Dugaan Malpraktek di RSUD Beltim, Keluarga Pasien Tempuh Jalur Hukum

by -

*Akan Tuntut Secara Pidana dan Perdata

headlines-edisi-22-maret-2017-DPRD-Beltim
Rapat Verifikasi yang digelar pihak keluarga Almarhumah dengan pihak RSUD dan dokter berlangsung di ruang rapat DPRD Beltim, Selasa (21/3) kemarin.

MANGGAR -Keluarga Anggun (28), pasien yang menjadi korban dugaan malprakrek di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Belitung Timur (Beltim) terus berupaya mencari keadilan. Pasalnya, kematian korban yang meninggal pasca operasi caesar dinilai akibat kelalaian dari Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pasien.

Oleh karena itu, Candra Eka selaku kakak almarhumah Anggun menegaskan akan menempuh jalur hukum, meskipun sudah mendapat penjelasan dari tim dokter saat dilakukan mediasi oleh pihak RSUD Beltim Senin (20/3) lalu.

Hal itu disampaikan Candra didampingi anggota Polres Beltim, Brigadir Abi Maulana suami dari korban dan anggota keluarga lainnya, usai menggelar rapat verifikasi di Gedung DPRD, Selasa (21/3) kemarin. Rapat yang difasilitasi pihak DPRD ini, dihadiri para dokter dan Direktur RSUD Beltim.

“Kami mewakili pihak keluarga almarhumah akan menuntut pihak RSUD secara pidana maupun perdata dan akan melaporkannya ke Polres Beltim. Dan, kami tidak akan mundur untuk mengusut kasus meninggalnya Anggun, karena pihak keluarga mengalami kerugian baik materil maupun masa depan anaknya,” ungkap Candra kepada Belitong Ekspres.

Candra berharap kasus Anggun ini seharusnya dapat dijadikan momen untuk memperbaiki kinerja pelayanan RSUD Beltim kedepannya. Selain itu, juga untuk pembenahan manajemen, peralatan, dan sumber daya manusia (SDM) yang ada di RSUD tersebut.

“Jika pihak RSUD Beltim tidak bisa memperbaiki kinerjanya, kami akan terus melakukan hal ini di jalur hukum. Sebab, ini ada sisi kelalaiannya, termasuk anggaran untuk pelayanan di RSUD ini juga harusnya dipertanyakan nantinya,” kata Candra.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi III DPRD Beltim, Ardian berharap pihak RSUD Beltim yang menangani pasien Anggun dapat memberikan keterangan yang sebenarnya dalam penanganan operasi caesar yang dilakukan tim dokter.

Selaku pimpinan rapat verifikasi Ardian juga meminta dr. Edwar bertanggung jawab atas meninggalnya pasien Anggun. Selain itu, kepada pihak Pemda Kabupaten Beltim diharapkan bisa menindak tegas pihak-pihak terlibat melakukan pelanggaran prosedur.

Senada disampaikan Anggota Komisi III lainnya Misyuliani. Ia mengharapkan pihak RSUD kedepan dapat meningkatkan tindakan dan pelayanan terhadap pasien.

Sementara itu Dr. Edwar (Specialis Kandungan), yang menangani pasien mengatakan bahwa pihak RSUD sebelumnya sudah melakukan upaya semaksimal mungkin. Seperti yang disampaikannya sebelumnya bahwa pasca operasi Almarhumah membutuhkan darah yang banyak.

Menurutnya pasien telah diberikan tambahan darah sebanyak 7 kantong darah, namun trombositnya menurun, sedangkan alat penghasil trombosit (Trapalet,red) di RSUD Beltim belum ada. Tindakan operasi caesar seperti itusudah sering dilakukan dengan prosedur yang sama.

“Tapi pada almarhumah Anggun, kami temukan adanya Varises di rahim yang tidak dapat kami deteksi sebelumnya, karena tidak ada alat yang canggih. Kami lakukan tindakan operasi dan terjadi pendarahan, tapi untuk varises pembuluh darah itu dapat diatasi,” ungkap dr Edward.

dr. Edwar melanjutkan, apabila keadaan pasien normal peralatan yang ada di RSUD memang sudah memenuhi standart untuk melakukan operasi caesar. “Namun saat dioperasi kontraksi rahim Almarhum tidak baik, sehingga hal tersebut yang menyebabkan terjadi pendarahan dan membutuhkan banyak darah,” jelasnya.

Selain dokter Edwar, dr. Rima di bagian Radiologi mengaku bahwa pihak RSUD telah melakukan upaya semaksimal mungkin dalam penanganan persalinan caesar. Pihaknya juga sudah melakukan sesuai dengan SOP saat  operasi caesar pasein tanggal 17 Maret 2017 lalu.

“Akan tetapai, saat itu ruang persalinan penuh sehingga Almarhumah sempat ditempatkan di ruangan lorong dengan menggunakan tempat tidur dorong. Sebab, itu memang ruang persalinan sudah penuh pasien bersalin lainnya,” terang dr Rima.

Sementara dr. Rudi (Spesialis Anastesi) menambahkan, bahwa pasca operasi Almarhumah sempat mengalami drop, yang dikarenakan membutuhkan banyak darah dan cairan. Pada saat itu pihak RSUD telah memberikan kantong darah sebanyak 7 kantong. “Namun karena kondisinya semakin melemah maka terjadilah hal yang tidak diinginkan yang menyebabkan pasien meninggal dunia,” jelas dr. Rudi.

Direktur RSUD Beltim, dr. Suhartini ikut menjelaskan, bahwa RSUD sebelumnya telah melaksanakan mediasi dengan pihak keluarga Almarhumah dan konfrensi pers dengan awak media yang ada di Beltim, pada Senin (20/3).

Pada saat itu, dokter yang menangani pasien sudah menjelaskan ketika dioperasi almarhumah membutuhkan banyak darah dan kekurangan cairan trombosit. Namun, itu terkendala keterbatasan fasilitas di RSUD yang belum ada Trapalet alat untuk menghasilkan trombosit.

“Sehingga untuk meningkatkan trombosit Almarhumah tidak bisa. Dan Kami memang akui fasilitas yang ada di RSUD ini belum dilengkapi dengan fasilitas lainnya,” sebut dr. Suhartini.

Rapat Verifikasi di DPRD Beltim yang dipimpin Ketua Komisi III DPRD Beltim, Ardian juga dihadiri oleh Ketua Komisi II dan anggota Komisi II DPRD, Ketua Komisi I dan anggota Komisi I DPRD, Kadinkes Beltim, Liatim, Direktur RSUD Beltim dr. Suhartini, dr. Edwar spesialis Kandungan, dr. Rima soesialis Radiologi, dr. Rudi spesialis Kandungan, Dokter RSUD, juga Bidan dan perawat RSUD Beltim, Plh Kasat Reskrim Polres Beltim, AKP.Anton Sinaga, dan Kanitkam Sat IK Polres Beltim, AKP. Robertus Wardana. (feb)