Erwandi Ajak Tanam Cabe

by -

TANJUNGPANDAN-Pemerintah daerah Belitung terus berusaha menggugah dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya menekan inflasi. Salah satunya dengan usaha memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan kemandirian. Upaya ini seperti ajakan dari Wakil Bupati Belitung Erwandi A Rani yang meminta masyarakat Belitong turut mengendalikan inflasi dengan menanam cabe. Paslanya, komditi cabe ini dinilai merupakan salah satu penyumbang inflasi di Belitung.

Erwandi mengajak menanam cabe di pekarangan rumah warga yang rata-rata masih memiliki lahan relatif luas. Misalkan pun sempit bisa dengan sistem hidroponik. “Itu boleh saja dianjurkan ke masyarakat. Cuma tergantung masyarakat. Cuma kalau yang begitu fungsi ibu-ibu,” kata Erwandi usai rapat di Bappeda Kabupaten Belitung, Senin (9/8) kemarin.

Selain itu produk olahan cabe sempat terfikir oleh Erwandi. Sehingga cabe lebih lama bisa disimpan.  “Yang paling penting bisa menstabilkan harga cabe ini,” kata dia.
Ia juga mengajak masyarakat beternak ikan tawar. Misalnya lele, mujaer, dan sebagainya. Cara ini juga untuk menekan inflasi yang disebabkan oleh ikan laut.  “Juga penting ikan yang ditambak, apakah dari darat apakah dari laut. Kita jangan tergantung dengan ikan laut, sementara tangkapan susah,” ujarnya.
Sisi lain, lanjut Wabup, pola hidup konsumtif masyarakat Belitong juga mempengaruhi inflasi. Misal orang tidak makan di rumah, mereka makan di luar. “Mereka tahu orang Belitung banyak makan di luar. Karena kalau orang banyak duit cenderung malas masak. Lebih nyaman beli,” tukasnya.

Sementara Kasubid Statistik Kerawanan Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) RI Avenzora mengatakan pola konsumsi masyarakat menengah ke bawah berbeda-beda. Pola ini juga bisa menyebabkan inflasi dan tingkat kemiskinan di pulau Belitong berbeda. Meski Belitung dan Beltim satu pulau.

“Jadi pola konsumsi orang Belitung dan Beltim berbeda,” kata dia.
Pada acara koordinasi tingkat kemiskinan di Kantor Bappeda Belitung sempat disebut tingkat kemiskinan dan inflasi di Belitung dan Beltim berbeda. Untuk lebih mendalami dugaan tersebut disebabkan pola kosumsi, BPS akan mendalami. “Sementara ini kita dalami. Mungkin dari sisi ekonomi makro itu tidak terlalu jauh,” pungkasnya. (ade)