Dindik Beltim Pastikan Sekolah Terima Peserta Didik Sesuai Zonasi

by -
Kepala Dindik Beltim
Kepala Dindik Beltim, Amrizal

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Permendikbud nomor 1 tahun 2021 tentang penerimaan peserta didik baru jenjang TK, SD, SMP, SMA dan SMK dinilai masih sama dengan Permendikbud tahun sebelumnya. Meski demikian, Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Beltim tetap akan memastikan semua sekolah menerima peserta didik dalam wilayah zonasi yang telah ditetapkan.

“Untuk PPDB 2021-2022, Dindik Beltim berdasarkan Permendikbud nomor 1 memang kalau kita lihat tidak jauh berbeda dengan yang PPDB tahun kemarin. Jadi langkah-langkah yang kita ambil tentunya hampir samalah dengan tahun kemarin,” ujar Kepala Dindik Kabupaten Beltim Amrizal, Jum’at (1/29).

Amrizal menegaskan, saat ini yang dilakukan Dinas Pendidikan adalah memetakan kuota sekolah terutama tingkat SMP. Hal ini guna memastikan daya tampungnya setiap sekolah sehingga sekolah yang melebihi daya tampung dapat dialihkan ke sekolah lainnya. “Kita menggunakan sistem zonasi, tetap diatur seperti tahun kemarin dengan Perbup,” ujarnya.

Berdasarkan pengalaman, Amrizal menyatakan sistem zonasi sering bermasalah di jenjang Sekolah Dasar. Pasalnya masih ada sekolah-sekolah yang menerapkan baca tulis hitung (calistung). Padahal aturan yang melarang penerapan tersebut sudah lama tidak boleh menjadi tes masuk SD.

“Apa yang menjadi dasarnya adalah zonasi dan usia. Usia mereka lah yang menjadi dasar mereka diterima atau tidak selain zonasi, jarak dari rumah ke sekolah. Kalau usia yang tinggi, itu yang wajib diterima di sekolah yang zonasinya penuh,” katanya.

Menurut Amrizal, sesuai Permendikbud usia anak sekolah adalah tujuh tahun atau minimal berusia 5 tahun 6 bulan. “5 tahun 6 bulan kurang sehari, tetap tidak bisa. Jadi harus pas (usia) pada saat penerimaan masuk sekolah,” sebut Amrizal.

Yang terjadi, kata Amrizal, orang tua seringkali memaksakan anaknya yang belum sampai usai masuk sekolah dasar dengan segala alasan. Padahal resiko yang bakal dihadapi adalah anak tidak terdaftar di dapodik.

“Ketika di entry namanya, tidak masuk. Kita tidak mungkin membohongi data karena sudah terdaftar dan tersistem. Saya harapkan orang tua ya tidak usah buru-buru memasukkan sekolahnya. Tujuh tahun atau 6 tahun lebih justru lebih siap,” jelasnya.

Menurutnya, usia anak-anak sebenarnya ada masa peka. Masa peka adalah anak-anak dapat mengembangkan suatu kemampuan dia sendiri siap mengikuti pembelajaran. Sebab apabila belum siap, maka diajar membaca malah bermain.

“Saya berharap menyiapkan anak bukan baca, tulis, hitungnya tapi menyiapkan usia yang masuk. Kalau dibawah itu, tunggulah tahun depan akan lebih siap belajar, lebih bagus dan otot motoriknya lebih siap. Kemampuan otak juga siap dan membantu anak berkembang, bisa lebih maju,” harapnya.

Amrizal menegaskan Dinas Pendidikan berkewajiban menjamin setiap anak di usia sekolah masuk di jenjangnya. Justru Dinas Pendidikan khawatir anak dibiarkan putus sekolah.

“Kalau tahun kemarin, semua sekolah mempunyai kuota yang sesuai direncanakan. Saya harap tahun ini juga sama, dengan zonasi kita harapkan tidak lagi istilah sekolah favorit. Jadi tetap ada jalur prestasi, jalur zonasi dan mutasi,” pungkasnya. (msi)