Efek Vaksinasi Covid-19, Wabup Belitung Jadi Lebih Kuat & Berstamina

by -
Efek Vaksinasi Covid-19, Wabup Belitung Jadi Lebih Kuat & Berstamina
Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie saat menerima suntikan vaksin.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Penerima vaksinasi Covid-19 perdana di Belitung telah menerima dosis kedua di RSUD dr H Marsidi Judono, Tanjungpandan, Sabtu (30/1). Selama rentang 14 hari sejak penyuntikan pertama, penerima vaksin yang merupakan unsur forkopimda dan tokoh agama tersebut dilakukan vaksinasi dosis kedua.

Salah satunya Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie. Dia menerima penyuntikan dosis kedua vaksin Covid-19 merek Sinovac di RSUD. “Untuk penyuntikan yang kedua ini saya tidak ada persiapan khusus, tapi tadi tensi saya sempat tinggi mungkin karena deg-degan psikologinya saja,” kata Isyak Meirobie kepada Belitong Ekspres.

Isyak juga menceritakan reaksi yang terjadi pada dirinya pada vaksinasi pertama, yakni sedikit pegal, ngantuk seharian. Namun, hari kedua ngantuknya berkurang tapi masih ada.

“Yang jelas habis vaksin nafsu makan naik banget. Sampai hari ke-14, nafsu makannya masih tetap tinggi, kayaknya tiga kali sehari tidak cukup dan pasti menjadi jadi 5 – 6 kali, tapi porsinya bukan langsung banyak akan tetapi lebih menjadi sering,” terangnya.

Selain itu kata Isyak, bahwa efek dirinya setelah divaksin menjadi tidak mudah lelah. Misal ketika ia olahraga kini menjadi lebih tidak cepat lelah. “Dan sempat hari ke-7 muncul gejala flu, tapi dalam hitungan jam menjadi hilang. Saya yakin sekali vaksin ini punya kekebalan yang bagus untuk influenza dan semua ciri-ciri Covid-19,” Sebutnya.

Kemudian dikatakan Isyak, pasca vaksinasi dosis kedua itu, dari informasi dokter bahwa hari ke 14 sampai hari ke 28 antibodi mulai tumbuh. Nanti kalau sudah hari ke-28 dia akan melakukan tes antibodi dan mau melihat hasilnya.

Dia berharap masyarakat jangan ragu dan termakan isu-isu yang negatif, vaksin ini tujuan baik untuk melindungi diri sendiri maupun orang lingkungan di sekitar. “Vaksinasi ini adalah sebuah solusi di tengah pandemi yang belum berakhir, tentunya solusi ini harus dibarengi dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang menjadi budaya dan hidup baru kita,” pungkas Isyak.

Sementara itu, Dandim 0414 Belitung Letkol Inf Mustofa Akbar mengatakan, setelah menerima vaksin pertama ia hanya merasakan kondisi ngantuk dan tidak ada gejala serius lain. “Sore-sore mulai ngantuk itu aja, kalau gejala yang serius lainnya tidak ada,” kata Dandim kepada Belitong Ekspres.

Mustofa menyebutkan dalam menjalani vaksinasi kedua ini, ia telah mempersiapkan diri dengan tidur cukup agar tak terkendala saat screening kesehatan. “Alhamdulillah kedua kali ini langsung normal. Kalau gejala alhamdulilah tidak merasakan apa-apa,” katanya.

Sementara itu Direktur RSUD dr H Marsidi Judono dr Hendra SpAn mengatakan, penerima vaksinasi dosis kedua ini merupakan unsur forkopimda, tokoh agama dan lainnya. Sebanyak 9 dari 10 orang divaksinasi dosis pertama kemarin, tidak hadir karena 1 orang sedang berada di Pangkal Pinang. “1 orang itu bisa saja di Pangkalpinang Vaksinasi dosis keduanya,” katanya.

Menurut dr Hendra, setelah vaksinasi Covid-19 dosis kedua, para penerima vaksin akan menerima kartu. Kartu yang dikeluarkan secara komputerisasi tersebut memuat identitas seperti nama, alamat, nomor induk kependudukan (NIK), tempat tanggal lahir, jenis kelamin juga nomor telepon, serta tempat dan tanggal menerima vaksin, nomor beds.

“Semua orang yang divaksinasi, pada botol vaksin ada nomor batch vaksin, itu dicantumkan. Jadi bisa tahu menerima vaksin nomor batch berapa, dosisnya berapa, kemudian tanggalnya dan juga Nanti ada call center, sehingga ketika ada efek samping bisa menghubungi petugas,” jelas dr Hendra.

Dokter Hendra juga mengatakan, kartu vaksin Covid-19 tersebut bisa digunakan sebagai persyaratan agar tidak menggunakan SWAB antigen ketika berpergian. Hal itu berdasarkan aturan Kemenkes RI.

Lebih lanjut dr Hendra menjelaskan, namun orang yang telah menerima vaksin tidak berarti bebas dari Covid-19. Vaksin yang diberikan bertujuan membentuk herd immunity atau imunitas kelompok agar melindungi terhadap infeksi.

“Orang bisa ketika kuman masuk, tubuhnya sudah antibodi, sehingga kumannya diperangi antibodi, jadi ketika diperiksa tidak akan ketemu. Itu namanya tidak terinfeksi. Tapi Bisa juga tubuh itu terinfeksi tapi tidak menunjukkan gejala berat sehingga harus masuk rumah sakit,” jelasnya lagi.

Meskipun telah divaksinasi, ia menuturkan bahwa protokol kesehatan tetap harus diterapkan. Karena efektivitas vaksin berkisar antara 60-90 persen atau pada vaksin Sinovac efektivitasnya 65 persen. Artinya penerima vaksin masih memiliki kemungkinan 35 persen terinfeksi walaupun nantinya ketika terinfeksi hanya mengalami gejala ringan.

Dia menambahkan, pemberian vaksin Covid-19 juga dilakukan sebanyak dua kali. Karena berdasarkan riset, hasilnya akan lebih maksimal ketika dilakukan dua kali penyuntikan.

“Suntik kedua sebagai booster untuk memperkuat. Tujuan vaksinasi memasukkan virus yang sudah dimatikan agar tubuh membentuk antibodi dan akan maksimal ketika dua kali dilakukan,” paparnya.

Dikatakannya, dalam vaksinasi Covid-19 juga dijeda selama 14 hari hingga maksimal satu bulan. “Tapi kita harapkan 14 hari, karena ini juga administratif di pusat, semua yang dilakukan tercatat dipusat yang bisa dilihat siapa yang sudah mendapatkan vaksin,” tandasnya. (dod)