Danau Nujau Mampu Produksi 2 ton Per Hektar

by -

*Stok Padi Menumpuk Saat Musim Panen Tiba

foto A- beras nujauHindani alias Senggong menunjukan hasil beras yang baru saja diproses dari padi yang masuk di mesin penggilingan padi miliknya di Danau Nujau Gantung, Jumat (27/2) kemarin.

GANTUNG – Hasil produksi beras di Persawahan Danau Nujau Desa Gantung, Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Timur (Beltim) kini mampu menghasilkan 2 ton beras per hektarnya. Petak sawah seluas satu hektar, di lahan sawah yang digarap petani di Danau Nujau tersebut juga mampu menghasilkan gabah kering mencapai 4,5 hingga 4 ton.
Hal itu dikatakan petani Danau Nujau, Hindani didampingi Ketua Gapoktan Danau Nujau, Ahmad Julianto saat ditemui Belitong Ekspres di sela-sela kegiatan penggilingan pagi di kawasan Danau Nujau Gantung, Jumat (27/2) kemarin.

“Contoh, rata rata beras yang dihasilkan oleh kelompok tani, seperti kelompok Sinar Tani, sebanyak 2 ton beras bersih per hektarnya. Kelompok memproduksi beras mencakup dari kisan luas sawah 33 hektar dari 38 hektar yang ditanami. Sedangkan 5 hektarnya gak bisa dipanen karena lahan berpasir,”ungkap Hindani yang juga pemilik mesin penggiling padi di Danau Nujau Gantung.
Menurut pria yang akrab disapa Senggong, saat ini persediaan padi di gudang/penggilingannya memang tidak sebanyak sewaktu mereka panen. Terkecuali memang saat musim panen raya tiba.

“Kabar mengenai persediaan padi di Danau Nujau saat ini menumpuk, itu tidaklah benar. Lihatlah di gudang penggilingan kami, tidak ada stok yang sebelumnya dikatakan menumpuk,” ungkap Senggong sembari menunjukan stok yang memang tidak nampak di gudang penggilingan padinya.

Stok padi menumpuk memang benar, tapi menurutnya itu terjadi jika petani baru melakukan panen. “Panen untuk tahun ini mungkin akan ada di bulan Maret-April mendatang, dan biasanya 1 tahun petani danau nujau, bisa panen 2 kali yakni bulau Maret-April. Kemudian tanam dan pada bulan September kembali mereka panen, kalo saat ini sih paling hanya buat persedian sehari hari saja,” terangnya.
Dari hasil 2 ton beras per hektar para petani biasanya menjual dengan para pemilik warung warung yang ada di pelosok desa di Beltim. “Setelah panen biasanya para petani menjual hasil panennya kepada pelanggan mereka, yakni pemilik warung warung yang ada pelosok dan beras itu kemudian kembali mereka jual di warungnya,” ungkap Senggong.
Senggong menambahkan setiap petani yang akan menggiling di penggilingan miliknya hanya mengambil upah per 1 kilogram dari jumlah 10 kilogram yang mereka terima. Sebagian ada juga yang membayar dengan upah Rp.1000 untuk 1 kg beras dan seterusnya.

Penggilingan padi miliknya kini sudah berjalan sekitar 10 tahun dan hampir setiap hari ada yang melakukan penggilingan di tempatnya itu. “Saat ini ada dua tempat penggilingan padi yang ada di Danau Nujau, satunya milik pemerintah dan satunya lagi milik saya sendiri,” terangnya.
Senggong juga menyambut baik jika ke depan Pemerintah akan mengambil hasil panen mereka. Namun dengan catatan harus mengemas dengan baik rencana ini, apalagi saat ini pemerintah kembali mengkedepankan swasembada pangan nasional. (feb)