Budaya Tiongkok Sudah Ada Ratusan Tahun Silam di Bangka

by -
Budaya Tiongkok Sudah Ada Ratusan Tahun Silam di Bangka

Oleh. Akhlanudin

Saya tergeliitik untuk membahas pernyataan Politikus PPP, Amri Cahyadi. Ia mengaku ada kekhawatiran pencaplokan budaya yang membuat budaya asli Bangka Belitung tenggelam, jika persoalan itu tidak diperhatikan. “Jangan sampai kondisi ini membuat kita abai. Penjajahan modern bukan hanya fisik wilayah. Tapi juga pencaplokan budaya.”

Barangkali Amri Cahyadi lupa, bahwa Budaya Tiongkok sudah ada ratusan tahun di Pulau Bangka, jauh sebelum Indonesia merdeka dan tidak pernah ada gesekan.

Masyarakat Tionghoa mulai hadir di Pulau Bangka selama periode 1757-1776 atas kehendak Sultan Ahmad Najamuddin Adikusumo, putra Sultan Mahmud Badaruddin II, yang saat itu memimpin Kerajaan Sriwijaya. Tujuan utama mendatangkan mereka adalah untuk meningkatkan produksi dan kualitas pengolahan timah sebab warga Tionghoa dinilai lebih terampil dan sudah menguasai teknologi penambangan timah.

Para warga asal China yang datang ke Bangka saat itu umumnya laki-laki dan tidak membawa keluarga. Seiring dengan perjalanan waktu, mereka pun akhirnya memilih bertahan di Bangka dengan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan Melayu di sana.

Jadi, masyarakat Tionghoa di Bangka saat ini merupakan keturunan pribumi dan Melayu. Hubungan persaudaraan dan keharmonisan erat yang terjalin antara masyarakat Tionghoa dan Melayu di Bangka selama ini karena mereka umumnya memiliki garis keturunan yang sama.

Dengan adanya asimilasi yang kuat melalui perkawinan itu akhirnya berkembang penyebutan di kalangan masyarakat Bangka, yakni fan ngin, to ngin jit jong, yang berarti ’pribumi, Melayu, dan Tionghoa semuanya sama dan setara’. “Karena itu, hubungan kekeluargaan antarwarga Melayu, Tionghoa, dan pribumi di Bangka tidak lahir secara kebetulan demi menjaga stabilitas wilayah, tetapi karena merasa sebagai satu keluarga besar.”

Seorang pegawai kolonial Belanda, Boggart, pada tahun 1803 pernah berkunjung ke Bangka. Berdasarkan pengamatannya, Boggart mendeskripsikan ada empat kelompok etnis yang hidup di Bangka.

Mereka adalah orang melayu dari Johor Siantan (Malaysia), orang Tionghoa, orang laut, dan orang darat atau orang gunung.

Orang darat atau gunung merupakan warga pribumi Bangka. Yang belum beragama Islam disebut orang Lom dan yang sudah menganut Islam disebut Selam. Orang darat masih tersisa di daerah Air Abik, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Mereka disebut suku Mapur. Sementara orang laut bertahan di daerah Kedimpel dan Tanjunggunung, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah. Mereka adalah komunitas suku Sekak. ”Deskripsi Boggart ini membuktikan adanya kesetaraan Melayu, Tionghoa, dan pribumi di Bangka terjalin sejak ratusan tahun silam.”

*Akhlanudin Mantan Ketua Dewan Kesenian Belitung (2014-2018)