Dinkes Bangka Sebut Pasien Diduga Corona di Sungailiat Belum Positif

by -
Virus Corona Sungailiat

belitongekspres.co.id, SUNGAILIAT – Pasien asal Sungailiat, Kabupaten Bangka yang diisukan terkena virus corona oleh beberapa pihak tertentu belum dinyatakan positif corona. Pasien tersebut baru menjalani masa karantina dan dalam pengawasan layaknya mahasiswa Indonesia asal China yang di karantina di Pulau Natuna, Kepulauan Riau beberapa waktu lalu. Banyaknya informasi yang seolah memvonis pasien tersebut telah positif terjangkit virus corona membuat stakeholder kesehatan di Kabupaten Bangka bertindak cepat.

Kepala Dinas Kesehatan melalui Sekretaris Dinas, Harmendo didampingi Nora Sukma Dewi selaku Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan memaparkan perkembangan pasien yang diinformasikan menderita corona itu.

Dijelaskan Nora Sukma Dewi saat ditemui di ruang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Senin (17/2), pihaknya mendapat informasi dari whatapps pada Minggu (16/2) sore soal adanya pasien terindikasi virus corona. Lalu melalui petugas surveilance Dinas Kesehatan melakukan pemantauan terhadap kasus kategori darurat seperti wabah itu.

“Kita ada pasien yang dirawat di salah satu rumah sakit swasta dan mengarah ke sana (corona). Mengarah ke sana dalam arti dia memiliki riwayat demam, batuk, pilek dan memiliki riwayat jalan ke negara yang terjangkit dalam waktu 14 hari sejak timbulnya gejala,” kata Nora Sukma Dewi.

Lalu pihaknya berkoordinasi dengan bidang pencegahan dan pengendalian Dinas Kesehatan Babel, Kepala Dinas Provinsi Babel dan Kepala Dinas Kabupaten Bangka untuk mendatangi rumah sakit tersebut guna melaksanakan penyelidikan edminologi. Setelah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit kemudian dilakukan pengisian form penyelidikan hingga mewawancarai keluarga pasien sesuai standar arahan Kemenkes RI untuk penanganan pasien terduga corona.

“Pasien ini memang berusia 70 tahun memiliki riwayat perjalanan ke Singapura pada tanggal 5 Februari melalui Jakarta. Dari Bangka ke Jakarta dulu lalu ke Singapura untuk kontrol kesehatan ke salah satu klinik, karena beliau juga menderita sakit kronis antara lain asma, hipertensi dan jantung juga,” katanya.

Selama satu hari di Singapura lalu pasien laki-laki tersebut tanggal 7 Februari kembali ke Indonesia dan sempat singgah di Jakarta beberapa hari. Lalu kembali ke Bangka pada Senin tanggal 10 Februari. “Beliau mendapatkan kartu kuning namanya alert card buat penumpang yang bepergian ke negara terjangkit virus itu. Kartu itu satunya buat petugas, satunya buat penumpang. Ketika dia memiliki keluhan dia harus ke rumah sakit membawa kartu itu,” terangnya.

Sebelumnya secara prosedur kartu tersebut didapatkan saat yang bersangkutan berada di bandara. Namun ketika pulang ke Bangka, pada hari Sabtu (15/2) lalu mengalami demam, batuk, sesak nafas hingga sakit tenggorokan yang kemudian Sabtu malam dibawa ke unit gawat darurat salah satu rumah sakit swasta di Sungailiat.

Setelah menjalani perawatan pada Minggu (16/2) pagi diketahui pasien pernah berpergian ke Singapura hingga informasi itu sampai ke Dinkes Bangka pada Minggu sore. Sesuai formulir standar Kemenkes RI pasien tersebut masuk kategori dalam pengawasan. “Dia masuk kategori dalam kasus pasien dalam pengawasan. Artinya kalau dalam pengawasan beliau ini harus dirujuk, dirawat di rumah sakit rujukan,” sebutnya.

Dalam hal ini bila melihat waktu keberangkatan ke Singapura tanggal 6 Februari maka waktu pengawasan 14 hari akan berakhir 19 Februari nanti. Hasil pasien tersebut positif atau negatif virus corona nantinya akan ditentukan pihak rumah sakit.
Sejauh ini ia tegaskan, pasien masih dalam pengawasan sebagai standar penanganan pasien dengan indikasi virus corona yang antara lain pergi ke negara terjangkit serta. memiliki gejala sakit tertentu. Petugas medis pun dalam menangani pasien telah menyiapkan standar rujukan, berkoordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan Pangkalpinang, menyiapkan alat perlindungan diri standar bagi petugas medis.

Pasien tersebut dirujuk ke RSUP Babel sebagai rumah rujukan Kemenkes RI dan pihak Provinsi Babel. Secara penyelidikan edminologi penyakit pasien tersebut hingga petugas dan keluarga masih dipantau dan terus dilakukan edukasi terkait pencegahan penyakit tersebut.

“Sebenarnya penyakit corvit19 (corona) ini adalah virus yang bisa sembuh dengan sendirinya, dengan catatan daya tubuh kita baik. Beliau kan sudah lansia, usianya sudah 70 tahun. Tapi mudah-mudahan nanti setelah 14 hari pasien itu negatif,” harapnya.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Harmendo mengatakan, pasien inisial Nj terus dilakukan pemantauan. Masyarakat diharap tidak resah atas informasi yang beredar. Pemerintah menaruh perhatian serius sebagai langkah pencegahan agar virus mematikan asal China itu tidak menyerbar ke Indonesia khususnya Bangka dan Babel.

“Penanganan intensif karena pencegahan lebih baik. Sama halnya seperti mahasiswa Indonesia asal China yang menjalani karantina di Natuna beberapa waktu lalu. Setelah empat belas hari dinyatakan negatif maka bisa aman, mahasiswa aman, kita aman. Begitu juga penanganan untuk pasien kita ini,” sebutnya.

Virus Corona Belum Ditemukan di Belitung

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Joko Sarjono mengatakan, untuk di Kabupaten Belitung sampai saat ini belum ditemukan adanya orang ataupun pasien yang mengidap virus corona. “Sampai saat ini virus corona belum ditemukan di Belitung. Mudah-mudahan jangan sampai ada,” kata Joko Sarjono kepada Belitong Ekspres Senin (17/2) kemarin.

Dikatakannya, virus corona tidak berasal dari Indonesia melainkan dari luar negeri. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi masuknya virus berbahaya tersebut Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) sudah memasang alat pendeteksi suhu tubuh di Bandara H.AS Hanandjoeddin dan juga melakukan pemeriksaan di setiap kapal yang datang.

“Alat tersebut akan mendeteksi suhu tubuh setiap wisatawan atau orang yang masuk melalui Pelabuhan dan Bandar udara. Jika ada yang terindikasi maka akan langsung di bawa ke Rumah Sakit Marsidi Judono untuk di evakuasi dan di tempatkan di ruangan isolasi,” jelasnya.

Dia menambahkan, sampai saat ini dirinya belum mendengar ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit virus corona tersebut. Lantas, virus yang muncul dari daerah Wuhan ibu kota Provinsi Hubei, China tersebut kini menjadi kewaspadaan dunia karena sudah menyebar di lebih dari 25 Negara.

Dijelaskannya, penularan virus corona ini bisa melalui selaput ataupun lendir. Contohnya saat terkena flu atau pilek dimana lendir yang keluar tersebut bisa berpindah atau menyebar di sekitar area. Dari informasi yang beredar keberadaan masker N95 khususnya saat sekarang ini banyak dikirim ke negara Cina lantaran harga jualnya cukup tinggi.

“Kita terus melakukan sosialisasi di masyarakat dan kita sudah menyiapkan Alat Pelindung Diri (APD) untuk petugas di Rumah Sakit. Kalau ada kasus atau orang yang diduga terinfeksi virus corona untuk penanganan awalnya kita sudah siap,” pungkasnya. (trh/rez)

Editor: Yudiansyah