banner 728x90

Ekspor Timah Macet?

Life at ease with amazing nature| Leebong island
ilustrasi timah. Foto: istimewa

ilustrasi timah. Foto: istimewa

Regulasi Kini Makin Ketat
Hanya PT Timah yang Bisa
Wajib Laporkan Kegiatan

DPRD Bangka Belitung (Babel) menggelar rapat dengar pendapat (RDP) terkait pertimahan, Jumat (14/6) kemarin, di ruang Badan Musyarawah (Banmus) DPRD Babel.

RAPAT dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya didampingi dua wakilnya dan beberapa anggota dewan. Turut hadir juga perwakilan dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Polda Babel, Dinas ESDM Babel, Disperindag Babel dan lembaga survey Sucofindo.

Rapat tersebut menindaklanjuti laporan terkendalanya ekspor timah yang dialami oleh eksportir terdaftar dalam kurun waktu 6 bulan terakhir ini. Hanya PT Timah Tbk satu-satu yang melakukan ekspor.

Seusai rapat, Didit menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada larangan ekspor bagi smelter swasta. Hanya saja regulasi ekspor timah yang begitu ketat sehingga pengusaha smelter swasta tidak dapat melakukan ekspor.

“Regulasinya yang makin ketat mengakibatkan eksportir timah di Babel tidak bisa melakukan ekspor,” jelasnya. Kecuali PT Timah Tbk, satu-satunya yang bisa melakukan ekspor sejak Januari-Mei 2019 karena sudah memenuhi ketentuan.

Ia mengungkapkan, bahwa para perusahaan pemurnian timah swasta ini belum mampu memenuhi ketentuan yang dibuat pemerintah. Ditambahkan dia, saat ini perlu dipertegas kembali masalah tata kelola timah agar berjalan dengan baik.

“Apa lagi menurut Pak Dirkrimsus Polda Babel tadi, bahwa tata kelola timah di Babel menjadi percontohan tata kelola di tingkat nasional,” ujarnya.

Sementara Plt Kepala ESDM Babel Rusbani menjelaskan, kendala ekspor yang dialami oleh smelter swasta di Babel dikarenakan tak mampu memenuhi syarat Competent Person Indonesia (CPI) sesuai Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1827 Tahun 2018.

“Untuk ekspor timah, Kepmen ini mewajibkan harus CPI dalam pelaporan maupun perhitungan cadangan yang akan diverifikasi oleg surveyor ditunjuk,” jelasnya.

CPI ini sendiri, kata Rusbani, ditentukan oleh organisasi profesi Perhimpuan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) dan Asosiasi Ahli Geologist Indonesia (AAGI). “CPI ini merupakan penilai independen yang bertugas mencatat sumber daya yang menjadi cadangan agar asal usul bijih timah,” terangnya.
Ia juga tak menampik, bahwa terkendalanya ekspor timah Babel ini akan berpengaruh terhadap jumlah ekspor tahun 2019. Tercatat, data ekspor timah hingga Mei 2019 hanya sebanyak 26.000 metrik ton hanya dari PT Timah.

Wajib Laporkan Kegiatan

Sementara itu, Perwakilan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Supriyanto, menyatakan, perusahaan smelter timah Babel wajib melaporkan hasil kegiatan eksplorasi, estimasi sumber daya, serta estimasi cadangan timah sesuai standar dan Kode Komite Cadangan Mineral Indonesia (KCMI).

“Data dari CPI merupakan salah satu persyaratan ekspor yang wajib dipenuhi oleh pengusaha smelter. Karena untuk memenuhi itu semua harus dihitung oleh orang yang ahli dalam bidangnya yaitu CPI,” jelas Supriyanto di gedung DPRD Babel, Jumat (14/6).

Selain itu, dia menambahkan perlu adanya koordinasi dengan unsur terkait yang mempunyai kepentingan terkait pertambangan timah di Babel. Unsur tersebut yaitu Pemda, Surveyor, Sucofindo dan Kementerian ESDM serta DPRD.

Menurut dia, pokok-pokok permasalahan yang disampaikan dalam rapat audiensi tersebut merupakan fakta di lapangan, sehingga dibutuhkan sinergitas antar pihak terkait untuk mencari solusi yang terbaik.

“Menurut saya itu adalah fakta, di sini hanya masalah misskomunikasi saja, tidak ada kondisi buruk seperti yang terlontar tadi dan bisa diperbaiki karena yang terpenting adalah koordinasi unsur terkait,” ujarnya.(mg01)

Rate this article!
Ekspor Timah Macet?,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply