Baiknya Jadi Tempat Rehabilitasi Sosial

by -

*Eks Gedung RSUD Belitung

TANJUNGPANDAN – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Belitung berencana memanfaatkan gedung eks Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Belitung.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Belitung Haziarto mengatakan rencananya gedung itu diajukan sebagai gedung rehabilitasi sosial.  Haziarto menjelaskan maraknya anak-anak muda yang terjaring Satpol PP Kabupaten Belitung perlu penanganan lebih lanjut.

Biasanya mereka terlibat zat adiktif (ngaibon), kumpul hingga larut malam. Padahal anak itu masih usia sekolah. Sangat disayangkan generasi muda terlibat hal itu. “Apakah anak-anak yang terlibat aibon, atau anak tawuran atau anak-anak masalah sosial. Itu bisa ditangani, mereka dibina agar tidak melakukan kegiatan serupa. Bisa melibatkan ustadz, guru, dan masyarakat yang peduli,” kata Haziarto di ruang kerjanya, Senin (2/5) kemarin.

Konsep tersebut sedang dibuat untuk diajukan segera. Ini momen yang sangat baik. Dinsosnakertrans hanya butuh beberapa ruangan saja. “Kita tidak perlu banyak, ada ruang administrasi, ruangan untuk penampungan mereka, ruang dapur, aula untuk ngumpul, dan kamar mandi. Itu saja mungkin,” terang Haziarto.

Meskipun berdasarkan undang-undang seharusnya panti rehabilitasi butuh lahan yang luas. Harus ada lahan untuk bertani dan membuat aktivitas sehari-hari. Tapi jika mengikuti itu, nampaknya sulit terwujud. “Itu bagus sekali, tapi penangan kelanjutannya yang sulit. Kan harus ada lahan. Mereka yang suka tani kita arahkan, yang ingin membuat souvernir, bengkel misalnya,” tukasnya.

Sementara Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Belitung Johan Hanibal Palit mengusulkan gedung eks RSUD Kabupaten Belitung dibuatkan panti rehabilitasi sosial terpadu.

Ditemui di kawasan KV Senang Minggu (1/5) kemarin, ia mengatakan Belitung sangat memerlukan itu. Belakangan sering tertangkap anak-anak yang ngaibon, minum komix, bahkan seks bebas. Meski aparat Satpol PP bertambah, mereka tidak akan mampu menanganinya.

Panti rehabilitasi sosial terpadu ada ruang khusus penanganan orang jompo, kenakalan remaja, narkoba, dan orang hilang akal (gila). “Saya kira sayang gedung itu jika tidak dimanfaatkan. Apa salahnya eks rumah sakit kan banyak ruang, kita buat saya pusat rehabilitasi,” tukasnya.

Ia menyayangkan beberapa waktu lalu sekelompok pemuda-pemuda memanfaatkan gedung eks RSUD sebagai tempat maksiat. “Kita lihat kan kemarin, karena kosong mereka ramai-ramai kesana. Entah apa yang mereka lakukan di tempat sepi. Kita tidak tahu,” pungkasnya. (ade)