Dunia Baru Guru Indonesia

by -

Oleh: Sabarudin, M.Pd*

 

Pergeseran secara substansial dan fundamental terjadi pada tugas , fungsi dan peran guru di masa depan. Fungsi peran guru tidak hanya mendidik, mengajar, melatih, membimbing mengarahkan, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Lebih jauh dari itu, potret ideal guru abad 21 terlihat pada budaya meneliti, menulis, diskusi, Penguasaan IT, memiliki sikap kreatif, adaftif, inovatif, demokratis, tegas, dan peduli serta bertanggung jawab.

Hal ini menjadi isu sentral bagi dunia pendidikan kita. Kita harus fokus pada peningkatan mutu karena tidak ada “Jalan Pintas” untuk mutu. Jadi, diperlukan revolusi cara belajar dan mengajar yang mungkin dapat terwujud dengan guru yang profesional yang rajin membaca dan menulis serta meneliti.

Bagi seorang guru profesional, kegiatan menulis merupakan suatu kebutuhan dan keharusan yang mendesak. Menulis sebagai salah satu kegiatan rutin yang harus dihadapi guru dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan menulis diharapkan guru dapat menuangkan idenya baik yang bersifat ilmiah maupun imajinatif. Oleh karena itu, proses pembelajaran di dunia pendidikan kita seharusnya dapat memberikan ruang untuk mengoptimalkan kebebasan berpikir.

Fakta bahwa masih banyak di antara guru yang “enggan” dalam menulis menunjukkan ada yang salah dalam pengembangan profesionalisme guru selama ini. Padahal, menulis berarti menata pikiran, menulis itu menyehatkan, membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Itu sebabnya, jika guru ingin terjun ke dunia kepenulisan, syarat utamanya adalah harus merajinkan dan membiasakan diri untuk membaca. Membaca apa saja yang bisa dibaca, dengan banyak membaca akan sangat menumpuk ide yang bisa dijadikan sebagai bahan tulisan.

Tuntutan yang mendesak bagi tenaga pendidik sekarang adalah kemauan dan kemampuan untuk menulis dan meneliti. Hal ini menjadi sangat mendesak karena “wajib” bagi tenaga pendidik untuk kenaikan jabatan/pangkat yang berbeda dari aturan sebelummnya yang hanya di wajibkan dari golongan IVa ke IVb.

Adapun mulai tahun 2013 berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, mensyaratkan untuk kenaikan jabatan/pangkat dari mulai golongan IIIb ke IIIc. Aturan ini dengan memasukkan unsur Publikasi Ilmiah dan atau karya inovatif serta unsur pengembangan diri. Aturan perundangan ini menjadi landasan dan acuan bagi tenaga pendidik untuk “membiasakan dan merajinkan diri” untuk menulis dan meneliti.

Mengapa menulis ilmiah populer di media massa itu menjadi penting? Pertanyaan ini menjadi pertanyaan kunci bagi guru sekarang ini, ketika menjadi keharusan untuk naik pangkat/golongan untuk membuat karya tulis ilmiah dan publikasi ilmiah.

Hal ini diwajibkan karena merupakan Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB) bagi seorang guru yang merupakan pembaruan secara sadar akan pengetahuan dan peningkatan kompetensi guru sepanjang kehidupan kerjanya.PKB dilaksanakan dalam upaya mewujudkan guru yang profesional, bermatabat dan sejahtera.

Dengan begitu, guru dapat berpartisifasi aktif untuk membentuk insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian.Komponen PKB seperti terdapat dalam pasal 11 ayat c, Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009) meliputi; a. Karya ilmiah populer berupa tulisan yang dipublikasikan di media masa (koran, majalah), b. Karya ilmiah populer berisi pengetahuan, ide, gagasan pengalaman penulis yang menyangkut bidang pendidikan pada satuan pendidikan penulis bertugasbisa dalam bentuk artikel, opini jurnal, atau hasil penelitian.

Untuk menulis ilmiah populer di media massa kerangka isinya disesuaikan dengan persyaratan atau kelaziman dari media masa yang akan mempublikasikan tulisan tersebut. Adapun penilaiannya dengan melihat bukti fisik berupa guntingan tulisan dari media masa yang memuat karya ilmiah penulis, dengan pengesahan dari kepala sekolah. Pada guntingan media masa itu harus jelas nama media masa serta tanggal terbitnya. Bila berupa fotokopi harus ada pernyataan dari kepala sekolah yang menyataan keaslian karya ilmiah populer yang dimuat di media masa tersebut.

Susah! Itu kalimat yang sering terlontar dari mulut kita ketika baru akan menulis. Baru bikin kalimat pertama aja udah macet, Padahal, ketika kita memulai 1, Tuhan memberi kita 10. Oleh karena itu, mulailah. Menulislah pada kesempatan pertama. Tidak menunda menulis isu yang sedang berkembang. Nyaman dan nikmatilah untuk duduk mengetik. Menulis bukan sulap, yang langsung dapat menulis dengan baik, perlu latihan yang terus-menerus.Bila inspirasi telah lahir, biarkanlah. Jangan menjadi “jagal” untuk gagasan awal. Akankah menghasilkan sesuatu, kalau gagasan itu tidak diwujudkan.

Kita harus memulai menulisnya dari bagian mana dulu.Mulailah menulis dari yang kita sukai.Jenis tulisan apa yang akan kita buat, bisa dalam bentuk Catatan Perjalanan, Ilmiah Populer, Opini, Berita, atau Fiksi. Adapun jenis tulisan ilmiah popular yang bernilai dan diakui dalam penghitungan angka kredit Penilaian Kinerja Guru di antaranya yaitu dalam bentuk Artikel ilmiah, Jurnal Ilmiah, laporan hasil penelitian maupun publikasi dalam bentuk buku.

Tulisan Ilmiah Populer merupakan tulisan yang disusun dari berbagai tulisan atau gagasan orang lain menjadi tulisan baru yang utuh, bersifat ilmiah tapi ditulis dengan penuturan yang lancar dan mudah dimengerti. Tulisan harus benar, objektif, dan mendalam. Perlu didukung oleh data yang sudah teruji kebenarannya.

Sementara, tulisan populer harus akurat dan tidak ceroboh. Penulis harus memahami hal yang akan ditulis, sehingga dapat menyederhanakan persoalan yang rumit.Untuk memiliki pemahaman yang baik, penulis dituntut untuk membaca berbagai sumber yang berhubungan dengan hal yang akan ditulisnya.

Bagaimanakah agar tulisan yang kita buat bisa dimuat media massa! Cara yang paling ampuh adalah dengan mempelajari karakteristik dan aturan penulisan setiap media, yang jelas tulisan harus aktual, akurat, relevan , fokus pada isu yang khas, dan spesifik serta bermakna bagi pembaca. Bbahasa yang digunakan harus benar sesuai kaidah, padat, ringkas, efisien, jelas, lugas. Hindari kesalahan penulisan, misalnya dalam penulisan kata, angka, nama orang, nama tempat, waktu, istilah teknis dan bahasa asing. Lantas, tulisan juga harus jelas, tidak menimbulkan penafsiran ganda, terukur, serta mudah dipahami. Yang tak kalah penting pula, tulisan harus dapat dipertanggung-jawabkan.

Media massa seperti koran atau jurnal memunyai keterbatasan halaman. Panjang tulisan Opini cukup 6000 – 7000 caracters with spaces (jumlah karakter termasuk spasi dan tanda baca). Disarankan ketika ada komputer, ada CD dan internet, maka redaksi cenderung hanya memuat tulisan-tulisan yang dikirim dalam bentuk digital dengan tetap mengacu kepada etika penulisan.

Realitas di lapangan membuktikan, begitu banyaknya tulisan yang tidak dimuat di media massa dan jurnal. Tulisan seringkali ditolak atau tidak dimuat di antaranya dikarenakan; tema kurang atau tidak aktual, penyajian berkepanjangan dan kurang jelas. Selain itu, bahasa terlalu akademik, gayanya seperti makalah, naskah pidato atau catatan kuliah. Lantas, bisa juga karena factor terlalu banyak kutipan, sehingga seperti kumpulan kutipan/sumber kutipan kurang jelas serta uraian tidak runtut dan terkesan seperti penyampaian gagasan yang meloncat-loncat.

Mengapa kita harus terus berubah dan memperbaiki tulisan? Hal ini dilakukan karena meningkatnya “Kehendak Pembaca”. Jadi, jangan sampai pembaca beralih ke tulisan lain, padahal baru membaca satu atau setengah alinea saja serta ketidakpuasan diri sendiri melihat hasil tulisan kita misalnya kalimat kurang lancar, kurang lincah, kurang mengalir dan kurang fokus ke masalah.

Apakah setiap tulisan yang dimuat media massa atau jurnal merupakan benar-benar asli dan baru. Menurut pengalaman dan pengamatan penulis, jawabannya ada yang benar-benar baru dan asli. Tetapi, pada saat ini ada juga penulis yang hanya melengkapi tulisan yang sudah ada, lantas memberi variasi baru atau melihat pada sudut pandang beda. Atau dalam bentuk penulisan yang berbeda, artinya kita berada di pundak orang lain sebelumnya yang saling melengkapi satu dengan lainnya.

Kelahiran satu karya memberi inspirasi bagi kelahiran karya berikutnya. Begitu seterusnya. Sebab, kita dituntut untuk terus menggali pengetahuan setiap waktu. Perdalam riset sebelum menulis, banyak membaca, terus menulis, baca lagi tulisan kita, lalu perbaiki, perindah, perlincah. Enam tahapan yang harus dilalui untuk membuat tulisan yang menjadi bermakna, bernilai dan dimuat, yaitu: Melihat, Merasakan, Menganalisis, Membaca Mengerjakan dan terakhir Menulis. Menulis itu Bisa karena Biasa.(***)

 

*)Kepala SMA 1 Gantung/Ketua Forum Ilmiah Guru Kab. Beltim