Dinamika ‘Guru Smart’

ilustrasi guru. Foto : Dok JPNN

 Oleh: Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjung Pandan

RajaBackLink.com

PERSOALAN daya pikat guru terhadap anak didik, bukanlah terlihat dari kecantikan atau ketampanan wajahnya. Namun, daya pikat dan pesona guru tergambar dari empat kompetensi; yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial plus, sikap dan perilaku yang menghiasi hidupnya dengan keteladanan. Daya pikat guru itulah yang akan mampu mengambil hati anak didik.

Erwin Widiasworo (2014), dalam buku “Rahasia Menjadi Guru Idola” mempertanyakan, bagaimana seharusnya menjadi seorang guru yang benar-benar ‘smart’, guru yang dapat dengan mudah membimbing dan mengarahkan siswa menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki karakter yang baik? Untuk menjadi ‘guru smart’, guru harus menata diri, memperbaiki hal-hal yang kurang tepat dilakukan oleh guru, dan senantiasa melakukan apa yang disebut belajar sepanjang hayat. ‘Guru smart’ bukan hanya guru yang ‘digugu dan ditiru’ saja, melainkan guru yang cerdas dan bijak dalam menjalani profesinya. Dengan demikian, ‘guru smart’ adalah guru yang selalu menjadi idola, ditunggu, dan dirindukan setiap kehadirannya, tetapi tetap disegani.

Tugas utama guru sudah jelas adalah pencetak ‘generasi smart’ yang kaya imajinasi dan partisipasi. Karena itu, guru menjadi titik sentral dan awal dari semua pembangunan pendidikan. Untuk menghadapi situasi dan kondisi demikian, dibutuhkan ‘guru smart’. ‘Guru smart’ diyakini mampu menghantarkan anak didik berpikir kreatif, terampil, dan berkarakter menuju masa depannya.

Dalam kamus Inggris-Indonesia (Jhon M. Echols dan Hassan Shadily); ‘smart’ artinya cerdas, pintar, dan bijak. Dalam koteks ini ‘guru smart’ adalah guru yang serba bisa dan pandai membimbing siswa meraih prestasi, mampu berperan aktif, dan memberikan teladan bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.

Baca Juga:  RELASI KEKUASAAN DAN PENGETAHUAN

Menurut Wijaya Kusuma ‘guru smart’ adalah guru ideal untuk abad 21, yaitu sosok guru yang mampu menjadi panutan dan keteladanan siswa. Ilmunya seperti mata air mengalir yang tak pernah habis. Semakin diambil semakin jernih airnya, bening dan menghilangkan rasa dahaga anak-didik yang meminumnya.

Karena itu guru smart adalahguru yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan moral, kecerdasan sosial, kecerdasan emosional, dan kecerdasan motorik. Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan moral, mengapa? Sebab, kecerdasan intelektual yang tidak diimbangi dengan kecerdasan moral akan menghasilkan peserta didik yang hanya mementingkan keberhasilan ketimbang proses. Segala cara dianggap halal, yang penting target tercapai. Inilah yang terjadi pada masyarakat kita, sehingga kasus korupsi merajalela di kalangan terdidik. Karena itu, kecerdasan moral akan mengawal kecerdasan intelektual, sehingga ia mampu berlaku jujur dalam situasi apa pun (Supriyono, 2011).

Guru smart harus lebih dinamis dalam memanfaatkan sumber-sumber informasi. Karena dalam era millenial saat ini, arus informasi dapat muncul dari berbagai media. Akibatnya, guru tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling tahu terhadap berbagai informasi dan pengetahuan, yang pada akhirnya, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah siswa. Dampak akademisnya adalah informasi dan ilmu pengetahuan yang diperoleh guru semakin cepat usang. Dampak pedagogisnya ialah semakin terbukanya jalan bagi siswa untuk mencari kebenaran yang bersumber pada media informasi selain guru. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional.

Sekali lagi, guru memiliki peran yang sangat besar dalam pendidikan, selain megantarkan anak didik dalam proses pembelajaran guru juga pelopor terhadap upaya memecahkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan pengetahuan, sikap dan nilai-nilai maupun keterampilan hidup anak didiknya. Tidak semua orang bisa mengemban amanah menjadi guru. Menjadi pendidik atau guru yang benar-benar profesional dalam menjalankan tugasnya adalah keniscayaan. Untuk mengemban tugas mulia ini, tuntutan untuk mencintai, menghargai, serta meningkatkan tanggung jawab profesi, sejatinya tumbuh dari hati nurani. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memiliki peranan besar dalam dunia pendidikan dan pembelajaran sekarang ini. Dengan TIK telah memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar jarak jauh. Melalui pembelajaran jarak jauh (e-learning) ini, interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dapat dilakukan melalui hubungan tatap muka di kelas, tetapi dapat dilakukan di luar kelas dengan menggunakan media komunikasi seperti  internet (daring), dan e-mail.

Baca Juga:  MISTERI DAN HISTERIA DALAM POLITIK

Oleh karena itu, guru smart perlu memiliki ‘selling skill’, yaitu “keterampilan menjual” produk pembelajaran, yakni dengan meningkatkan keahlian dan keterampilan mengajar dengan menguasai berbagai metode dan strategi pembelajaran. Di samping juga menguasai teknologi pengajaran dengan multimedia yang sangat beragam. Pembelajaran yang variatif dengan multimedia akan menjadi daya pikat tersendiri bagi anak didik untuk belajar bersama gurunya. Dengan demikian guru akan mampu mendorong tumbuhnya kreativitas dan aktivitas belajar anak didik menuju generasi emas. Untuk menghadapi tantangan ini, ‘guru smart’ secara proaktif harus melakukan pembaruan ilmu pengetahuan yang dimiliki secara terus menerus berkembang. Pada prinsipnya ‘guru smart’ harus konsisten pada tugas mendidik tidak melenceng dari tujuan utama yakni “memanusiakan manusia” dengan konsep ilmu-amal, dan takwa disertai dengan pembelajaran yang menyenangkan. Sudahkah Anda Menjadi ‘Guru Smart’ yang dirindukan anak didik? Semoga!  Wallahu ‘Alam (*)

Rate this article!
Dinamika ‘Guru Smart’,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply