Beliadi Imbau Pemprov Kep. Babel dan Pemkab Beltim Bentuk TACB

OYO 399 Kelayang Beach Hotel
Beliadi Imbau Pemprov Kep. Babel dan Pemkab Beltim Bentuk TACB

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Bangka Belitung, Beliadi, S.IP

belitongekspres.co.id, BANGKA BELITUNG – Melansir https://kebudayaan.kemdikbud.go.id, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pasal 1 angka 13 juncto pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa tiap daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) wajib membentuk Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) daerah. Pembentukan Tim Ahli Cagar Budaya Daerah sangat penting dalam upaya mendorong percepatan penetapan Cagar Budaya sebagai Warisan Budaya yang berada di wilayahnya.

Menyikapi hal ini, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Bangka Belitung, Beliadi, S.IP, berharap, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Prov. Kep. Bangka Belitung (Babel) dan Kabupaten Belitung Timur (Beltim) segera di-assessment (dinilai).

Hal ini menurut Beliadi perlu segera dilaksanakan, mengingat lambatnya pertumbuhan kemajuan pariwisata Beltim. Oleh karenanya ia berharap ada sektor baru yang digarap di Beltim untuk dikembangkan, disertifikasi, bahkan dipublis ke dunia internasional.

Politisi yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Gerindra Beltim ini menilai, setiap wilayah, misalnya Pulau Belitong yang terdiri dua kabupaten, hendaknya memiliki kelebihan masing-masing. Utamanya dari sisi potensi daerah sebagai daya tarik wisata. Karena mau bagaimana pun, konsep meniru atau hanya sebagai pengikut daerah lain tidak akan pernah maju.

“Kabupaten Belitung memiliki keunikan pantai, pulau, dan sarana lain di bidang pariwisata. Termasuk hotel yang bagus, jalan yang mulus, serta kuliner yang komplit. Lalu Beltim ketingalan jauh jika hanya mengikuti dan menjual hal yang sama,” ujarnya.

Baca Juga:  Beliadi Tegaskan Pelaku Pengrusakan Mobdin Wagub Segera Diproses Secara Hukum

Oleh karena itu, pria yang akrab disapa Beli ini menitikberatkan pada inovasi bagi Belitung Timur, salah satunya cagar budaya. Suatu tempat yang bernilai sejarah akan lemah marketnya jika hanya dijual begitu saja. Dan baru akan memiliki nilai tambah jika memiliki TACB yang sudah bersartifikasi, lalu menetapkan tempat-tempat bersejarah menjadi cagar budaya.

Ia mencontohkan, misalnya Pice bisa ditetapkan menjadi cagar budaya Peninggalan Kolonial Belanda. Open Pit Nam Sa Lu menjadi Cagar Budaya Tambang, Keramat Balok jadi Cagar Budaya Keramat Balok. Di Pelulusan ada Benteng Makam Kermat dan Basari Belanda dan tempat tempat bersejarah lainnya.

“Tempat tempat ini ditetapkan menjadi cagar budaya yang ada di Beltim. Masukkan ke blog khusus imformasi pariwisata Beltim, lalu dipublis ke dunia luas. Ada banyak lagi sektor lain, selain ini, yang bisa dikembangkan, termasuk wisata bawah laut,” ujarnya.

 

TACB Bersertifikasi

Mengutip dari sumber https://kebudayaan.kemdikbud.go.id, Pemerintah Daerah membentuk TACB dan menyertifikasi kompetensinya melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pelaksana Sertifikasi Mandiri TACB pada 2019 dengan anggaran dari Pemerintah Daerah masing-masing.

Pemerintah Daerah yang akan mengikuti sertifikasi dapat mengirimkan surat permohonan Sertifikasi Mandiri TACB kepada Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Permohonan dikirimkan ke alamat Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permusueman, Gedung E, Lantai XI, Kompleks Kemendikbud Republik Indonesia, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, 10270. Dapat juga melalui email subdit.sdm.pcbm@gmail.com, atau lsp.kebudayaan@gmail.com.

Baca Juga:  Didit Sindir Begitu, Bely Justru Jawab Begini

LSP Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan akan menutup pendaftaran sertifikasi TACB pada akhir Desember 2019.(*/rel)

 

Berikut ini skema pelaksanaan sertifikasi mandiri TACB

Infografis skema pelaksanaan sertifikasi mandiri TACB.

 

Berikut ini adalah persyaratan sertifikasi TACB Mandiri:

1. Diusulkan oleh Pemerintah Daerah dan pembiayaannya ditanggung oleh perorangan/Pemerintah Daerah;
Warga Negera Indonesia;
2. Sehat jasmani dan rohani dibuktikan dengan surat keterangan dokter;
3. Berusia paling rendah 28 tahun;
4. Memiliki keahlian arkeologi, sejarah, filologi, antropologi, kesenian, arsitektur struktur dan mekanik, biologi, geologi, geografi, hukum dan/atau keahlian lain yang memiliki wawasan kepurbakalaan dan/atau wawasan pelestarian Cagar Budaya;
5. Memiliki pengalaman kerja minimal 5 tahun di bidang pelestarian Cagar Budaya, atau tokoh/pakar yang terpercaya di bidang kebudayaan;
6. Berasal dari lembaga formal, nonformal dan perorangan;
7. Memiliki komitmen di bidang Pelestarian Cagar Budaya; dan
8. Anggota Tim Ahli berjumlah gasal dan terdapat ahli arkeologi, dengan jumlah tim sebagai berikut:
a). Anggota Tim Ahli provinsi berjumlah 9-7 orang
b). Anggota Tim Ahli kabupaten/kota berjumlah 7-5 orang.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply