Calon Mahasiswa jadi Pengasuh Bayi

by -

*Program Beasiswa Bagi Siswa Kurang Mampu Ditunda
MANGGAR – Puluhan calon mahasiswa di Kabupaten Belitung Timur yang namanya sempat diajukan dalam program beasiswa perguruan tinggi terpaksa harus bekerja serabutan. Pasalnya program beasiswa bagi siswa kurang mampu tersebut mengalami penundaan.
Selain untuk membantu meringankan beban keluarganya, mereka bekerja sekedar menunggu program beasiswanya tersebut agar dapat kembali dimulai tahun ini.

Seperti yang dilakukan Mulya Puji Astuti (18). Alumni jurusan IPA di SMA Negeri 1 Manggar tahun 2014 ini bekerja sebagai seorang pengasuh bayi sekaligus penjaga toko di rumah majikannya seorang pemilik toko alat-alat otomotif di Desa Padang Kecamatan Manggar.

Saat ditemui di tempat kerjanya, Selasa (3/2) kemarin, raut wajah putri pasangan Mulyadi dan Anggraini ini tampak berseri-seri. Terlebih saat ditanya keinginannya untuk kembali melanjutkan jenjang pendidikan bangku kuliah, Puji langsung semangat bercerita.

“Kami semua sampai sekarang masih berharap, nunggu programnya biar dapat kuliah. Cuma saja sambil nunggu beberapa kawan-kawan ada yang kerja. Kapan pak programnya jalan kembali,” tanya Puji.

Anak pertama dari lima bersaudara ini mengkisahkan bahwa sejak lulus SMA dan diberikan kabar bahwa program beasiswanya dihentikan. Ia memutuskan untuk bekerja sebagai pengasuh bayi. Meski harus bekerja 12 jam, dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 20.00 malam, Puji tidak mengeluh.

“Gajinya lumayan buat bantu keluarga, sekaligus ngumpulin nabung-nabung buat tambahan kalau nanti dapat beasiswa kuliah. Kalau mengharapkan kuliah dari Bapak kasihan, beliau hanya buruh tambang. Mana bapak masih ada adek-adek lain yang harus nafkahi,” ungkap Puji.

Puji yang bercita-cita ingin jadi seorang guru ini menuturkan pada waktu masih duduk di bangku sekolah, Ia selalu masuk peringkat 10 besar di kelasnya. Namanya pernah dimasukkan dalam siswa calon penerima beasiswa kurang mampu oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim, namun sempat terkendala diverifikasi kategori penerima bantuan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

“Saya dan kawan-kawan lainnya berharap mudah-mudahan pemerintah daerah jangan menghapus program beasiswa. Kasihan anak-anak kurang mampu yang punya kemauan tinggi tapi terkendala gara-gara tak punya biaya buat kuliah,” tutur Puji.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim Lindawati Theodore menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Beltim tidak pernah menghapus program beasiswa bagi siswa kurang mampu, penganggaran program beasiswa ini hanya ditunda sementara oleh DPRD Beltim.

“Kita dari dinas setiap tahunnya selalu mengajukan. Malah untuk tahun ini kita mengajukan untuk 100 lebih siswa tapi belum disetujui DPRD. Kemungkinan nanti bulan Oktober lagi pas ABT (Anggaran Belanja Tambahan),” jelas Linda.

Mantan Guru Bahasa Inggris ini melanjutkan meski kemungkinan program beasiswa akan dilanjutkan dengan menggunakan anggaran ABT, namun proses pembayaran ke perguruan tinggi akan menjadi sulit. Meski Dinas Pendidikan sudah melakukan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi dan yayasan baik swasta maupun negeri untuk menampung mahasiswa penerima bantuan beasiswa.

“Harapan kita beasiwa ini memang untuk mengcover bagi mahasiswa kurang mampu. Kalau anggaran keluar di ABT sih bisa, cuman sangat sulit soalnya prosedurnya kan lama. Sementara proses perkuliahan sudah mulai di bulan Juli atau Agustus, biasanya perguruan tinggi sudah minta kontribusi pada awal-awal masuk kuliah,” ujar Linda.

Ditemui terpisah Ketua Komisi III DPRD Beltim Suyuti didampingi Anggota Misyuliani mengakui jika kemungkinan program beasiswa bagi siswa kurang mampu akan kembali dilanjutkan, namun kepastiannya tergantung Dinas Pendidikan. Pria yang akrab dipanggil Uting ini mengharapkan Dinas Pendidikan serius menjelaskan teknis perektrutan dan lain sebaginya.

“Tergantung dinas (Pendidikan). Kalau mereka sudah sip, ok. Baik itu segi perekrutan peserta atau teknis, kalau kita (DPRD) tidak ada masalah. Nanti kita akan kaji terlebih dulu. Kalau perlu kita harus koreksi, tidak bisa menentukan jumlahnya berapa yang mesti dibantu. Pokoknya semua harus jelas,” kata Uting. (hms/red)