Belitong dan Geliat Bisnis Batumulia

by -

leh: Taufiq Andika*

Setengah tahun terakhir ini, fenomena batumulia (gemstone) mulai menjangkiti masyarakat Pulau Belitong yang dikenal dengan sebutan “Negeri Laskar Pelangi”. Pepatah kuno mengungkapkan bahwa “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, maka dari itu saya akan memaparkan beberapa pemikiran yang akan dituangkan di dalam tulisan ini. Meskipun sebagai pribadi saya belum lama tinggal di pulau ini (± 1 bulan), akan tetapi saya langsung tertarik untuk mendalami potensi sumberdaya alam Pulau Belitong dari sisi geologi serta manfaatnya bagi kemajuan industri ekonomi kreatif di Belitong.

Di kota Tanjung Pandan sendiri, geliat bisnis batumulia mulai marak. Di beberapa ruas jalannya sering saya temui pedagang-pedagang batumulia baik penjual bahan mentah, jasa pemotongan/ pemolesan batumulia, serta galeri-galeri batumulia yang mulai bermunculan.

Belum lama ini, di Paserba Kampung Parit, Tanjung Pandan, didirikan sebuah pusat perniagaan batumulia dengan nama “Meirobieland Gemstone Center” (MGC) yang diprakarsai oleh Bapak Isyak Meirobie dan dikelola oleh Bapak Louis Gonzaga. Selama sebulan terakhir setelah diresmikan, banyak para pedagang atau pengusaha yang berminat untuk membuka tempat usaha bisnis batumulia. Meskipun demikian, tidak semua pedagang menjual batumulia, akan tetapi ada juga yang membuka toko pakaian, warung makanan, dan sebagainya. Dilihat dari perkembangannya, tampaknya bisnis batumulia mengarah ke trend positif.

Di beberapa galeri batumulia yang ada di MGC Kampung Parit, koleksi batuan yang ditawarkan sudah beragam dari mulai bacan, satam, kinyang, pancawarna, zamrud, jasper, safir biru, dan sebagainya. Sebagai batuan khas Pulau Belitong, batu kinyang (quartz crystal) dan batu satam (billitonite/ tektite) sudah mampu bersaing dengan batuan-batuan yang berasal dari luar Pulau Belitong.

Jika dilihat dari sejarah geologinya, batu satam merupakan batuan meteorit yang berasal dari luar angkasa yang jatuh menghantam Pulau Belitong pada kurun waktu ± 700 ribu tahun silam. Komposisi kimia yang dikandung oleh batu satam antara lain SiO2, Al2O3, serta sebagian kecil unsur MgO dan K2O. Ciri khas dari batu satam adalah berwarna hitam gelap, terdapat rongga, dan berbentuk seperti empedu. Istilah billitonite digunakan oleh seorang peneliti Belanda bernama Ir. N. Wing Easton yang melakukan penelitian terhadap batu satam pada tahun 1922 (id.wikipedia.org/wiki/Batu_Satam). Batu kinyang sendiri merupakan mineral kuarsa berkomposisi SiO2 dengan bentuk kristal segienam (hexagonal). Ciri khas dari batu kinyang adalah berbentuk kristal transparan dengan beberapa variasi warna maupun ornamen di dalamnya. Berbeda dengan batu satam, batu kinyang memiliki variasi penamaan bergantung dari motif, bentuk, maupun aksesori di dalamnya. Makanya, tidaklah mengherankan jika beberapa penggemar batu kinyang kadang memberi nama kinyang air, kinyang es, kinyang teh, kinyang kopi, kinyang bensin, kinyang rambut, dan sebagainya.

Pepatah mengatakan bahwa “tak kenal, maka tak sayang”. Bagi masyarakat Pulau Belitong yang notabene tidak terlalu asing melihat batu satam maupun batu kinyang di kolong-kolong bekas galian tambang timah atau kaoline, saya harapkan semoga tulisan ini dapat memberi kontribusi positif sehinga kita semakin mencintai lingkungan serta sumberdaya alam yang ada di sekitar kita.

Akhir kata, potensi batumulia yang ada di Indonesia, khususnya Pulau Belitong, sudah semakin diminati oleh semua lapisan masyarakat tanpa mengenal usia, pendidikan, profesi, status sosial, agama, etnis, dan sebagainya. Cintai batumulia karena keindahannya, maka setelah itu diharapkan para pembaca bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sang pencipta alam semesta ini.

*)Lulusan Teknik Geologi Unsoed Purwokerto, Pemilik Jazz Gemstone Gallery di MGC Kampung Parit, Tanjung Pandan