Budaya Unggul Sekolah

by -

Oleh: Sabarudin, M.Pd*

Pengembangan budaya mutu sekolah merupakan tugas dan tanggung jawab kepala sekolah, selaku pemimpin pendidikan. Namun demikian, pengembangan budaya mutu sekolah mempersyaratkan adanya partisipasi seluruh personil sekolah dan stakeholder, termasuk orang tua siswa. Karena itu, secara manajerial pengembangan budaya mutu sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah, sedangkan secara operasional sehari-hari menjadi tugas seluruh personil sekolah dan stakeholder terkait.
Sekolah-sekolah yang memiliki keunggulan atau keberhasilan pendidikan oleh Owens, (1995: 81) lebih dipengaruhi dari kinerja individu dan organisasi itu sendiri. Itu mencakup nilai-nilai, keyakinan, budaya, dan norma perilaku yang disebut sebagai the human side of organization (sisi/aspek manusia dan organisasi).
Hal tersebut sesuai apa yang telah dilakukan oleh Frymier dan kawan-kawan (1984) dalam melakukan penelitian One Hundred Good Schools. Dalam penelitian tersebut, mereka menyimpulkan, bahwa iklim sekolah, seperti hubungan interpersonal, lingkungan belajar yang kondusif, lingkungan yang menyenangkan, moral dan spirit sekolah berkorelasi secara positif dan signifikan dengan kepribadian dan prestasi akademik lulusan.
Budaya sekolah dapat dikatakan bermutu bila sekolah menunjukkan perkembangan yang baik dalam mencapai suatu keberhasilan pendidikan. Budaya mutu sekolah adalah keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah. Komponen ini yang secara produktif mampu memberikan pengalaman dan perkembangan dalam mencapai keberhasilan pendidikan berdasarkan spirit dan nilai-nilai yang dianut oleh sekolah.
Lezotte (1983) menemukan dalam penelitiannya, sekolah-sekolah yang unggul itu memiliki karakteristik-karakteristik. Yaitu: (1) lingkungan sekolah yang aman dan tertib; (2) iklim serta harapan yang tinggi; (3) kepemimpinan instruksional yang logis; (4) misi yang jelas dan terfokuskan; (5) kesempatan untuk belajar dan mengerjakan tugas bagi siswa; dan (6) pemantauan yang sering dilakukan terhadap kemajuan siswa, dan hubungan rumah-sekolah yang bersifat mendukung.
Dengan demikian, sekolah dapat disebut sebagai sekolah unggul bila memiliki karakteristik keefektifan yang tinggi. Yakni;  iklim sekolah yang positif, proses perencanaan sekolah yang melibatkan seluruh warga sekolah dan harapan yang tinggi terhadap prestasi akademik. Selain itu, adanya pemantauan yang efektif terhadap kemajuan siswa dan keefektifan guru.
Karakteristik lainnya, yakni soal kepemimpinan instruksional yang berorientasi pada prestasi akademik. Lantas,  pelibatan orang tua yang aktif dalam kegiatan sekolah, kesempatan, tanggung jawab, dan partisipasi siswa yang tinggi di sekolah, ganjaran dan insentif di sekolah. Itu semua yang didasarkan pada keberhasilan, tata tertib dan disiplin yang baik di sekolah, dan pelaksanaan kurikulum yang jelas.
Di lapangan, sering kita temui sejumlah kendala-kendala dalam merealisasikan budaya unggul sekolah. Kendala itu di antaranya; masih adanya warga sekolah yang melaksakan kegiatan sekolah (PBM) sekedar menyelesaikan/menggugurkan kewajiban saja. Selain itu , sikap inovatif warga sekolah yang masih rendah,  orang tua peserta didik  belum terbiasa  berkontribusi terlebih bagi yang tidak mampu. Kendala lain, mind set  untuk berubah tidak dibarengi dengan kesiapan stakeholder untuk bergerak secara cepat. Kemudian, belum terbiasa warga sekolah untuk berani mengajukan usul atau gagasan.
Selain ditemukan berbagai kendala dalam pengembangan budaya unggul sekolah, ada beberapa faktor pendukung terlaksananya budaya unggul sekolah. Di antaranya: (1) partisipasi dan kepedulian  yang tinggi dari warga sekolah, (2) adanya komunikasi yang baik antara sesama warga sekolah, (3) kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidikan memiliki  kompetensi dan berdedikasi  tinggi untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, (4) komite sekolah sangat mendukung setiap program yang dibuat sekolah, sehingga memudahkan sekolah dalam mengembangkan sumber daya secara optimal
Selanjutnya, (5) Input peserta didik dengan tingkat kepribadian yang baik, (6) lokasi sekolah yang terletak tidak ditengah keramaian kota, mudah terjangkau, asri dan nyaman untuk belajar, (7) Adanya bantuan pemerintah Pusat dalam bentuk Bantuan Opesioanl Sekolah APBN,Provinsi dan Kabupaten ) untuk mendukung pengembangan mutu sekolah dan aktivitas belajar mengajar di sekolah
Faktor-faktor pendukung tersebut apabila di maksimalkan pelaksanaanya akan meberikan dampak atau hasil yang positif. Hasil atau dampak yang dapat dicapai berupa; 1). Budaya Sekolah Unggul menjadi kebutuhan. Hal ini terlihat dari Pembelajaran di kelas menjadi lebih kondusif. Hasilnya, KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) menjadi efektif, nilai tes peserta didik meningkat, tingkat kedisiplinan peserta didik dan guru meningkat serta tumbuhnya sikap kreatif peserta didik dan guru dalam mengembangkan media pembelajaran.
Lantas, 2). Terciptanya lingkungan sekolah yang aman, bersih, hijau, tertib, religius, dan penuh kekeluargaan. Hasilnya berupa: kedisiplinan guru dan peserta didik meningkat, tingkat kenakalan peserta didik menurun, pemenang sekolah adiwiyata dan sekolah sehat, sekolah yang bebas dari rokok dan narkoba, tumbuhnya rasa kekeluargaan yang tinggi di antara warga sekolah (5 S = Salam, Sapa, Sopan, Senyum, Silaturahim).
Selanjutnya, 3). Tumbuhnya budaya mutu di lingkungan sekolah. Hasilnya meliputi: tumbuhnya semangat berkompetisi peserta didik dan guru baik di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional, di raihnya juara baik oleh peserta didik dan guru yang berprestasi baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional bidang akademik dan non akademik seperti OSN, O2SN, FLS2N dan lainnya.
Poin selanjutnya, 4). Terlaksananya pengembangan tenaga pendidik yang kompeten dan berdedikasi tinggi. Hasilnya adalah: disiplin guru meningkat, iklim kerja lebih produktif dan kompetitif, serta terjalinnya kerjasama dengan instansi pemerintah daerah dan swasta serta dengan sekolah lainnya.
Kemudian, 5). Terlaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. Hasilnya pelayanan staf TU lebih cepat dan baik sesuai  dengan tugas dan fungsinya. Ramah dan sopan dalam melayani siswa dan guru serta , ketepatan waktu dalam pelayanan misalnya (5 menit melayani kebutuhan ATK siswa (spidol, penghapus, tinta) 10  menit untuk pengurusan surat menyurat,  6). Tumbuhnya cita-cita untuk prestasi tinggi. Hasilnya target sekolah tercapai baik akademik maupun non akademik, Pengakuan pihak lain terhadap prestasi sekolah, munculnya kepuasan kerja dan rasa bangga akan sekolah,
Faktor ke-7). Tumbuhnya kemauan untuk berubah. Hasilnya: meningkatnyanya kualitas kinerja guru dan kualitas belajar siswa menjadi lebih bermakna, tumbuhnya kesadaran untuk saling “sharing” informasi (guru yang sudah ikut pelatihan akan mendesiminasikan informasi dari pelatihan/menjadi narasumber bagi teman lainnya disekolah), munculnya kreativitas dan keberanian siswa dan guru untuk berkarya, Guru yang sudah berprestasi memberi motivasi kepada rekan lainnya untuk dapat berkarya lebih baik dari sebelummnya.
Budaya unggul sekolah menjadi faktor pembeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Tingkat keberhasilannya terlihat dari meningkatnya prestasi baik akademik maupun non akademik. Sekolah  akan  berhasil dengan baik apabila seluruh stake holder sekolah berkomitmen maju bersama, pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien, serta terciptanya iklim/budaya sekolah yang kondusif. Karena Sukses itu membutuhkan ”Visi untuk melihat”, ”Iman untuk Percaya” dan ”Keberanian untuk Melangkah”.

*)Kepala SMA Negeri 1 Gantung)