Banjir Serupa Tahun 1986 (kick) Apakah ini Siklus 30 Tahunan

by -

BANJIR TERBESAR melanda Pulau Bangka.  Hujan lebat selama 2 hari terakhir, (7-8 Februari 2016), benar-benar meluluhlantakkan beberapa wilayah daerah ini.  Termasuk Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Pangkalpinang, dibuat lumpuh total.
Apakah benar ini siklus 30 tahunan sekali?  Tidak ada jawaban pasti.  Namun dalam perjalanan kota ini, memang banjir besar pernah melanda kota ini tahun 1986 atau 30 tahun  silam.
Dari kisah warga sekitaran Pintu Air kepada harian ini kemarin, banjir besar saat itu merendam seluruh wilayah Pintu Air. Bahkan akses jalan juga sempat terputus.  “30 tahun lalu saya masih ingat, bulan antara bulan Januari  dan Februari juga banjir seperti ini terjadi. Ada jembatan yang sampai terputus saking besarnya. Rumah warga Pintu air banyak yang tenggelam,” cerita seorang ibu rumah tangga, Rosita.
Rosita sendiri saat itu mengaku masih duduk di Bangku SMA. Saat itu dirinya teringat warga Pintu Air harus mengungsi jauh dari rumahnya. Mereka khawatir banjir tersebut bisa terulang kembali setiap saat. “Pokoknya setelah rumah terendam sampai ke pucuknya, ngungsi semua entah kemana-mana,” ingatnya.
Sementara dirinya dan keluarga saat itu bukan sebagai korban banjir melainkan hanya saksi saja.  Tetapi akunya tidak sedikit keluarganya yang jadi korban banjir saat itu. “Banyak juga keluarga yang mengungsi ke rumah saya dekat   Gajah Mada (dulu masih Kampung Keramat). Setelah banjir reda beberapa hari kemudian baru mereka kembali ke rumah,” ucapnya mengenang.
Apa yang dikemukakan Rosita sejalan dengan yang diungkapkan  H Sabirin yang tinggal di Bukit Merapin.  Kata dia, keadaan hujan lebat yang tak henti-henti dan membuat beberapa wilayah di Pangkalpinang terendam membuka memori dia saat tahun 1986 silam.  Saat itu kata dia Pangkalpinang diguyur hujan yang sama dengan yang terjadi 3 hari berturut-turut tersebut. Seluruh kehidupan kala itu katanya nyaris lumpuh total. Hujan telah membelah wilayah bagian Jalan Mentok dan wilayah lainnya ke arah A Yani.
Dia mengatakan dulu ada anekdot jika Kampung Bukit (nama lain dari Bukit Lama, Bukit Merapin dan Bukit Baru serta Bukit Tani) terendam banjir, maka wilayah lain sampai ke Pasar Besar (sekarang Ramayana dan BTC) pasti tenggelam.  “Saya ingat betul tahun 1986 itu Bukit Lama terendam. Mulai dari bawah Mesjid sampai ke kuburan dan terus sampai ke simpang Jalan Mentok. Itu benar-benar putus,” kenang Bapak Sabirin yang sekarang sudah berumur 73 tahun.
Kala itu kata dia Walikota adalah H Muhammad Arub SH. Walikota tersebut tidak henti-hentinya berteriak ke lurah sampai RT untuk mendata warga mereka yang terkena musibah banjir.  Kenang dia lagi, saat itu di wilayah Bukit Lama belum ada bangunan-bangunan besar. Bandarnya pun lebar-lebar. Bangunan yang besar hanyalah pos satpam di Pasar Pagi.
Maka dia membandingkan dengan kondisi sekarang di mana wilayah Pasar Pagi sudah berdiri banyak bangunan yang membuat bandar dan selokan semakin sempit.  “Dulu saya ingat pakai motor Yamaha Deluxe dengan anak dan istri. Kami berencana menerobos hujan dan banjir dari arah Museum Timah. Tapi yang ada kami malah terperosok ke bandar karena air banjir yang deras,” katanya.
Maka tak berlebihan ujar Sabirin jika banjir dan hujan kali ini membuat memorinya akan hujan di tahun 1986 terulang lagi. Dia bilang selama ia hidup ia hanya melihat 2 kali banjir yang besar, tahun 1986 itu dan banjir kali ini.  Bedanya, dulu warga hanya bisa pasrah di rumah tanpa tahu kabar dan nasib keluarga yang lain, sedangkan sekarang lebih gampang untuk tahu keadaan keluarga karena komunikasi sudah gampang.
“Dulu itu ada korban jiwa. Kalau tidak salah ada bocah dan ibunya yang tewas terseret banjir di Kampung Melintang. Semoga hujan kali ini tidak ada korban jiwa, dan semoga pemerintah cepat memperhatikan ini,” harap Sabirin.(eza/emp)