Even FLP Mampu Datangkan Turis

by -

*Andrea Hirata: Laskar Pelangi Jadi Penggerak Pariwisata

IMG_9974

FLP 2015: Penampilan Grup musik Elektra dari Jakarta yang tampil memukau pada malam Puncak Festival Laskar Pelangi 2015 di Pantai Tanjungtinggi, (29/8) lalu.

TANJUNGPANDAN-Sastrawan Belitong yang juga penulis Novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata menegaskan, even Festival Laskar Pelangi yang kini sudah diganti menjadi Festival Negeri Laskar Pelangi itu harus terus digaungkan seluas-luasnya. Sebab, even inilah yang diharapkan menjadi ikon pariwisata Belitong itu mampu menjadi magnet kuat bagi turis untuk datang ke Pulau Belitong. Apalagi, kekuatan Tarian Pendulang Timah Kolosal yang mampu membuat penonton merinding.
Apa yang disampaikan Andrea Hirata ini sangat berdasar. Sebab, tak jarang dia menjumpai banyak orang yang bertanya kapan Festival Laskar Pelangi digelar. Lantas, pertanyaan berikutnya, kapan Laskar Pelangi “membuat” Film lagi. “Itulah sejumlah fakta yang saya temukan di lapangan dan di banyak tempat,’’ ujar pendiri Museum Kata itu kepada Belitong Ekspres, Sabtu (29/8), malam di KV Senang, Tanjungpandan.
Menurut Andrea, untuk mendatangka turis di Belitong setidaknya ada tiga konteks. Yang pertama, Laskar Pelangi (nama ikon,Red). Yang kedua lanskep spektakuler (keindahan pantai dan alam,Red) dan ketiga even. “Nah even inilah  untuk mendatangkan turis. Even  inilah yang membuat orang mau datang lagi ke Belitung,’’ ungkap pencipta Tarian Pendulang Timah yang baru saja mendapat penghargaan dari Original Rekor Indonesia (ORI) sebagai Tarian Kolosal dengan jumlah penari yang di-body panting terbanyak di Indonesia.
Andrea berkeyakinan, Festival Laskar Pelangi 2015 yang baru saja kelar dengan sukses, mampu mendatangkan turis. Ini terlihat dengan banyaknya pengunjung di FLP 2015. “Saya dengar tiket pesawat habis. Dan dari beberapa kawan bilang banyak turis yang langsung datang ke lokasi festival di Pantai Tanjungtinggi,’’ urai novelis yang karyanya sudah diterjemahkan dalam 34 bahasa di dunia tersebut.
Untuk membuat dunia menoleh ke Belitong melalui berbagai potensi, khususnya even, kata Andrea, memang dibutuhkan waktu. Dengan penyelenggaraan festival laskar pelangi yang baru empat kali digelar atau tahun keempat, termasuk masih butuh perjuangan. Jadi, ke depan harus benar-benar disiapkan agar even ini terus berjalan dan terus meningkat kualitasnya.
“Sebagai acuan, macam even Jember Fashion Week butuh sembilan tahun, Solo Batik Carninal delapan hingga sembilan tahun, Jogja Fashion Carnival sekian tahun. Jadi kalo baru empat tahun penyelenggaraan, memang harus terus bersemangat agar benar-benar dilihat dunia, jadi even internasional,’’ papar Andrea yang menyatakan salut dengan panitia FLP yang telah berhasil menggelar even spektakuler ini, meski Andrea juga tahu kendala-kendala yang masih dihadapi panitia.
Andrea kembali mengingatkan, Festival Negeri Laskar Pelangi agar tak tergantung dengan figur Andrea Hirata. Karena itu, apapun terlepas dari seorang Andrea Hirata, even FLP harus tetap jalan dengan kemandiriannya. “Makanya dari awal saya memang tidak masuk di panitia atau pengurus FLP saya hanya undangan, agar festival ini terus berjalan. Even ini tidak boleh hanya terpengaruh oleh satu orang. Seperti tarian pendulang timah, saya bukan koreografernya, hanay konseptor. Koreografernya Widia dan Wulan,’’ urai Andrea dengan nada serius.
Dia berharap, dalam penyelenggaraan kelima mendatang, FNLP sudah bisa disiapkan dengan baik. Termasuk ketika even ini sudah diagendakan rutin,maka sudah selayaknya pemerintah menganggarkan untuk even ini. “Apapun, diakui atau tidak diakui, percaya atau tidak percaya, Laskar Pelangi ini menjadi penggerak, penggerak pariwisata Belitong,’’ tutupnya.(kin/agu)