Faktor Ekonomi Jadi Penyebabnya

by -

PANGKALPINANG – Faktor ekonomi kerap menjadi alasan utama dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Bangka Belitung (Babel) dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Lembaga Swadaya Masyrakat Perlindungan dan Pemberdayaan Hak-hak Perempuan dan Anak (P2H2PA) Babel mencatat, dari 389 kasus yang mereka tangani sejak tahun 2011 silam, terjadi siklus naik dan turun terhadap angka kasus KDRT. Ditahun 2011 ada sebanyak 55 kasus, 2012 terdapat 135 kasus, 2013 ada 115 kasus dan di tahun 2014 ada 84 kasus KDRT.
Selain faktor ekonomi, faktor adanya orang ke tiga merupakan faktor lainnya yang terjadi dalam KDRT. “Ada hal-hal lain juga tidak mesti faktor ekonomi, kalau kita di kota faktor orang ketiga yang paling banyak sedangkan di desa yang banyak faktor ekonomi, ” ujarnya, Jumat (27/2).
Zubaidah menambahkan, para isteri saat ini sudah mulai memahami hak-hak serta kewajibannya masing-masing. Untuk itu, kebanyakan ibu rumah tangga yang terkadang sekaligus menjadi kepala rumah tangga sudah mengetahui apa yang harus dilakukan.
“Mereka mulai sadar akan hak-haknya, kalau sebelumnya tidak itu dianggap sebagai bakti kepada suami, ” ungkapnya.
Lanjut Zubaidah, dalam UUD pernikahan sudah terdapat hak dan kewajiban untuk suami dan istri, tapi ketika menjalankan pernikahan tersebut banyak yang rusak dikarenakan tidak menyadari maupun mengabaikan hak dan kewajiban itu.
“Jangan pernah menuntut hak kalau kita belum melakukan kewajiban kita, inilah yang kurang disadari oleh pasangan muda kita dan akibatnya akan menimbukkan KDRT, ” katanya.
Masih katanya, cara berfikir masyarakat yang perlu dirubah, masyarakat harus bisa memilah dan memilih mana yang baik untuk diterapkan dalam menjalankan rumah tangganya. “Masyarakat harus cerdas sekarang, harus pintar memilah dan memilih cara yang baik yang akan diterapkan dalam menjalani kehidupan rumah tangga mereka agar terciptanya keluarga yang selalu harmonis,” tutupnya. (cr61)