Beltim, Retakkah Paman & Ponakan?

by -
Rakyat, Kemana Suaramu Nanti?
Syahril Sahidir, CEO Belitong Ekspres Grup.

Cabup PDIP di Basel = Ria?!

Oleh: Syahril Sahidir
CEO Belitong Ekspres Grup

PILKADA DI wilayah paling Timur Babel, Belitung Timur memang selalu mengundang perhatian. ‘Koalisi gemuk’ pun terjadi.

ADALAH Yuri Kemal Fadlullah yang merupakan putra tokoh dan pakar hukum Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra mencalonkan diri di Pilkada serentak Kabupaten Beltim tahun 2020 dengan menggandeng setidaknya 6 Partai Politik. Akibatnya, diperkirakan di daerah ini yang akan bertarung hanya 2 pasang kandidat saja, yaitu antara Yuri – Nurdiansyah dengan koalisi gemuknya, melawan pasangan petahana (wakil Bupati Beltim Sekarang) Burhanuddin – Khairil Anwar (seorang ASN) yang didukung Golkar dan PKS.

Kondisi politik Beltim inilah yang justru memantik reaksi, bukan dari luar, tapi dari dalam keluarga trah Mahendra sendiri, yaitu dari petahana Yuslih Ihza yang merupakan Bupati Beltim saat ini dan kakak kandung Yusril Ihza atau paman kandidat Cabup Yuri. Karena dengan langkah Yuri yang membangun koalisi gemuk tersebut, telah menutup peluang masuknya kandidat lain dari jalur partai termasuk peluang sang paman sendiri. Kecuali daeri awal misalnya membangun jalur independent.

Apakah memang itu tujuannya?

Dalam politik sebenarnya langkah seperti ini biasa. Karena inti dari politik adalah lobi dan komunikasi. Dan memang terasa demikian kental dalam koalisi gemuk di balik Yuri itu ada campur tangan Yusril Ihza.

Namun, tujuan membangun koalisi gemuk itu tentu tidak semata untuk memperkecil jumlah kandidat lawan, tapi juga untuk memperbesar potensi kemenangan. Apatah lagi jika memang semua kader dan simpatisan dari partai koalisi itu bergerak dan satu suara.

“Semua partai sudah gabung dengan situ (red.Yuri). Pergi ke sini punya Yuri, pergi kesitu punya Yuri, jadi mau kemana lagi. Saya yakin dukungan masyarakat masih berpihak kepada saya, orang kan sudah tahu semua, bertandinglah secara bijak, biar masyarakat yang menentukan,” ungkap sang paman Yuslih Ihza dengan nada kecewa menanggapi perkembangan politik yang ada di Beltim saat ini.

***

KHUSUS dengan keadaan di Beltim ini, apakah sedemikian retak hubungan dalam satu keluarga?
Satu hal yang perlu diingat, ikatan politik tentu berbeda dengan ikatan keluarga. Retaknya hubungan politik, bisa bersatu dengan satu kepentingan. Retaknya hubungan satu keluarga, bisa bersatu karena bagaimanapun ikatan tali darah tak bisa dibantah.
Dari sinilah, publik khususnya di Belitung Timur tetap harus memandang kondisi yang terjadi itu hanyalah sebuah dinamika. Bukankah rumput atau kiambang yang ada di sungai atau danau akan kembali menyatu ketika biduk berlalu.
Pesan tetua Melayu: Biduk lalu, kiambang bertaut.

***

DAN memang, di Babel dalam beberapa hari terakhir pekan lalu, tensi politik jelang Pilkada 4 Kabupaten di Bangka Belitung (Babal) menghangat tajam.

Kandidat Cabup/Cawabup Partai Pemenang Pemilu, PDI Perjuangan seperti ditunggu-tunggu. Jika di Beltim, PDIP sudah tegas ke Yuri. Di Bangka Selatan justru masih menggantung.

Sementara untuk Cabup/Cawabup di Bangka Barat dan Bangka Tengah, PDIP tampaknya sengaja memainkan dengan antiklimaks. Saat Babel Pos menanyakan siapa kandidat untuk masing-masing Kabupaten?

Pengurus DPP PDIP Perjuangan yang juga Wakil Bendahara DPP, Rudianto Tjen langsung dengan gamblang menjawab untuk Bangka Tengah, itu Didit-Korari, dan Bangka Barat, Markus-Effendi.

Mengapa kedua daerah ini dibuat antiklimas, karena dibuat dengan klimaks juga takkan berpengaruh lagi. Publik Babel khususnya publik di kedua kabupaten itu rata-rata sudah mengetahui kemana arah Banteng Moncong Putih untuk kedua daerah tersebut. Dan tentunya juga tak terlepas dari survey yang dilakukan.

Masih dari Pulau Bangka, lalu siapa yang didukung PDIP di Bangka Selatan?
Hampir dipastikan kandidat untuk Kabupaten Selatan Pulau Bangka itu adalah R-I-?-A! Tinggal, N atau Z kah?
Yah, Rina (Tarol) atau Riza (Herdavid/incumbent Wakil Bupati Sekarang).

Hal yang cukup menarik justru terjadi di akhir pekan lalu. Di tengah penantian rekomendasi Partai yang dipimpin Megawati Soekarno Putri itu, Partai Bintang Mercy, Demokrat (4) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB-2) langsung mengumumkan mengusung pasangan yang notabene kader PDI Perjuangan, Rina Tarol- Doni Indra (Pengusaha).

Dengan fakta politik ini, berarti tegas sudah, Rina Tarol akan tetap turun gelanggang, dengan PDIP atau tidak. Sementara Riza Herdavid justru sebaliknya, seperti hanya berharap perahu Moncong Putih. Karena tidak terdengar lobi atau upaya merapat ke perahu lain, tidak juga terdengar dan tersirat dari partai lain mengarah ke David.

***

KEJUTAN apalagi yang akan terjadi?
Yah, kadang seperti sudah diduga, politik sulit diduga***