Beltim Bebas Buku Radikal Siswa

by -

*Disdik Belum Temukan Buku yang Tidak Sesuai Bahasan

MANGGAR – Menindaklanjuti maraknya temuan buku pelajaran agama yang memuat bahasan radikal di sejumlah sekolah menengah di Kabupaten/Kota di Indonesia, Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Beltim tidak menemukan peredaran buku dimaksud.

Kepala Dindik Beltim, Hartoyo memastikan hingga kini, baik Dinas maupun sekolah belum menemukan atau mendapat melaporkan adanya buku-buku pelajaran yang tidak sesuai bahasan. Terutama, sekolah dan guru SMA/SMK yang menjadi objek temuan buku, saat pertama kali dilaporkan dan tersebar di media.

“Kita sudah hubungi semua Kepsek, jika memang ada temuan atau didapatkan buku dengan isi yang mencurigakan segera laporkan. Dan hingga kita saya sebagai Kepala Dindik Beltim belum menerima laporan tersebut, dan jangan sampai lah,” ungkap Hartoyo saat dikonfirmasi, Jum’at (27/3) siang.

Hartoyo mengatakan, kemungkinan peredaran buku-buku tersebut sangat kecil dan diperkirakan tidak sampai di Beltim. Sebab, pengadaan buku pendidikan agama islam dan budi pekerti bagi siswa di Beltim, berbeda penerbit percetakan.

“Bukan terbitan seperti yang ditemukan sekarang di beberapa Kabupaten di Indonesia terutama di Pulau Jawa,” katanya.

Akan tetapi lanjut Hartoyo, pihaknya tetap akan turun ke sekolah-sekolah untuk mengecek langsung dan memastikan agar tidak ada buku yang mengandung unsur radikal tersebar di sekolah-sekolah di Beltim.

Selain itu, Dindik Beltim mengeluarkan himbauan yang intinya meminta pihak sekolah kembali mengecek buku mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Khususnya penggunaan buku Kurikulum 13 (K13) di sekolah masing-masing.

“Kalau ada buku berkonten radikal dibaca oleh siswa, dikhawatirkan bakal mempengaruhi para siswa yang masih awam terhadap ajaran tersebut. Kalau nanti ada ditemukan, buku itu harus ditarik,” tandas Hartoyo. (feb)