Efektifitas Pengelolaan Pekat Belum Maksimal

by -

MANGGAR – Efektifitas pengelolaan Penyakit masyarakat (Pekat) pada tingkatan Pemerintah, swasta dan masyarakat dirasakan masih belum maksimal. Hal ini tentu menjadi masalah bersama yang harus diperhatikan agar bisa ditekan. Ditingkatan Pemerintah, aturan yang ada masih belum memadai dan belum memberikan efek jera. Ditingkatan swasta masih adanya tidak peduli aturan, tidak peduli norma atau adab kemasyarakatan yang berlaku.

Sedangkan ditingkat masyarakat, ada individu tidak peduli, sedikitnya peran keluarga dan berkurangnya peran organisasi/institusi masyarakat. Hal tersebut terungkap saat kegiatan sosialisasi penanggulangan penyakit masyarakat yang digelar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Belitung Timur (Beltim), yang digelar di ruang Satu Hati Bangun Negeri, kantor Bupati Beltim, Senin (20/3) kemarin.

Sosialisasi yang dibuka Wakil Bupati Beltim Burhanudin, juga dihadiri narasumber dari Satbinmas Polres Beltim, Kejaksaan Negeri Beltim dan Satpol PP Beltim. Sedangkan peserta sosialisasi meliputi aparatur Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama dan sekolah-sekolah.

“Kegiatan ini akan berlangsung juga di seluruh Kecamatan di Kabupaten Beltim,” ungkap Plt Kasatpol PP Beltim, Ronny Setiawan kepada Belitong Ekspres usai kegiatan.

Dijelaskan Ronny, pemetaan penyakit masyarakat bertujuan menginformasikan tentang bahaya dan kerugian penyakit masyarakat. Informasi meliputi siapa saja yang bisa terlibat pekat, pihak yang bertanggungjawab dan bentuk ancaman pekat maupun sanksi.

Menurut Ronny, output yang diharapkan adalah mengefektifkan kebijakan yang sudah ada dengan melibatkan seluruh pihak khususnya yang belum terlibat. Misalnya, penertiban kafe-kafe remang di kawasan Mirang, menekan pengguna komik dan masalah pekat lainnya.

“Kita meminta perspektif kepolisian, kejaksaan maupun Dinas perdagangan dan peran masyarakat menjaga lingkungan untuk mencegah pekat,” harap Ronny.

Seharusnya, dikatakan Ronny, pelaku usaha memperhatikan adab dalam menjalankan usahanya. Sesuatu yang melanggar sudah selayaknya tidak dibiarkan. Bukan hanya ikut aturan main tetapi punya adab budaya yang bisa dipegang seauai dengan kondisi masyarakat.

“Dari hasil kegiatan ini, tentu akan kita saring dan dibuatkan formula umumnya,” terangnya.

Sosialisasi serupa akan terus berjalan selama 14 kali dalam tahun anggaran berjalan. Hasil yang diharapkan berupa kesadaran semua pihak dalam mengatasi masalah bersama demi menyelamatkan generasi Beltim dimasa datang. miras