Daging Ayam di Beltim Goyang

by -

*Pemerintah Tetap Berupaya Kendalikan

foto A- daging ayam pasar
Para pedagang Ayam Di Pasar Lipat Kajang sedang melayani konsumen.

MANGGAR-Meski Pemerintah pusat menyatakan stok daging ayam untuk hari raya ini berlimpah, namun tidak demikian halnya di Kabupaten Belitung Timur (Beltim). Sebab, di Beltim, kini persediaan daging mulai berkurang.
Berkurangnya stok daging ayam di Kabupaten Beltim membuat pedagang resah. Selain membuat keuntungan pedagang berkurang, stok yang kurang akan membuat harga daging ayam meningkat.

Pantauan Tim Monev, harga kebutuhan pokok Pemkab Beltim di Pasar Lipat Kajang Manggar, Pasar Laskar Pelangi Gantung dan Pasar Kelapa Kampit, Kamis (2/6) kemarin, beberapa kios/plank pedagang ayam banyak yang tutup. Di Pasar Lipat Kajang misalnya, dari 15 plank yang biasa berjualan ayam, hanya 7 yang masih melayani pembeli.
Lantas, harga per kilogram, daging ayam berkisar diantara Rp 42 ribu hingga Rp 45 ribu. Harga ini sudah naik sejak dua minggu yang lalu. Kondisi ini disebabkan berkurangnya stok daging. Normalnya harga perkilo daging dikisaran Rp 30.000 hingga Rp 35.000/ kg.

Salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Lipat Kajang, H. Masyudin (61) mengungkapkan, berkurangnya stok daging ayam di pasaran disebabkan jatuhnya harga daging ayam beberapa bulan lalu. Sebab, stok yang melimpah. Hal ini membuat peternak ayam mengurangi jumlah ternaknya.

“Sekarang harganya di kisaran Rp 45.000, ini gara-gara stok kurang. Kawan-kawan juga banyak yang dak jualan gara-gara gak ada stok, kawan-kawan masih berusaha mencari stok daging ke peternak,” ungkap H. Masyudin.
Menurut Pak Din, panggilan akrab H. Masyudin, stok daging ayam seluruhnya dipasok dari peternak di Kabupaten Beltim. Saat ini untuk satu ekor ayam yang belum diolah, pedagang berani membeli dengan harga Rp 29.000 per kilo. Sedangkan untuk mengambil dari peternak yang ada di Kabupaten Belitung sudah mencapai Rp 31.000 per kilo.
“Mudah-mudahan nanti turun sebelum lebaran, cuman tergantung stok. Sekarang ini pasar juga sedang sepi, kita kasihan sama pembeli. Ekonomi sedang lesu, cuman mau diturunkan kasihan peternak,” sebut Pak Din.
Saat ditanya apakah ada kemungkinan “Mafia” daging ayam yang bermain, Ia langsung membatah. Ia menyatakan ini murni karena pengaruh stok bukan karena ada yang bermain.

Sementara itu, salah seorang peternak ayam di Kabupaten Beltim, Wahyu (54) kepada wartawan, Jum’at (3/6) kemarin, menjelaskan berkurangnya stok ayam di Kabupaten Beltim diakibatkan karena banyak peternak enggan untuk memelihara ayam dalam jumlah besar. Keenggan itu dikarenakan peternak sering rugi gara-gara fluktuasi harga daging yang sering berada di level rendah.

“Di kandang Saya juga habis, Kita peternak memang selama ini tidak pernah memiliki posisi tawar terhadap harga, semuanya ditentukan oleh pasar. seperti beberapa bulan lalu, harga daging ayam sampai Rp 16.000 per kilo, sedangkan harga bibit ayam dengan pakannya naik. Dan tentunya Kita mengalami kerugian,” keluh Wahyu.

Ke depannya, Ia berharap pemerintah melalui dinas terkait akan dapat memberikan perhatian terhadap peternak ayam. Perhatian ini bisa berupa pemberian informasi oleh penyuluh ternak, bantuan pinjaman modal, ataupun kepastian harga pasar untuk melindungi peternak.

“Yah kita dari peternak dak banyak-banyak mintanya. Tolong sekali-sekali penyuluh itu turun, biar kami dapat pengetahuan. Terus juga bantuan pinjaman modal, soalnya kita kadang udah rendah harganya, bayarnya juga sampai satu bulan. Kan dak bisa putar modal,” tuntas Wahyu yang sudah 7 tahun beternak ayam pedaging. (feb)