Gelar Workshop Multipihak Bagi Suku Sawang

by -

MANGGAR – Keberadaan suku Sawang yang tinggal di Dusun Seberang Desa Selinsing, Kecamatan Gantung Belitung Timur (Beltim), hampir punah. Tahun 2012 lalu, berdasarkan penelitian Prof. Iwabuchi, mereka terpencar dalam kelompok-kelompok kecil dan konsentrasi terbesar di dusun Seberang.

Tercatat hanya sekitar 59 Kepala Keluarga atau hanya tersisa 185 jiwa, mendiami sebuah unit perumahan yang merupakan relokasi komunitas tersebut ke daratan. Kebanyakan komunitas suku Sawang diidentikkan dengan pekerja kasar, tidak berpendidikan dan sering mendapat perlakuan diskriminatif.

Hal tersebut diungkapkan dalam workshop multipihak untuk mendapatkan dukungan program peduli inklusi sosial di Kabupaten Beltim, yang dilaksanakan di ruang pertemuan Hotel Oasis Manggar, Kamis (27/8) kemarin. Workshop digagas Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dan Penelitian AMAIR (Air Mata Air) selaku lembaga yang peduli pada komunitas suku Sawang.

Deputi Bidang Program LPMP Amair (Air Mata Air), Fikri Firdianto menjelaskan keberadaan LPMP Amair adalah untuk melakukan berbagai program dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat dan penelitian. Terutama masyarakat di dalam dan sekitar hutan serta kawasan bekas tambang timah di Kabupaten Beltim termasuk masyarakat adat lokal dari stigma negatif maupun inklusi sosial.

Dipilihnya suku Sawang sebagai bahasan workshop berdasarkan beberapa alasan. Selain stigma negatif yang melekat, kepunahan penutur bahasa dan kehilangan akar budaya, suku Sawang minim pendidikan. Hasil survey terakhir, 109 jiwa suku Sawang berpendidikan Sekolah Dasar (SD) bahkan tidak tamat.

“Pelibatan multipihak dalam workshop bertujuan untuk mengubah banyak hal. Salah satunya kebijakan Pemerintah yang berpihak kepada kepentingan suku Sawang. Masing-masing pihak, diharapkan terlibat dalam membantu suku Sawang. Minimal suku Sawang mendapat perlakuan yang sama terhadap layanan dasar,” ungkap Fikri.

Melalui diskusi multipihak, setidaknya akan menghasilkan formulasi yang tepat guna mengetahui kebutuhan suku Sawang. Kemudian, memilih prioritas yang paling atas sebagai target.

“Sebelumnya kita sudah memulai melakukan beberapa kegiatan yang ditujukan bagi suku Sawang. Tetapi melalui workshop multipihak, semua akan bergerak terlibat,” jelas Fikri.

Workshop multipihak untuk mendapatkan dukungan program peduli inklusi sosial di Kabupaten Belitung Timur, juga menghadirkan narasumber dari Bappeda Kabupaten Beltim dan Kepala Dinas Cipta Karya dan Perumahan Rakyat. Sedangkan peserta workshop melibatkan berbagai SKPD terkait dan suku Sawang sebagai sasaran kegiatan.

“Kita ingin kegiatan workshop ataupun sejenisnya dapat berkelanjutan dimasa mendatang. Tentunya, dengan harapan agar suku Sawang mengalami perubahan sosial yang lebih baik dan sama dengan suku lainnya,” tutup Fikri. (feb)