Perdagangan, dan terkait Bursa, Ia meyakinkan pemerintah akan membuat bursa lagi. “Dirut timah merespon baik apa yang kita harapkan disitu, dan beliau akan sinkronisasikan ke Menteri Perdagangan. Dan untuk membuat bagaimana bursa ini sehat, kita akan buat kompetitornya, bahkan kita akan bangun bursa lagi karena sekarang angka kita masih di 17.800, jangan sampai turun lagi, dan target kita diangka 20.000,” terang Rustam.
Meskipun demikian, Rustam menambahkan, dalam meeting nanti Ia juga akan membahas masukan untuk membatasi dan menunda ekspor timah. “Untuk moratorium juga akan dilakukan dalam kurun waktu beberapa bulan,” ujarnya. Untuk pelaku usaha juga Rustam berharap semua pelaku usaha dapat membuat industri hilir. “Saya akan menegaskan pelaku usaha untuk membuat industri hilir, kalau untuk PT Timah, kita coba dulu lihat hasil yang di Tanjung Ular Muntok itu, dan ini akan jadi acuan kita,”tandasnya.
Sekretaris PT Timah Tbk, Agung Nugroho ketika dihubungi RB Rabu malam (11/2), mengatakan moratorium timah saat ini belum tepat dilakukan. Menurut dia, saat ini moment untuk moratorium alasannya belum mendesak mengingat anjloknya harga timah tersebut berlaku secara golabal. “Moratorium itu harus menjadi senjata terakhir. Saat ini menurut kami momentnya belum tepat dilakukan karena kalaupun dilaksanakan belum akan mensupport harga seperti yang diharapkan,”ujar Agung.
Sementara terkait PT Timah Tbk diminta untuk membangun industri di Bangka-Belitung (Babel), Agung menambahkan, pembangunan industri tersebut tetap pihaknya lakukan seperti halnya pembangunan kawasan industri di Tanjung Ular Bangka-Barat (Babar). “Kalau dikatakan kami tidak membangun industri justru itu sudah kami bangun di Tanjung Ular yakni industri logam tanah jarang. Pabrik itu selesai Mei 2015 ini juga. Dan produksinya sudah mulai Juli 2015 ini juga,”ujar Agung.(msi/eza/rb)