Beltim Fokus Garap Budaya

by -

*Ambil Porsi 60%, Sisanya Alam 30% dan Buatan Manusia 10%

TANJUNGPANDAN-Meski soal wisata keindahan alam (landscape) Belitung Timur masih tertinggal dari Kabupaten Belitung, bukan berarti Dinas Pariwisata Beltim hanya pasrah dan berdiam diri menerima keadaan. Karena itu, Beltim tetap akan menggenjot potensi lain dalam membangun sektor pariwisata.

Apa yang dilakukan? Kepala Dinas Pariwisata Belitung Timur Helly Tjandra mengatakan, jika sebelumnya, komposisi kekuatan penggarapan sektor pariwisata pada alam sebanyak 60 persen, budaya 30 persen dan 10 persen wisata buatan manusia (man made), maka sekarang berubah. Kongkretnya, 60 persen budaya, 30 persen alam dan 10 persen tetap man made.

“Makanya sekarang kita perbanyak eksplorasi budaya di Beltim yang sebenarnya banyak yang bisa digali dari sumber daya lokal. Kalo soal pantai dan wisata alam otomatis masuk karena memang potensi sudah ada,’’ ujar Helly Tjandra kepada Belitong Ekspres, Jumat, (23/10) pekan lalu usai menghadiri rakor di Dinas Pariwisata Provinsi Babel.

Menurut dia, beberapa budaya (culture) yang dimiliki Beltim seperti beripat Kampit dan yang baru saja dieksplor yakni musik Gambang. Kebudayaan lain seperti tradisi Maras Tahun dan sejumlah tradisi asli Beltim, akan kita angkat dan apresiasi sebaik mungkin.

“Yang kelas, salah satu fokus dari pemerintah bagaimana tradisi dan kebudayaan yang ada tetap lestari, selain diangkat dari kepaiwisataannya. Lantas yang tak kalah penting memotivasi gara generasi penerus tradisi tetap bersemangat mengangkat tradisi ini. Banyak seniman dan pelaku tradisi sudah berusia lanjut, jadi butuh regenarasi,’’ papar Helly Tjandra.

Dia menambahkah, ada tiga hal penting pula dalam perencanaan pembangunan pariwisata. Yakni, pertama objek wisata, kedua kuliner danketiga cindera mata atau souvenir. “Dalam menerapkan ketiga hal ini dibutuhkan sinergi di Kabupaten antar SKPD sehingga mampu saling memberikan dorongan dalam memajukan sektor pariwisata yang telah dijadikan salah satu sektor unggulan,’’ paparnya.

Sinergi yang dimaskud, semisal soal obyek wisata, dibutuhkan akses jalan yang baik dan mungkin pelabuhan yang memadai dengan fasilitasnya. Maka, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perhubungan harus support dengan hal ini. Lantas, dalam hal kuliner dan souvenir, dari Dinas Perindustiran dan Koperasi UKMK bisa mendotong perajin untuk lebih kreatif.

“Saya kira, kita di daerah ini butuh sinergi yang kuat dulu. Baru bicara keluar misalkan melibatkan masyarakat dan pengusaha. Jangan sampai pengusaha yang mau investasi terkendala dan berpikir panjang untuk berusaha gara-gara minim fasilitas pendukung , utamanya infrastruktur,’’ ungkapnya.(agu)