Cegah Paham Radikal di Warga Binaan dan Guru

by -

MUNTOK – Polres Bangka Barat (Babar) melaksanakan sosialisasi sebagai upaya mencegah menyebarnya paham radikal di kalangan warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Muntok. “Kegiatan ini kami laksanakan untuk mencegah terorisme dan tindak kekerasan lain dengan mengusung sentimen keagamaan,” kata Kepala Satuan Intelkam AKP Anwar Panuju Widodo, Sabtu (28/11).
Ia mengatakan, sosialisasi dan pembinaan yang dilakukan Polres Bangka Barat bersama Polda Babel di Rutan Muntok tersebut untuk memberikan pemahaman kepada seluruh warga binaan terkait aksi terorisme yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang harus diantisipasi bersama. “Kami sengaja melaksanakan di Rutan Muntok karena warga binaan bisa saja menjadi target rekrutmen para teroris,” kata dia.
Di hadapan para warga binaan, Anwar menegaskan paham radikal tidak benar dan harus dicegah perkembangannya karena seluruh agama tidak mengajarkan aksi kekerasan dan kekejaman. “Agama apapun tidak mengajarkan berbuat kejam dan saling menyakiti antarsesama,” kata dia. Menurut dia, Islam merupakan agama yang membawa rahmat, keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta.
Direktorat Intelkam Polda Babel diwakili AKP Robertus pada kesempatan itu menyampaikan pentingnya pencegahan bersama untuk menjaga situasi kondusif di Babel. Pada kesempatan itu, ia juga memberikan materi terkait isu-isu dan paham radikal yang ada di Bangka Belitung. “Kami berharap melalui kegiatan ini para warga binaan mampu membentengi diri masing-masing sehingga tidak masuk dalam aliran yang mengarah kepada aksi teror dan kekerasan,” kata dia.
Serupa, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Babel juga menyelenggarakan dialog pencegahan terorisme di kalangan pendidik dan guru sekolah menengah pertama dan menegah atas serta perguruang tinggi se-Kabupaten Bangka di Hotel Tanjung Pesona Sungailiat. Kegiatan yang diikuti guru-guru mulai dari kecamatan Merawang, sampai dengan kecamatan Belinyu ini dibuka Asisten Administrasi Umum Setda Bangka, Surtam A. Amin yang mewakili Bupati Bangka.
Surtam dalam arahannya mengungkapkan maraknya isu dan aksi terorisme yang berkembang dan terjadi di belahan dunia, termasuk di wilayah Indonesia, diharapkan dapat terus meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan terhadap bahaya terorisme ini. “Saya harapkan para peserta dapat lebih membuka pikiran, sehingga dapat memberikan pengetahuan terhadap anak didik dan lingkungan juga terhadap terorisme yang berkembang di masyarakat,” jelas Surtam.
Sementara itu Nardi Pratomo selaku Ketua forum Koordinasi Pencegahan Terorisme  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan, kegiatan yang melibatkan tenaga pendidik, termasuk juga pemuda, tokoh agama dan termasuk media massa juga diharapkan dapat memberikan pencerahan, terutama tenaga pendidik yang yang berhadapan dengan murid di dalam kelas dan dapat menjelaskan akan bahayanya terorisme dan radikalisme.
“Guru ini sangat strategik, karena mereka ini merupakan ujung tombak dan intens bertemu dengan murid setiap hari,apalagi usai SMP dan SMA merupakan usia yang masih labil dan mudah dipengaruhi,” jelas Nardi. Nardi berharap dengan adanya dialog ini, guru mendapatkan pemahaman kepada siswa.
“Suara guru ini sangat didengar para siswa, dan targetnya guru dapat menyampaikan bahaya terorisme dan radikalisme,” harapnya. Kegiatan ini juga lanjut Nardi memberikan gambaran seperti apa kerawanan terorisme dan radikalisme di Bangka dan masukan guru dapat menjadi salah satu ide untuk dimasukkan dalam kegiatan tahun 2016 mendatang.
“Alhamdullilah Bangka Belitung ini relatif aman, dan jangan dikatakan tidak ada, ada sinyal-sinyal namun belum menguat, hanya sebagai tempat persinggahan sementara, potensi juga ada, mungkin masuk dari luar, dan menyebarkan melalui sekolah dan kampus-kampus, dan hal ini yang harus kita cegah dan antisipasi,” tukasnya.(rel/ant/rb)