Bank Sampah Masih Jalan di Tempat

by -

*Terkendala Biaya Operasional, Kurang Dapat Dukungan Pemerintah Desa

TANJUNGPANDAN-Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten untuk mengatasi permasalahan sampah di lingkungan masyarakat. Salah satunya dengan pembangunan Bank Sampah di lima desa wilayah Kecamatan Tanjungpandan dan Sijuk.

Namun, sayangnya pengoperasian lima Bank Sampah yang sudah diresmikan Desember 2014 lalu, belum optimal. Bahkan, ada Bank Sampah yang hingga kini belum beroperasi alias berjalan dan belum menyampaikan SK pengelola.

Kepala BLHD Belitung, melalui Staf Subdit PPM BLHD, Dewi Fitriani mengatakan, pengoperasian Bank Sampah ini di antaranya masih terkendala biaya operasional. Bank Sampah ini terkesan kurang mendapat dukungan pemerintah desa untuk menganggarkan biaya operasionalnya.

Padahal, sebelum Bank Sampah dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah desa sudah menyatakan kesiapannya. Lima Bank Sampah lantas dibangun di Kelurahan Lesung Batang, Desa Pelempang Jaya, Air Selumar, Keciput dan Desa Tanjung Tinggi.

“Rata-rata alasannya masalah operasional. Desa belum menganggarkan dana operasional untuk pengelola Bank Sampah. Misalnya, Bank Sampah di Desa Pelempang Jaya hingga saat ini belum beroperasi. Pihak Desa baru menyampaikan SK pengelola,” terang Dewi kepada Belitong Ekspres, Rabu (13/4) kemarin.

Dewi menjelaskan, saat ini Bank Sampah yang sudah berjalan, hanya di Desa Tanjung Tinggi. Bank Sampah di desa ini, melakukan jual beli sampah (tabungan sampah) dan daur ulang sampah.

Sedangkan Bank Sampah di desa lainnya, seperti di Air Selumar hanya baru melakukan daur ulang sampah, di Kelurahan Lesung Batang melakukan pengomposan dan di Desa Keciput baru bersiap-siap untuk beroperasi.

“Pemerintah dalam hal ini sudah cukup mensupport, memberikan sarana dan prasarananya, memberikan dua kali pelatihan ilmu untuk pengelolanya. Jadi, sekarang ini tinggal dukungan dari pemerintah desa, agar Bank Sampah bisa berjalan optimal,” harap Dewi.

Selain dana operasional, lanjutnya ada sejumlah permasalahan yang dihadapi Bank Sampah hingga saat ini yaitu, masalah user atau pemakai sampah itu sendiri.

“Kebanyakan sampah tertentu hanya ditampung pengepul untuk dijual ke luar Belitung. Dan pihak yang mau jadi pengepulnya juga terbatas,ā€¯tukasnya.

Ia berharap keberadaan Bank Sampah di desa bisa meningkatkan kepedulian masyarakat agar bisa “berkawan” dengan sampah. Karena manfaat langsung yang dirasakan tidak hanya nilai ekonomi, namun pembangunan lingkungan yang bersih, hijau dan sehat.

Sekarang ini kata Dewi, paradigma pengolahan sampah juga harus sudah berubah dengan strategi 3 R. Yaitu, reuse (menggunakan kembali), reduce (mengurangi), dan recycle (mengolah sampah kembali).

“Oleh karenanya, pola pikir masyarakat saat ini harus dirubah, sampah itu adalah uang bukan dibuang. Maka dari itu, ayo kita menabung di Bank Sampah,” tandas Dewi. (yud)