DSP Ternyata Merambah Hingga ke Pelosok Desa

by -
ARISAN BODONG: Ratusan pendemo mendatangi Mapolres, Sabtu (4/2) awalnya ratusan dan sorenya datang lagi dari Belitung
ARISAN BODONG: Ratusan pendemo mendatangi Mapolres, Sabtu (4/2) awalnya ratusan dan sorenya datang lagi dari Belitung
ARISAN BODONG: Ratusan pendemo mendatangi Mapolres, Sabtu (4/2) awalnya. Foto : Feb | belitongekspres.co.id

MANGGAR – Kisruh Arisan Online (Arisol) DSP yang mencuat di tengah masyarakat Belitung Timur (Beltim) menjadi fenomena menguras perhatian publik. Arisan dengan “Janji” tarikan yang cukup menggiurkan itu, ternyata menjalar hampir ke semua lapisan masyarakat dari kalangan atas hingga masyarakat di desa – desa.

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Kabupaten Beltim, Koko Haryanto ini adalah sebuah fenomena dengan modus yang lebih rapi, yang memanfaatkan media jejaring sosial. Dulu, menurutnya, modus arisan semacam itu, pernah ada, namun tidak secanggih arisan DSP.

“Kenapa demikian, itu mengingat teknologi dan media sosial masih belum berkembang. Melalui teknologi jejaring sosial yang ada, arisan DSP sudah menjadi dagangan laris manis yang banyak memikat masyarakat hingga ke pelosok-pelosok desa,” ungkap Koko kepada Belitong Ekspres, Kamis (23/2) kemarin.

‎Menurut Koko, ia pernah didatangi oleh Member DSP di kediamannya di Desa Burung Mandi Kecamatan Damar. Kedatangan mereka hanya untuk mempertanyakan masalah kasus ini.

Koko menjelaskan, owner, admin, member dan nasabah, adalah sebuah istilah yang banyak didengar dalam pembicaraan masyarakat ketika mereka berbincang-bincang mengenai arisan DSP.

“Ibarat air mengalir dari hulu ke hilir, begitu cepat informasi tentang “List” terbaru yang dipasarkan dari Owner, Admin, member, hingga sampai ke alat komunikasi nasabah,” ujarnya.

Kata dia, itu bagaikan sebuah hubungan simbiosis mutualisme dalam istilah biologi. Dimana semua pihak Saling mendapatkan keuntungan. Namun hubungan simbiosis ini tidak bertahan lama ketika “Janji” pencairan sudah tidak tepat waktu, sehingga berbuah menjadi hubungan simbiosis parasitisme.

“Dimana ada salah satu pihak yang dirugikan. Adalah member yang mengalami posisi dilematis, disatu sisi Member adalah kepanjangan tangan owner, di satu sisi member juga ada yang menjadi nasabah. Tentu nasabah ingin menuntut haknya, sesuai janji yang tertera dalam daftar list pencairan. Lalu bagaimanakah posisi member, tentu ini yang perlu didudukkan permasalahannya,” jelas Koko.

Dalam hal ini Koko mempertanyakan bagaimana ikatan kerjasama owner dan member dalam menjalankan arisan DSP? Tentu member perlu dimintai keterangan sebagai saksi guna mendudukkan adanya “Pemufakatan jahat” secara disengaja, artinya member sudah mengetahui bahwa yang mereka lakukan adalah membantu pemufakatan jahat yang telah diketahui.

“Namun member sekali lagi dalam posisi dilematis, mengingat banyak nasabah yang hanya tahu dengan member dan tidak tahu siapa itu owner-nya,” tukasnya.

Oleh karena itu, dikatakan Koko bahwa member yang juga nasabah juga mengalami kerugian material dan moril. Kerugian moril akibat dari nasabah yang hanya tahu dengan member yang merekrutnya. Bahkan ada member yang sudah berupaya untuk mengganti uang nasabah walaupun member hanya menyalurkan setoran ke Owner.

“Tentu dalam hal ini kita berharap aparat penegak hukum dapat melihat dengan utuh dengan mengedepankan aspek keadilan,” ujarnya.

‎Masih menurut Koko, penetapan owner sebagai tersangka akan menjadi awal yang penting untuk menindaklanjuti sekaligus mengungkap adakah aktor intelektual dibaliknya? atau “Bola” ini hanya mati ditangan Owner. Untuk itu, tentu semua pihak harus mendukung aparat penegak hukum yang sedang bekerja untuk mengungkap kasus tersebut.

“Semua pihak harus dapat membantu polisi menyelusuri aliran dana yang sudah terkumpul puluhan miliar tersebut. Nah, kita tunggu saja data yang lain, hingga tahu kemana dana itu mengalir nantinya. Semoga kejadian ini ada hikmahnya bagi masyarakat kita (Beltim,red), dan bagi pemerintah daerah harus semakin peka guna melakukan proteksi dini, jangan sampai modus berkedok arisan ini terulang kembali di Bumi laskar pelangi,” tutup Koko. (feb)