BKKBN Dorong PIK Dapat Berkomunikasi dengan Remaja

by -
BKKBN Dorong PIK Dapat Berkomunikasi dengan Remaja
BKKBN Dorong PIK Dapat Berkomunikasi dengan Remaja
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bangka Belitung, Etna Estelita bersama Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Beltim, Yulhaidir saat menghadiri acara Sosialisasi PIK Remaja di Ruang SHBN

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bangka Belitung, Etna Estelita mendorong Pusat Informasi Konseling (PIK) remaja dapat berkomunikasi dengan teman sebaya agar terhindar dari pernikahan usia dini.

“Salah satunya dapat diatasi dengan program GenRe. BKKBN melakukan program ini di sekolah-sekolah. Jadi ada yang namanya Pusat Informasi Konseling Remaja,” ujar Etna saat menghadiri kegiatan Aksi Generasi Berencana (GenRe) di Kabupaten Beltim, Selasa (22/10) kemarin.

Etna mengatakan, remaja cenderung jarang mau berkomunikasi dengan orang tuanya, dan memilih teman-teman sebaya untuk menceritakan masalah-masalah yang dialami. Makanya, BKKBN melakukan dua pendekatan yakni pendekatan melalui teman sebaya (PIK), dan bina keluarga remaja yang adanya di masyarakat.

“Ini wajib diperkuat di desa-desa terutama di kampung-kampung KB. Dimana daerahnya kurang dalam segala hal seperti IDT. Artinya, sarana prasarana masih kurang, akses masih termasuk daerah terpencil dan pelayanan kesehatan masih kurang,” kata Etna.

Menurut Etna, sejauh ini BKKBM berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya remaja di segala lini. Salah satunya program KB yang ditujukan untuk menekan angka kematian ibu dan anak yang diakibatkan pernikahan usia dini.

“Cuman yang penting itu pembangunan keluarganya, jadi program yang perlu kita tingkatkan di BKKBN itu menyangkut siklus hidup manusia mulai dari hamil sudah dimulai diperhatikan melalui program 1000 hari kehidupan,” jelas Etna.

“Program itu harus dikawal. Semua komponen harus mengawal, suami, orang dekat maupun tetangga supaya angka kematian ibu bisa ditekan. Kematian ibu tinggi penyebabnya nikah muda, melahirkan di usia 16-18 tahun,” tukasnya.

Sementara itu, Bupati Beltim Yuslih Ihza menyebut potensi remaja di Beltim cukup besar. Karenanya ia mengingatkan agar remaja diberi pemahaman yang baik agar tidak terjebak dalam ikatan pernikahan usia dini.

“Beltim ini menempati rangking ketiga yang banyak pernikahan usia muda. Jadi ketika mereka belum siap berkeluarga, akan berdampak pada kelangsungan perkawinan itu sendiri,” kata Yuslih.

“Mereka juga belum siap secara fisik, mental maupun finansial. Bagaimana pun harus menjadi perhatian bersama. Ketika mereka tidak siap, akan menjadi beban bagi mereka sendiri, orang tua yang akhirnya bertengkar dan memilih bercerai,” tutur Yuslih.

(Muchlis Ilham | belitongekspres.co.id)