Disperindagkop Tinjau Kondisi Beras

by -

*Persedian Beras di Sub-distributor Masih Aman
Foto 3(1)
Tim Disperindagkop Beltim memeriksa kondisi gudang subdistributor.

MANGGAR – Tim dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) meninjau harga dan ketersedian beras pada 8 sub-distributor beras di Kecamatan Manggar dan Gantung, Selasa (24/2) kemarin.

Dalam peninjauan ini tim menemukan bahwa persedian beras untuk Kabupaten Beltim masih aman dan mencukupi untuk konsumsi warga. Namun kenaikan harga beras yang terus terjadi di Jakarta dan Pulau Jawa membuat harga beras di tingkat pengecer, dan sub-distributor di Kabupaten Beltim ikut naik.

Kenaikan harga yang terus terjadi hampir setiap kiriman stok baru, membuat mayoritas konsumen di Kabupaten Beltim beralih ke beras Bulog yang harga agak lebih murah.

“Kalau di tingkat sub-distributor kenaikannya bervariasi, rata-rata Rp 5 ribu tiap karungnya (ukuran 18 -20 kilogram). Tapi ini untuk beras yang biasa sering dikonsumsi masyarakat kayak merek ‘AAA’ dan Permata,” ungkap Kepala Disperindagkop Beltim, Syahrial melalui Kepala Bidang Usaha dan Perdagangan Disperindagkop Beltim Darwati, kepada wartawan seusai melakukan peninjauan.

Darwati yang didampingi Sekretaris Disperindagkop Susana Linggawati menyebutkan sebenarnya kenaikan harga sudah terjadi sejak awal Bulan Januari 2015 awal. Kenaikan ini terus terjadi hingga seusai Tahun Baru Imlek.

“Kalau untuk stok yang ada di sub-distributor, semuanya stok barang baru harga baru pasca Tahun Baru Imlek ini. Sudah kita cek, tidak ada permainan harga, mereka (para sub-distributor) tidak berani menyimpan barang terlalu lama takut nanti harga sewaktu-waktu turun,” terang Darwati.

Sementara itu Sekretaris Disperindagkop Beltim, Susana menambahkan untuk mengatasi kenaikan harga beras yang terus terjadi, Disperindagkop Kabupaten Beltim akan melakukan operasi pasar beras. Namun Disperindakop akan terlebih dulu berkoordinasi dengan pihak Badan Urusan Logistik (Bulog) di Tanjungpandan untuk melihat kualitas berasnya.

“Besok kita kita akan turun lagi meninjau kondisi beras di sub distributor Kecamatan Kelapa Kampit, sekaligus kita akan cek kondisi yang ada di agen beras yang ada agen (distributor) yang ada di Tanjungpandan. Kita juga akan berkoordinasi dengan pihak Bulog, jika kualitas bagus kita operasi pasar,” papar Susi Sapaan akrab Susana.

Produksi Padi di Kabupaten Beltim Belum Bisa Menakan Harga.

Merangkak naiknya harga beras di Kabupaten Beltim ditenggai karena musim paceklik serta banjir yang dialami oleh para petani di Pulau Jawa. Kondisi ini terjadi di seluruh wilayah di Indonesia.

Sedangkan di Kabupaten Beltim sendiri, para petani padi di sentra-sentra padi, di Danau Nujau dan Danau Meranteh Kecamatan Gantung beberapa mengalami gagal panen dan terjadinya penundaan masa tanam. Kondisi ini membuat Kabupaten Beltim belum bisa mengadalkan hasil produksi padi lokal untuk menekan kenaikan harga di Pulau Jawa.

“Jumlah produksi padi lokal kita tahun ini kurang maksimal akibat terserang penyakit plast yang disebabkan oleh jamur. Para petani kita juga terpaksa harus menunda musim tanam akibat kurangnya curah hujan,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Kehutanan dan Pertanian Kabupaten Beltim Warsinu.

Masih menurut Warsinu, kondisi kenaikan harga ini jarang terjadi. Saat ini katanya, harga di tingkat petani padi lokal sudah mencapai Rp 10.000 perkilogram. “Insyaallah, jika dengan rata-rata produksi sawah kita perhektarnya mencapai 5,1 ton dan kalau 1.118 hektar lahan sawah kita bisa produksi maksimal kita akan bisa menekan kenaikan harga ini,” tukas Warsinu. (feb)