Dampak Wabah Covid-19, Pendapatan Pajak Kendaraan Samsat Beltim Turun Drastis

by -
Dampak Wabah Covid-19, Pendapatan Pajak Kendaraan Samsat Beltim Turun Drastis
Masyarakat yang akan membayar pajak kendaraan tampat rapi antri dengan mengikuti protokol kesehatan.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Pendapatan Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Air Permukaan di Unit Pelaksana Teknis Badan Keuangan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (UPT Bakuda Babel) Wilayah Belitung Timur (Beltim) mengalami penurunan drastis. Lesunya perekonomian akibat Covid-19 jadi faktor penyebab utama penurunan pendapatan.

Hingga Mei 2020 ini, realisasi pendapatan masih di bawah 40 persen. Realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) baru mencapai Rp 7,2 miliar dari target Rp 22 miliar atau 31,91 persen.

Pendapatan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) jauh lebih drastis, yakni baru Rp 3,6 miliar dari Rp 23 miliar atau 16,42 persen. Namun kondisi berbeda dengan Pajak Air Permukaan (PAP), yang sudah mencapai 52 persen atau memperoleh Rp 2,4 miliar dari target Rp 4,7 miliar.

Ditemui di ruang kerjanya, Rabu (24/6), Kepala UPT Bakuda Samsat Beltim Alexander Ihsan mengatakan penurunan PKB karena adanya penangguhan pembayaran, mengingat sejak 23 Maret hingga 30 Juni 2020 ini Samsat Babel memberikan penangguhan PKB bagi yang jatuh tempo.

“Kebetulan Layanan Samsat Keliling dan SETEMPOH kita juga belum jalan. Orang mungkin masih takut untuk bayar pajak ke sini, padahal kita sudah jalankan protokol kesehatan,” kata Alex.

Sedangkan untuk penurunan BBNKB, Alex menyebut faktor ekonomi akibat COVID jadi penyebab utama. Mengingat Pajak dari pembelian motor baru ini sangat erat hubungannya dengan daya beli masyarakat.

“Biasanya kalau mau lebaran banyak yang beli motor baru, nah kalau tahun ini kondisinya berbeda. Akibat Covid ini ekonomi lesu, daya beli masyarakat pun jauh berkurang,” ujarnya.

Terkait PAP, meski sudah mencapai lebih 50 persen dari target, Alex memprediksi akan ada pengurangan pendapatan. Sebab, permintaan terhadap komoditas dan penerapan sistem kerja yang diberlakukan perusahaan membuat penggunaan air permukaan berkurang.

“Pas April ini sudah terasa efeknya, biasanya perbulan kita sudah terima Rp 500 – Rp 600 juta, sekarang hanya Rp 375 juta. Apalagi dari informasi jumlah permintaan berkurang dan ada pengurangan jam bekerja,” ungakp Alex.

Kondisi ini diakui bukan hanya dialami di UPT Samsat Beltim namun juga di seluruh Samsat di bawah Bakuda Provinsi Babel. Namun ia berharap dengan adanya penerapan new normal kondisi ekonomi akan berangsur-angsur membaik.

“Mudah-mudahan nanti membaik. Soalnya kalau kondisi ini terus terjadi akan berimbas terhadap dana bagi hasil dari Provinsi ke Kabupaten Beltim, yang otomatis akan berkurang,” tandas Alex. (rel)

Editor: Yudiansyah