Faktor Ekonomi juga Penyebab Perceraian

by -

TANJUNGPANDAN-Kasus perceraian di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur (Beltim) saat ini terbilang cukup tinggi. Ditengarai ada beberapa faktor yang jadi penyebab tingginya angkat perceraian tersebut, salah satunya ialah faktor ekonomi keluarga.

Hal tersebut disampaikan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Belitung menanggapi pemberitaan Belitong Ekspres, edisi Senin (3/8), terkait tingginya angka perceraian di Pulau Belitong.

“Selain itu, adanya juga faktor orang ketiga juga sangat mempengaruhi angka perceraian di Belitong. Seseorang yang sudah berumah tangga dapat tergoda dengan adanya orang ketiga, terutama seorang suami,” Kanit PPA Polres Belitung Brigadir Lartha SH seizin Kapolres Belitung AKBP Candra Sukma Kumara, Selasa (4/8) kemarin.

Seorang suami mudah tergoda dengan hadirnya sosok wanita lain, apalagi sang suami memiliki atau mempunyai penghasilan lebih. “Kalau tidak bisa mengkontrol, maka akan tergoda,” katanya.

Untuk mencegah hal tersebut dan menggurangi angka perceraian di Belitung, pasangan harus saling mengerti dan memahami kekurangan masing-masing. Selain itu, harus saling menghargai antara suami dan istri.

“Apalagi bagi yang memiliki anak. Sedangkan suami dan istri sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Untuk itu, baik suami dan istri harus bisa memahami, jika istri capek pulang kerja maka sang suami yang menjaga anaknya,” tuturnya.

“Begitu juga dengan istri. Jika suami capek saat pulang kerja. Jangan diganggu dulu, nunggu kondisinya tenang setelah itu baru dibicarakan tentang masalah yang terjadi dalam rumah tangga tersebut. Intinya kedua pasangan harus saling memahami dan menjaga,” sambungnya.

Brigadir Lartha SH menambahkan, banyak efek negatif dalam perceraian. Khususnya bagi pasangan cerai yang memiliki anak. “Anak tersebut akan menjadi broken home. Jarang mendapat kasih sayang, dan merusak mental anak tersebut,” pungkasnya.

Seperti yang diberitakan Belitong Ekspres sebelumnya, informasi dari Pengadilan Agama (PA) Tanjungpandan pantas menjadi bahan instropeksi berbagai pihak, termasuk aparatur di pemerintahan daerah.

Sebab, angka permohonan cerai gugat di Kabupaten Belitung terbilang masih tinggi. Dari tahun ke tahun data menunjukkan angka yang masih di atas 900, bahkan hendak menyentuk angka 1000 permohonan gugat cerai.

Sementara data 2015 ini, perkara yang ditangani sebanyak 413 perceraian hingga pertengahan Juli 2015. Jika dibandingkan dua tahun terakhir, kasus perceraian di Belitung mencapai 994 kasus, baik tahun 2013 dan tahun 2014. “Ini lah dia yang terjadi disini. Angkanya cukup tinggi,” kata Syafri.

Sementara berdasarkan data Kementerian Agama Kabupaten Belitung, berdasarkan laporan dari Kepala Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Belitung, bulan Januari hingga Juni 2015 ada sekitar 718 catatan menikah. (kin)