Dampak Covid-19, Daya Beli Masyarakat Belitung Meningkat, Tapi Masih Bijak

by -
Dampak Covid-19, Daya Beli Masyarakat Belitung Meningkat, Tapi Masih Bijak
Owner Babel Mart Vina Cristyn Ferani memperlihat stok sembako yang masih aman untuk kebutuhan masyarakat Belitung, Rabu (18/3).

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN– Pasca diterbitkannya surat edaran tentang intruksi dalam mencegah penyebaran Covid-19 di Kabupaten Belitung, daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok, termasuk susu formula mengalami peningkatan.

“Pembelian sembako dan susu formula memang meningkat, tetapi masih dalam batas yang wajar. Masyarakat jangan panik, kami masih mempunyai stok yang cukup dan pengiriman barang dari suplayer masih berjalan normal,” kata Owner Babel Mart Vina Cristyn Ferani kepada Belitong Ekspres, Rabu (18/3).

Menurut Vina, sejak terbitnya surat edaran dari Bupati Belitung tentang instruksi dalam upaya mencegah penyebaran virus COVID-19 di Kabupaten Belitung, sejumlah pusat perbelanjaan, termasuk mini market miliknya ramai diserbu pembeli.

“Malam itu juga, langsung super market dan apotik di serbu pembeli. Memang ada peningkatan untuk sejumlah produk. Tetapi, tidak ada yang memborong atau membeli dalam jumlah yang berlebihan,” sebut Vina yang juga anggota DPRD Belitung.

Oleh sebab itu, dirinya memberikan apresiasi kepada masyarakat Belitung karena perilaku masyarakat dalam berbelanja masih bijak, meski berita penyebaran virus Corona sangat gencar beredar.

“Saya lihat masyarakat masih bijak dalam berbelanja. Untuk mengantisipasi meningkatnya daya beli masyarakat, stok sejumlah barang-barang yang ada di kami, jumlahnya kami tingkatkan terutama di sembako dan susu formula,” ujarnya.

Ia meminta kepada Pemerintah Daerah agar dalam mengambil keputusan terkait pencegahan dan penanganan COVID-19 tidak dengan tergesa-gesa dan berhati-hati dalam mengeluarkan istilah “lock down”.

“Sebagai anggota dewan saya, mengapresiasi tindakan preventif yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Namun, jangan sampai keputusan yang terburu-terburu dan tergesa-gesa menimbulkan kepanikan di masyarakat,” tegasnya.

“Sebab “lock down” bisa menimbulkan persepsi bahwa suatu daerah sudah harus di isolasi dan aksesnya ditutup karena berada dalam situasi gawat. Dan hanya Pemerintah Pusat yang boleh mengeluarkan status tersebut,” pungkasnya. (rez)