Buku dan Minat Baca Guru-Siswa

ilustrasi membaca. Foto: pixabay

ilustrasi membaca. Foto: pixabay

Oleh : Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

RajaBackLink.com

SEKITAR 5000-an tahun yang lalu atau lebih kurang 3100 Sebelum Masehi bangsa Sumeria yang menempati daerah Irak Selatan menciptakan sebuah benda yang mengubah peradaban manusia selamanya. Kumpulan lembaran dari kulit binatang yang diikat menjadi satu itu, setiap lembarannya mereka tuangkan dalam bentuk catatan, ide, dan cerita. Lembaran demi lembaran yang yang disatukan itu, pada akhirnya dikenal dengan nama “buku”. Ribuan tahun kemudian, tepatnya di tahun 1439, Johannes Gutenberg berhasil menciptakan sebuah mesin cetak yang membuat buku makin mudah diperbanyak dan disebarkan.

Kini berkat temuan jenius dari bangsa Sumeria dan Guttenberg, manusia memiliki sumber informasi, pengetahuan, dan inspirasi di dalam genggaman mereka dalam bentuk buku. Buku memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia sampai sekarang. Berkat peranan yang sangat berarti dari buku, UNESCO akhirnya menetapkan setiap tanggal 23 April jadi Hari Buku Dunia. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan kematian penulis ternama William Shakespeare dan Inca Garcilaso de la Vega.

Hari buku bukan sekadar mengingat kembali peranan dari bangsa Sumeria dan Gutenberg atau beromantisasi dengan sejarah untuk mengingat karya jenius dari William Shakespeare. Hari Buku Dunia dan Hari Buku Nasional harusnya menjadi pengingat bagi kita, bangsa Indonesia untuk mulai sadar akan pentingnya peran buku dan minat baca bagi manusia.

Saat ini, trend membaca atau minat baca di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Menurut data dari OECD minat baca masyarakat kita masih jauh dari tingkat normal. Indonesia berada di peringkat 60 dari 64 negara. Angka ini sangat memprihatinkan mengingat Indonesia terbilang memiliki sumber buku yang cukup. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Cennecticut State University pada tahun 2016 , bangsa Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara tentang minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Berdasarkan data tersebut, terlihat jelas bahwa Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara lain. Miris jika melihat indeks membaca, rata-rata penduduk Indonesia hanya membaca 4 judul buku dalam satu tahun dan masih jauh dari standar UNESCO yaitu 7 judul buku dalam satu tahun.

Ketika Mendikbud dijabat oleh Dr. Anies Baswedan, beliau sempat mengungkapkan keprihatinannya terhadap minat baca masyarakat kita. “Betapa rendahnya minat membaca masyarakat di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Saat ini, Indonesia memiliki perpustakaan di dunia cukup bagus dengan menduduki nomor 35 di atas negara Malaysia, Portugis, Singapore, Jerman, Australia dan Selandia Baru. Namun, pengunjung dan pemanfaatan perpustakaan sedikit sekali dibandingkan dengan negara itu, banyak dan jumlah perpustakaan yang cukup merata juga,” ungkapnya.

Baca Juga:  Demagog dan Narsisme Politik

Semua elemen bangsa ini harus menyadari bahwa budaya baca-tulis bangsa kita sangat rendah. Ditambah dengan kecanggihan teknologi, maka hal yang menjadi daya tarik bagi anak-anak bukan lagi buku, namun gawai, dan televisi. Sudah jarang sekali anak-anak membaca buku, baik buku pelajaran, komik, buku pengetahuan umum atau jenis buku apa pun.

Untuk menumbuhkan budaya membaca di masyarakat, kita bisa meniru negara Vietnam. negara ini pernah mengalami konflik perang saudara berkepanjangan, dan saat ini sudah lebih dulu menyadari pentingnya mereformasi dunia pendidikannya melalui membaca. Melalui metode gerakan masyarakat mengumpulkan donasi dan buku, serta menyebarkan melalui pendirian perpustakaan di seluruh pelosok negara tersebut.

Dan kita bisa melihat hasilnya saat ini  yaitu kemajuan negara Vietnam yang cukup pesat di Asia Tenggara. Indonesia tidak boleh kalah dalam hal ini, karena mengingat sumberdaya manusia Indonesia sangat berpotensi menjadi yang terdepan tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, namun di lingkup Asia bahkan Dunia. Untuk itu, gerakan literasi yang sekarang ini marak, tidak hanya dibebankan tanggung jawabnya kepada pemerintah semata. Karena untuk membangun suatu kebiasaan justru dimulai dari unit terkecil di masyarakat yaitu keluarga. Saya belum memiliki data ilmiah tentang upaya penumbuhan budaya membaca di keluarga, tapi saya meyakini bahwa keluarga di Indonesia (baik di perkotaan, apalagi di pedesaan), masih belum sepenuhnya menyadari pentingnya budaya membaca apabila dilihat dari indikator persentase pengeluaran keluarga untuk membeli buku.

Saat ini tradisi membaca dan menulis harus terus dikembangkan mengingat bahwa melalui membaca, maka kemajuan pendidikan akan lebih pesat. Kemudian melalui kegiatan menulis, ide, gagasan, serta ilmu pengetahuan akan terus berkembang. “Melalui tulisan ide dan  gagasan, akan lebih dikenang sepanjang masa dibandingkan hanya terucapkan secara lisan yang mudah hilang selepas gagasan tersebut dilontarkan”. Begitu, menurut Catur Nurrochman Oktavian, M.Pd. (2017) salah seorang guru SMP Negeri di Kabupaten Bogor.

Cara-cara yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan budaya baca di lingkungan sekolah dan keluarga, dapat dicapai melalui:

1) Kebiasaan memberi hadiah kepada anak berupa buku, sering mengajak anak jalan-jalan ke pameran atau toko buku, sisihkan sedikit pengeluaran untuk membeli buku minimal enam bulan sekali, orangtua sebagai role model dengan sering membaca dan menulis di rumah. Hal yang dapat dilakukan di lingkungan masyarakat, antara lain dengan: Mendirikan banyak komunitas-komunitas yang peduli literasi, Membangun sebanyak mungkin perpustakaan atau taman bacaan masyarakat dari mulai tingkat RT/RW.

Baca Juga:  RELASI KEKUASAAN DAN PENGETAHUAN

2) Di lingkungan sekolah, gerakan membaca dapat dilakukan dengan mengoptimalkan kembali fungsi perpustakaan di tiap sekolah sejak tingkat Pra Sekolah (TK) hingga Sekolah Menengah. Letakkan posisi perpustakaan pada tempat strategis di lingkungan sekolah yang mudah dilihat, terjangkau, dan menyenangkan. Selama ini posisi perpustakaan di setiap sekolah nampaknya lebih banyak di tempat-tempat yang tersembunyi, sehingga jarang dikunjungi peserta didik.

3) Untuk mendorong menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis bagi guru, maka pemerintah harus mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kemudahan bagi guru dalam memperoleh dan mengakses buku-buku. Berikan diskon harga khusus bagi guru-guru dalam membeli buku, dan berikan insentif untuk membantu mendorong penerbitan buku-buku yang ditulis oleh guru.

4) Para guru hendaknya menjadi ‘role model’ bagi peserta didik dengan banyak menghasilkan karya berupa artikel ilmiah, populer, maupun buku-buku. Selain itu, para kepala sekolah dan pengawas memberikan contoh dan teladan bagi para guru dengan banyak berkarya dan menghasilkan berbagai artikel tulisan dan buku-buku. Hal ini menjadi motivasi dan inspirasi yang penting bagi para guru. (Catur Nurrochman, M.Pd: 2017)

Memang kebiasaan membaca tidak mudah untuk ditumbuhkan di zaman ini,  mengingat jaman kecanggihan teknologi ketertarikan anak-anak lebih kepada media dari pada kepada buku, kemudian waktu anak lebih banyak dihabiskan di depan televisi dibandingkan untuk membaca. Namun kita mesti meyakini, bahwa melalui gerakan bersama dari seluruh elemen masyarakat, maka suatu saat gerakan literasi ini akan menunjukkan keberhasilan dalam menumbuhkan minat baca yang pesat pada bangsa ini. Akhirnya, untuk mewujudkan generasi yang literat, salah satu cara adalah dengan mengoptimalkan perpustakaan dan sudut kelas sebagai koleksi buku-buku, sekaligus memberikan apresiasi hasil karya siswa dengan memajangnya di dinding kelas. Sementara, peran  guru sebagai role mode yang senantiasa mengoptimalkan kemampuannya dan berusaha menjadi guru literat. Dengan teladan guru literat, maka peserta didik akan menjadi manusia literat yang akan memenangkan peran di era abad 21. Wallahu A’lam (*)

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply