Bekerja; Mencari Rezeki Halal

by -

Oleh: Sadely Ilyas

Dalam pandangan Islam seseorang yang bekerja mencari rezeki untuk keperluan menghidupi keluarga adalah tergolong ibadah. Maka, sebagai agama yang fitrah, Islam menghendaki setiap individu hidup di tengah masyarakat secara layak sebagai manusia. Paling tidak  bisa memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang,  dan pangan, memperoleh pekerjaaan sesuai dengan keahliannya, melanggengkan pendidikan,  atau membina rumah tangga dengan bekal yang cukup. Dengan demikian, maka  harkat dan martabatnya akan terjaga sesuai dengan fitrah kemanusiaannya. Misalnya, seorang suami mampu menafkahi istri dengan baik, atau orang tua mampu membiayai hidup dan pendidikan anak-anaknya.

Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menciptakan manusua dengan terlebih dahulu menyediakan kebutuhan hidupya. Dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 29, Allah berfirman, “Huwal ladzi khalaqa lakum maa fil ardhi jamii’aa” yang artinya, “ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.”

Allah SWT juga telah menjamin terpenuhinya kebutuhan makan minum semua makhluk di dunia, termasuk manusia. Bahwa tidak ada satu makhluk pun di muka bumi ini kecuali Allah sediakan baginya rezeki. “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6).

Namun hal yang perlu digarisbawahi adalah, bukan berarti semua yang ada di muka bumi merupakan milik kita yang berhak kita kelola dan konsumsi. Bukan pula kita tidak perlu bersusah payah mencarinya. Disini berlaku sunatullah, yaitu setiap manusia harus bekerja dan berusaha meraih rezeki yang dijanjikan Allah; yang bersungguh-sungguh akan berhasil, dan yang malas akan sengsara.

Manusia telah diberikan dua modal utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pertama, alam dengan segala kekayaannya, dan kedua, akal. Dengan akal manusia dipersilahkan untuk mengeksploitasi kekayaan alam dengan seluas-luasnya, namun tetap dalam koridor (batas-batas) yang sewajarnya.

Perintah bekerja jelas dalam tuntutan Al-Qur’an dan hadits, begitu pula mengecam orang-orang yang malas tidak mau bekerja; yang hanya tahu menengadahkan tangan meminta belas kasihan orang lain. Allah berfirman “Dan katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-nya serta orang-orang mu’min akanmelihat pekerjaanmu itu.” (QS. At-Taubah: 105). Dalam hadits Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah, seseorang yang membawa tali untuk mencari kayu bakar (untuk dijual) kemudian diikatkan di atas punggungnya lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, yang mungkin ia dapat, mungkin pula tidak (HR. Bukhari Mslim).

Bekerja menurut Islam adalah aktivitas yang sangat mulia, dan mempunyai isi ‘ilahiyah’ dan humanism. Yakni dalam rangka penghambaab kepada Allah dan statusnya sebagai makhluk sosial yang mempunyai tugas-tugas kesosialan. Seseorang yang dapat mencukup kebutuhan hidupnya tentu akan lebih khusyuk beribadah menjalankan shalat lima waktu, dan lebih sering berderma.

Islam menuntun setiap umatnya untuk mendayagunakan semua potenti dan mengarahkan segala daya upaya untuk mencari rahmat dan karunia Allah. Semua usaha yang dapat mendatangkan rezeki yang halal – di sisi Allah – adalah sesuatu yang mulia, walaupun rezeki itu diperoleh dengan susah payah, seperti menjadi kuli bangunan, buruh pabrik, atau tukang kayu bakar sekalipun.

Dalam suatu riwayat, dikisahkan, bahwa Baginda Nabi Saw pernah mencium tangan Saad bin Muadz karena melihat tanggannya yang kasar karena bekerja keras (untuk menghidupi anak-istri), seraya Beliau bersabda, “Inilah tangan yang dicintai Allah.”. Bahkan Umar bin Khattab ra. menegaskan, “Janganlah engkau berdoa dengan hanya duduk bediam diri meminta kepada Allah supaya menurunkan rezeki, sedangkan langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.”

Pekerjaan yang kita lakukan tentu didasarkan pada prinsip-prinsip yang diatur oleh Islam, seperti:

(1) Bekerja hanya untuk mencari rezeki yang halal dan baik. Islam mengajarkan agar dalam berusaha hanya mengambil yang halal dan tentunya baik. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (halaalan thayyiban) dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).

(2) Amanah dan penuh tanggung jawab. Dalam mencari penghidupan, amanah setidak-tidaknya mengandung dua pengertian mendasar. Pertama, amanah merupakan wujud tanggung jawab terhadap setiap tugas yang diemban. Jadi setiap amanah, tugas, atau pekerjaan, sejatinya harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya dengan menjunjung tinggi profesionalitas, dan moralitas. Kedua, amanah berarti kesesuaian antara tugas/pekerjaan dengan kemampuan atau kapabilitas kita.

(3) Menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Salah satu sifat wajib bagi rasul adalah shiddiq (jujur). Orang yang jujur berani menyatakan sikap secara transparan, terbebas dari segala kepentingan, kepalsuan, dan penipuan. Al-Qusyairi, seorang Sufi terkenal mengatakan bahwa shiddiq (jujur) adalah orang yang benar dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaan batinnya. Kejujuran adalah hal mutlak dalam usaha memperoleh rezeki. Ketika berdagang misalnya, kita jangan sampai mengurangi timbangan, harus menepati setiap janji, dan tidak pernah ada orang yang bertransaksi dengan kita kecuali memperoleh kepuasan. Kejujuran seorang pedagang akan menimbulkan rasa aman dan senang bagi pembelinya.

Dalam bekerja kita harus tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai yang tiga tadi; yakni bekerja dengan ikhlas untuk mencari rezeki yang halal, dikerjakan dengan penuh tanggung jawab (amanah), dan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Kejujuran seringkali – menurut persepsi manusia materialis – sebagai penghambat dari memperoleh keuntungan (profit) yang besar. Sehingga ketidak jujuran dan manipulasi menjadi komoditi sehari-hari. Padahal dalam Islam, rezeki tidak diukur dengan sedikit atau banyaknya, namun keberkahannya. Sekarang, kita akan bersikap jujur, atau tidak jujur.

Kita harus yakin bahwa Allah SWT telah menyiapkan rezeki untuk kita. Karena kita sudah memiliki “jatah” rezeki masing-masing. Tinggal bagaimana kita mencarinya dengan kekuatan pisik, akal, dan hati nurani kita. Perbedaannya hanyalah pada  ketidak jujuran kita dalam memperoleh rezeki tersebut , yaitu hanya akan mengubah status rezeki dari “halal” menjadi “haram”. Wallahu A’lam! (**)