Fuel Card Tuai Pro Kontra

by -
Fuel Card Tuai Pro Kontra

Fuel Card Tuai Pro Kontra

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Penerapan kartu Brizzi Fuel Card oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel), menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat Belitung. Kartu yang diperuntukkan membeli BBM baik solar maupun premium subsidi ini, dikeluhkan masyarakat maupun pengusaha travel di Belitung.

Salah satu pengusaha travel di Belitung, Kusumah Kosasih mengatakan keberatan dengan penerapan fuel card ini. Sebab melihat pekerjaannya sebagai traveler tentunya akan banyak menggunakan banyak BBM sebagai bahan bakar kendaraannya.

“Kalau kita cuma dijatah 20 liter saja perhari tidak akan cukup pastinya. Karena tamu kita sudah terjadwal untuk keliling pulau Belitung membawa wisatawan,” kata pelaku wisata di www.belitongisland.com ini kepada belitongekspres.co.id, Rabu (27/11).

Ditambahkannya, jika ada klien dan pihaknya harus ke berbagai lokasi di Belitung maupun Belitung Timur, maka dipagi harinya ia sudah mulai mengisi full BBM untuk semua kendaraannya. “Ini agak membingungkan. Misal saya mau mengisi penuh tanki, tentu tak bisa karena cuma dibatasi 20 liter saja. BBM pasti habis dalam satu hari jika ada rute ke Belitung Timur,” tuturnya.

Sementara, Anggota Anjelo Broder Club, M. Ansyar menyebutkan program ini sebenarnya baik dan bagus, namun perlu ditinjau kembali. Hal ini menurutnya terkait sarana dan prasarana pendukung supaya tidak jadi bumerang nantinya bagi masyarakat Belitung.

Seberapa banyak SPBU atau APMS yang ada di pulau ini? Bayangkan jika masyarakat yang berdomisili di Simpang Pesak, Ibul, Badau, Kelekak Datuk atau Renggiang? Seberapa jauh jarak tempat mereka mengisi bahan bakar dengan tempat tinggal mereka? Sedangkan roda 2 hanya bisa mengisi 5 liter per hari, alih-alih ingin mengurangi beban masyarakat, malah akan menghambat kinerja rakyat untuk berusaha,” papar Ansyar.

Ansyar meminta supaya pemerintah provinsi meninjau kembali rencana pemberlakuan Brizzi Fuel Card ini. Menurutnya jika dipaksakan ini akan menimbulkan efek tidak bagus bagi masyarakat luas.

“Ekonomi saat ini sedang terpuruk, jangan ditambah dengan persoalan dan permasalahan baru. Truk masyarakat yang biasa membawa buah sawit, jika dibatasi hanya 60 liter per hari, otomatis akan mengurangi pendapatan mereka. Mereka yang bisa sehari bisa 7 hingga 10 rit per hari dengan pemakaian solar 70 hingga 85 liter perhari, otomatis akan membuat penghasilan mereka berkurang. Sementara biaya hidup tinggi, belum lagi harus bayar cicilan mobil per bulan. Bukannya menyelesaikan masalah, malah membuat masalah baru bagi rakyat, hidup sudah susah jangan ditambah susah lagi dengan kebijakan yang terkesan dipaksakan,” jelas Ansyar.

Ia menambahkan, sebelumnya masyarakat terbantu dengan penjualan BBM eceran, dan ada perputaran ekonomi bagi masyarakat yang berjualan eceran. Jika tetap dipaksakan memberlakukan kartu ini, bukan jadi tertib malah jadi ruwet, niat baik pemerintah malah jadi musibah bagi rakyat.

“Kita minta supaya pemerintah meninjau ulang rencana pemberlakuan kartu ini bagi masyarakat. Mending pemerintah fokus untuk menaikkan harga lada dan karet, masyarakat sudah terhimpit, jangan dihimpit lagi dengan kebijakan baru yang akan membuat rakyat makin terjepit ditanahnya sendiri,” pinta Ansyar.

Editor: Bardian
Reporter: Faizal