Bupati Minta Distamben Selesaikan

by -

*Soal Tambang Pasir di Padangkandis, Bupati Ingin Situasi Kondusif

TANJUNGPANDAN-Bupati Belitung  Sahani Saleh meminta kepada Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Belitung  untuk segera menindaklajuti persoalan tambang pasir di Desa Padang Kandis, Kecamatan Membalong. Bupati mengharapkan masalah tambang pasir ini segera selesai.
Bupati menegaskan, persoalan tambang pasir ini harus segera selesai, lantaran banyak hal-hal yang juga harus dituntaskan untuk pembangunan Belitung.  Sanem menginginkan Belitung kondusif.  “Dinas pertambangan (Distamben Belitung,Red) harus sesegera mungkin menindaklajuti masalah ini, sehingga jangan sampai aparat keamanan seperti kemarin, turun lagi. Saya juga banyak tugas lain,” kata Sanem.
Menurut Sanem, persoalan tambang pasir yang menyeruak saat ini bukan persoalan izin. Tapi alat yang digunakan menakutkan bagi warga. Alatnya bergerak seperti kapal isap, meski alat itu beroperasinya di darat,  tidak di laut.
“Saat ini persoalan bukan persoalan izin tapi soal alat.  Persoalan penambangan ini sudah menggunakan alat. Yang dulu menambang secara manual dengan eksavator sekarang menambang dengan mesin bergerak di lokasi,” kata Sanem.
Hal inilah yang ditanyakan masyarakat, jangan-jangan ini adalah kapal isap yang ingin menambang timah, di samping menambang pasir. Meskipun pemerintah sudah pernah memediasi masyarakat dan perusahaan  terkait penggunaan alat itu.
“Kami juga sudah menanyakan ke perusahaan kenapa sebelumnya tidak sosialisasi dulu ke masyarakat. Namun, sebenarnya selama ini sudah pernah dimediasi tapi belum paham juga dengan alat itu. Masyarakat  takut merambat dari darat ke laut,”  tukas Sanem, sapaan akrab Bupati.
Sebelumnya persoalan ini sempat ditanyakan oleh Ketua DPRD Kabupaten Belitung Taufik Rizani pada sidang  paripurna, awal pekan ini. Persoalan tambang pasir di Desa Padangkandis ini, lanjut Taufi, lebih pada  alat yang digunakan. Menurutnya,  alat yang dipakai bisa mencapai kedalaman 50 meter sehingga justru menimbulkan tanda  tanya.
“Kemudian  tambang di Padang Kandis itu kalau pasir sembilan meter, kenapa pakai alat sampai 50 meter. Ada apa ini? Saya minta kepada seluruh komisi ini (DPRD,Red) bisa ditindaklanjuti. Kalau dengan alat 50 meter, apa yang diambil. Ini perlu menjadi kajian kita bersama,” tukas Taufik.
Taudik a meminta Pemerintah Kabupaten Belitung segera menuntaskan persoalan ini.
Sementara Fraksi Kebangkitan  Demokrat melalui Wahyu Afandi juga mempertanyakan hal serupa. Wahyu mempertanyakan saat sidang paripurna beberapa hari lalu. Masalah kedalaman hingga 50 meter menjadi hal yang dikhawatrikan bisa memunculkan masalah.
Terpisah, Kepala Desa Padangkandis Mahyudin, kepada Belitong Ekspres, belum lama ini mengatakan, memang masih ada pertanyaan dari warga seputar tambang pasir tersebut. Dirinya sebagai kepala desa hanya bisa menjelaskan, masalah izin dan operasi menjadi wewenang dari Distamben Belitung.
“Saya juga ditanya oleh sebagian warga. Ya saya jelaskan apa adanya, terbuka, karena masalah izin dan sebagainya jadi wewenang Distamben. Maka, atas masalah ini, saya juga serahkan kepada Distamben dan Bupati,’’ terang Kades di sela-sela mengantarkan mahasiswa KKN UGM di Bandara HAS Hanandjoeddin Tanjungpandan, belum lama ini.
Sementara itu, pejabat di Distamben Belitung, termasuk kepala dinasnya belum bisa diminta konfirmasi mengenai masalah ini. Belitong Ekspres yang coba mencari kepala dinas, Kamis (10/9), kemarin, sedang tidak ada di tempat. Sementara pejabat Kabid Pertambangan, menurut staf di kantor Distamben, sedang izin sakit. (ade)