Fasilitasi Penyelesaian Konflik HTI-KPH

by -

PANGKALPINANG –  Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Bangka Belitung menggelar acara Fasilitasi Penyelesaian Konflik dan Kemitraan pada IUPHHK-HTI dan KPH di Hotel Bumi Asih, Kamis (19/11). Peserta yang hadir dalam kegiatan ini perwakilan dari perusahaan HTI dan KPH, UPT-UPT pusat terkait, BKSDA, BPKH termasuk perwakilan dinas se Kabupaten/Kota.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Babel Nazaliyus saat ditemui Babel Pos di sela-sela kegiatan kemarin menjelaskan bahwa, kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Bangka Belitung yang sudah terdaftar ada 8 dan untuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Model ada 4.
Dijelaskannya, Konflik Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industri ( IUPHHK-HTI) adalah KPH tersebut dibagi menjadi 3 skala yakni konflik hukum, konflik ekonomi dan konflik sosial.
Lebih rinci dijelaskan Nazallyus bahwa, untuk konflik hukum sebagian besar sudah ditangani bekerjasama dengan Polda Babel seperti terkait kebun dalam kawasan dan sebagainya. Atau ada juga konflik ekonomi yang diwarnai dengan kepentingan sektor lainnya selain kepentingan-kepentingan hutan yakni seperti permasalahan tambang di dalam hutan, kegiatan wisata di jasa lingkungan yang berada di dalam kawasan hutan dan belum prosedural.
“Makanya hal-hal ini semacam ini terus kita coba untuk diupayakan penyelesaiannya. Contohnya adalah Pemandian Air Panas Pemali yang ternyata posisinya berada di kawasan hutan. Tetapi di sisi lain bagaimanapun taman yang ada di kawasan wisata tersebut sangat diperlukan bagi masyarakat, makanya penyelesaian pemantaan kawasannya tersebut juga harus di selesaikan.
Dulunya memang mereka sudah bikin prosedurnya tetapi masih ada beberapa hal yang kurang dan itupun sekarang sudah diselesaikan sehingga status mereka pun sudah syah. Selanjutnya sekarang ini tinggal bagaimana mereka harus menyelesaikan kewajibannya menggunakan kawasan hutan.
Sedangkan untuk rebo Nazallyus juga menyinggung terkait penjelasannya beberapa waktu lalu yang menurutnya ditangkap salah pengertian oleh media. Ia mengaku pernah mengatakan bahwa akan meneliti dokumen terkait penggunaan kawasan yang dimaksud dan berjanji kalau memang terbukti dokumen tersebut tidak benar atau tidak syah maka akan di stop.
“Hanya saja kemudian pernyataan saya ini justeru muncul di media bahwa dinas akan stop. Tetapi sekali lagi bisa kami pastikan bahwa untuk masalah rebo ini secara aturan tidak ada masalah karena mereka setelah kita cek berada di  HPL atau area penggunaan lain bukan dalam kawasan hutan.
Apalagi dia masuk dalam prioritas daerah sebagai daerah kawasan tapak oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka. Sehingga memungkinkan untuk dilakukan berbagai pengembangan kawasan dengan pembangunan-pembangunan fasilitas kepariwisataan sesuai dengan aturan yang berlaku di Kabupaten Bangka,“ sebut Nazallyus lagi.
Nazallyus mengaku berharap melalui kegiatan yang dilakukan pihaknya ini dapat menginventarisir dan mencoba memfasilitasi permasalahan konflik yang ada di HTI dan KPH. Disamping juga untuk masalah penanganan konflik HTI dan KPH.
Dinas Kehutanan Babel juga ingin ke depan dapat lebih mengembangkan hutan menjadi sumber daya energi misalnya dengan mengembangkan tanaman-tanaman yang bisa menghasilkan sumber-sumber energi baru atau biofuel atau bahan bakar Hayati.
Selama ini bahan bakar yang digunakan masih alami atau sangat tergantung dari sumber posil seperti solar, bensin dan sejenisnya.
Nazallyus menyebut kini setidaknya Dinas Kehutanan Babel juga sudah merekomendasikan 3 macam jenis pohon yakni kemiri sunan, nyamplung dan keranji atau mabai untuk dijadikan sebagai biofuel tersebut. Disamping itu pihaknya kini juga sedang mengidentivikasi salah satu pohon yang ada spesifik Bangka Belitungnya yakni penago.
“Sekarang ini kita juga lagi melihat populasi dan sebarannya pohon penago tersebut yang kita temukan awalnya di Pulau Kalimoa Belitung. Dimana ternyata pohon ini dari zaman dulu telah biasa dipakai oleh masyarakat setempat sebagai bahan bakar untuk kebutuhan memasak dan aktivitas lainnya sehari-hari.
Karena itu saya juga pernah mencobanya langsung dengan cara membakarnya dan hasilnya memang apinya biru dan api biru inilah yang menandakan bahwa kalori dari pohon tersebut tinggi,“tambahnya.
Nazallyus juga mengaku tetap menghimbau untuk masyarakat agar tidak melakukan kebiasaan buruk membuka lahan dengan cara membakar. Karena hal ini akan berdampak merugikan. Apalagi di Babel sekarang juga sudah punya perusahaan listrik atau PLTU yang ada di Tempilang dan di Belitung. Dimana perusahaan tersebut untuk bahan produksinya menggunakan dari bahan kayu.
“Kita harapkan ke depan perusahaan ini bisa menampung kayu apapun untuk bahan produksinya. Dan ini tentunya akan bermanfaat untuk ke depan dalam mengajak masyarakat agar daripada kayu-kayunya dibakar sia-sia maka lebih baik dijual. Sehingga pastinya lebih memiliki nilai ekonomis sebagai alternatif usaha dan memang inilah saatnya untuk bergerak,“ pungkasnya. (lya)