Beltim Disetujui New Normal, Satu – Satunya di Provinsi Bangka Belitung

by -
Beltim Disetujui New Normal, Satu - Satunya di Provinsi Bangka Belitung
Ilustrasi jpnn

belitongekspres.co.id –  Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC) Pusat memberikan kewenangan kepada 102 Pemerintah kabupaten/kota seluruh Indonesia untuk menerapkan gaya hidup new normal. Kabupaten Belitung Timur (Beltim) satu-satunya kabupaten/kota di Provinsi Bangka Belitung (Babel) yang diizinkan kenormalan baru.

Juru Bicara GTPP Covid-19 Provinsi Babel Andi Bayu Prayitno mengatakan, dipilihnya Beltim sebagai daerah penerapan tatanan kehidupan baru di tengah pandemi Covid-19, tentu punya alasan dan dasar pertimbangan. Salah satunya karena GTPPC Nasional mencatat Beltim saat ini berada di Zona Hijau.

Berdasarkan data yang ada, di Beltim hanya terdapat 1 kasus konfirmasi Positif Covid-19 berinisial OH, laki-laki, 61 tahun). Saat ini pasien Covid-19 tersebut sudah dinyatakan sembuh sejak pekan lalu, 22 Mei 2020.

“OH sendiri bukan warga atau penduduk Beltim. Namun, yang bersangkutan adalah warga Bekasi, Jawa Barat, bekerja di perusahaan tambang pasir berlokasi di daerah itu. Setelah kasus tersebut, sama sekali tidak ada kasus positif Covid-19 di Kabupaten Beltim,” kata Andi kepada Belitong Ekspres, Senin (1/6).

Dikatakannya, Covid-19 ini adalah masalah pandemi yang melanda hampir seluruh negara di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, memang tidak ada jaminan bahwa di Kabupaten Beltim benar-benar bersih dari Covid-19.

Penerapan new normal memang bukan perkara mudah. Sebab, terdapat sejumlah syarat yang musti terpenuhi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Beltim, agar pelaksanaan new normal berjalan lancar sesuai yang diharapkan. Yakni melakukan sosialisasi, edukasi hingga simulasi new normal.

“Oleh karena itu, new normal bukan sesuatu yang serta merta dikatakan secara sepihak oleh kepala daerah atau mengklaim bahwa kenormalan baru sudah berjalan dan dilakukan di daerahnya. Tidak seperti itu. Paling tidak ada 3 hal yang wajib diperhatikan dalam penerapan menuju new normal,” terang Andi.

Pertama, aspek epidemiologi, bahwa daerah tersebut harus mengalami penurunan kasus di atas 50 persen dari kasus puncak dalam tiga minggu terakhir. Kedua, menurun atau bahkan nihilnya kasus kematian. Dan ketiga, fasilitas kesehatan (faskes) yang memadai, mencakup ketersediaan tempat tidur di Rumah Sakit dan kapasitas faskes untuk melakukan tes Covid-19 di daerah itu.

Lebih lanjut Andi mengatakan, prasyarat dan pertimbangan dari Gugus Tugas itu kemudian dibicarakan di level daerah bersama dengan semua pihak terkait. Lalu diputuskan apakah daerah tersebut diizinkan menerapkan new normal atau tidak,” sebutnya.

“Nanti Bupati selaku Ketua Gugus Tugas menindaklanjuti untuk dibicarakan pada level pemerintahan dan tokoh masyarakat. Serta semua pihak yang berada di Beltim untuk memutuskan apakah akan melaksanakan kegiatan untuk mengaplikasikan kenormalan baru atau masih akan menunda. Jadi ini opsional,” jelasnya.

Ada beberapa hal penting sebagai catatan bagi Beltim menuju new normal. Sehingga kemudian Pemkab Beltim bisa memilih opsi melaksanakan new normal, menunda, atau sama sekali tidak melaksanakan.

Pertama, pertimbangan di Pulau Belitung (Khususnya di Kabupaten Belitung) saat ini kuat dugaan sudah terdapat kasus atau terjadi kasus positif dari “local transmission” (transmisi lokal). Walaupun kasus transmisi lokal di Beltim belum ada, akan tetapi tidak berarti bahwa sama sekali nol atau nihil dari kasus.

Kedua, terkait dengan screening serta faskes untuk pemeriksaan maupun penanganan di Beltim yang tidak memiliki RS rujukan. Ketiga, tenaga kesehatan/medis dan fasilitas di Beltim juga masih kurang dan terbatas. Sehingga apabila keran ini dibuka maka ada kekhawatiran akan terjadi lonjakan kasus positif, pemerintah daerah akan sulit menghadapinya.

“Keempat, persiapan dan kesiapan dari Pemkab Beltim juga belum terlihat nyata dan serius menuju penerapan new normal. Ini ditambah dengan kesadaran masyarakat di Beltim sendiri yang masih diragukan dalam mematuhi Protokol Kesehatan Covid-19 secara disiplin,” tandas Andi. (red)

Editor: Yudiansyah