Demam Batu Akik Mulai Mereda

by -

*Pedagang Mengaku Sepi Pembeli dan Omset Menurun
MANGGAR – Demam batu akik yang sempat melanda tanah air sepertinya mulai mereda. Setelah booming diakhir tahun 2014 hingga menjelang lebaran kemarin, batu akik saat ini sepi peminat. Masyarakat seakan lupa dengan hingar bingar batu berharga yang konon kabarnya pernah dihargai ratusan hingga milyaran rupiah.
Sepinya peminat batu Akik tersebut, juga terjadi Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur (Beltim). Sejumlah beberapa penjual batu Akik mengaku omsetnya jauh berkurang.
Salah seorang penjual batu akik, Sigi Silius Putra (23) menyatakan keuntungan yang diperolehnya jauh berkurang. Bahkan selama tiga bulan belakangan ini, Ia terpaksa harus mengurangi harga penjualannya hingga setengah kali, agar pembeli tak lari.
“Sepi pak, sudah dua-tiga bulan belakangan ini. Berat sekarang, dulu ramai yang beli, sekarang sih mulai jarang,” ungkap Sigi saat ditemui wartawan, Jum’at (11/9) kemarin.
Pemilik Toko Batu Akik ‘Agi Tempias’ di Jalan Darussalam Kecamatan Manggar, di depan Rumah Makan Fega ini kembali mengatakan omset penjulannya jauh berkurang.
Diakuinya, jika dulu saat sedang maraknya batu akik, dalam sehari Ia bisa memperoleh keuntungan bersih Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta lebih. Namun saat ini, Ia hanya sanggup mendapatkan Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.
“Itu pun banyak dibantu oleh yang ngasah. Kalau penjualan batunya merosot tajam. Kayak Kinyang Teh, Rambut dan lain-lain duluk kita jual Rp 400 – 500 ribu sekarang paling Rp 200 sampai Rp 250 ribu, itu pun masih sepi,” ujar Sigi.
Sigi yang sudah hampir satu tahun berkecimpung dalam dunia batu ini menenggarai hilangnya demam batu akik serta merosotnya harga jual, akibatkan krisis ekonomi dan persaingan harga antara sesama penjual batu akik.
“Selain krisis, karena banyaknya persaingan. Kita kan tidak ada wadah, jadi pas demam batu berkurang kawan-kawan mulai perang harga itu lah sebabnya harganya jauh turunnya,” ujarnya berkisah.
Hal sama juga diungkapkan oleh Dika Suhendra (34) pengerajin ring atau cincin tempat batu ‘Anugrah’ di kawasan Numpang Empat Desa Mekar Jaya Kecamatan Manggar.
Pria perantauan asal Kota Padang Sumatera Barat ini mengaku kondisi ini sudah mulai terjadi seusai lebaran lalu. Namun Ia mengakui jika saat kunjungan Presiden RI, Joko Widodo saat Bulan Ramadhan lalu, keuntungan berlipat-lipat.

“Dulu paling banyak yang mesan ring atau beli batu akik saat puasa. Itu keuntungannya sampai dua juta lebih perhari. Sekarang sih, cuman cukup buat makan saja pak. sekarang banyak yang datang cuman buat nanya-nanya harga aja,” kata Dika.
Namun Ia optimis suatu saat nanti demam batu akik kembali akan mewabah. Untuk itu, Ia berharap pemerintah daerah ataupun swasta akan melakukan terus promosi dan banyak menyelenggarakan kontes batu, supaya demam batu dapat kembali dibangkitkan.
“Memang kemungkinan ini lebih banyak disebabkan oleh krisis ekonomi. Namun Insyaallah saya optimis, nanti akan kembali. Pas nanti ada kontes biasanya juga naik lagi,” harapnya.
Disisi lain, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Koperasi (Disperindagkop), Kabupaten Beltim, Syahrial mengakui jika saat ini para pengerajin batu dan UMKM Batu Kinyang sedang lesu. Ia menyatakan kondisi ini sama dengan daerah lain di Indonesia.
“Bukan hanya Batu Kinyang, batu akik lainnya pun turut kena imbas krisis ini. Insyallah nanti jika bangsa kita keluar krisis demamnya akan kembali,” harap Syahrial.
Untuk kembali merangsang kecintaan terhadap batu kinyang dan mendongkrang penjualan, pria yang juga kolektor batu akik ini menyatakan akan menggelar kontes batu kinyang.
“Insyaallah saat Sail Tomini yang akan dilaksanakan bulan depan, kita akan adakan kontes batu dan bazar batu di Pantai Serdang. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini orang kembali akan giat lagi untuk ngasah batu,” pungkasnya. (feb)