Drama Pembacokan di Lokalisasi Tersangka Nginap di Tuatunu

by -

PANGKALPINANG –  Kasus penganiayaan berat yang terjadi dikawasan Eks lokalisasi Parit 6, Bukit Intan, Pangkalpinang yang menimpa Toheran (77) tahun warga Parit 6 Bukit Intan terus diproses. Saat ini, Polisi sedang melengkapi semua berkas kasus tersebut, untuk dilimpahkan ke Kejaksaan.
Kapolsek Bukit Intan Pangkalpinang, Kompol Siswo Dwi mengatakan tersangka pembacokan Rizki (28) pemilik Cafe sudah mendekam di balik jeruji besi. “Dalam proses pelengkapan berkasnya. Tersangka kita tahan dan saat ini kita titipkan di Lapas. Kasus ini adalah penganiayaan berat, tersangka kita jerat dengan Pasal 351 KUHP,” tegas Siswo.
Terkait penyebab pembacokan yang membuat lengan Toheran nyaris putus, Kapolsek tidak menapik kasus tersebut dilatarbelakangi masalah tambang inkonvensional (TI) ilegal di kawasan lokalisasi itu. Namun pihaknya membantah adanya keterlibatan oknum polisi dalam kasus tersebut.
“Latar belakangnya cenderung kesana (karena TI -red). Namun dari pengakuan tersangka Riski pada siang itu, dia didatangi beberapa orang termasuk korban Toheran. Nah pada malam harinya Rizki mendatangi dan membacok korban,” jelasnya.
“Nah, kalau soal oknum anggota dalam kasus ini tidak ada, tetapi soal TI saat ini masih kita pantau. Aktifitas tambang setelah kejadian agak sepi,” imbuh Siswo.
Sementara korban usai diperiksa, mengakui dirinya mengalami luka yang cukup berat atas penganiayaan itu. Bahkan katanya, tangannya yang nyaris putus itu menjadi cacat setelah tiga kali dioperasi. “Rizki tiba-tiba datang membawa pedang dan langsung menebas saya, tanpa sebab. Saya menangis dengan tangan kiri. Kalau tidak saya tangkis kepala saya belah,” ujar korban.
Pembacokan sendiri terjadi pada Sabtu Malam (16/5) sekitar pukul 19.30 wib di lokalisasi Parit Enam. Saat kejadian korban sedang duduk-duduk di depan rumahnya. Kemudian datang Rizki membawa pedang dan menghunuskan padanya. Beruntung ada anaknya dan keluarga yang melihat kejadian tersebut dan membawanya ke rumah sakit.
Korban juga mengatakan bahwa masalah berawal karena adanya TI di lokasi Parit enam. Ardian (salah satu pemilik cafe) marah-marah dan membawa pisau ke lokasi TI dan memotong semua selang-selang TI. Namun saat itu, korban hanya bisa memperingatkan Ardian yang juga sesama pemilik cafe agar tidak bersikap arogan.
Namun Ardian ngotot untuk menghentikan dan merusak alat-alat TI yang diduga merusak jalan dan lokalisasi.
Diperoleh informasi, pembacokan terjadi karena sejumlah pemilik TI dan pekerja sering mangkal di Cafe Rizki, makanya sebelum Adrian menghentikan TI, Andrian bersama pemilik Cafe lainnya termasuk Toheran mendatangi Rizki namun Rizki tidak keluar dari rumah hingga akhirnya pada malam hari dengan membawa senjata langsung membacok korban.(fiz/pas)