Gerakan Literasi Menuju Generasi Emas

ilustrasi

Oleh: Firdaus, SPd
Guru Sejarah SMA Negeri 1 Gantung (Beltim)

RajaBackLink.com

belitongekspres .co.id, DI ERA kecanggihan teknologi informasi saat ini, hal yang menjadi daya tarik bagi anak-anak kita bukanlah buku, namun gawai dan televisi.

Gawai dan televisi menjadi barang yang sangat sering di akses oleh semua kalangan anak-anak dan pelajar remaja. Mereka semua khusuk dan merunduk bermain game atau aktif di dunia media sosial melalui gawainya. Namun bagaimana dengan daya tarik buku?

Rendahnya kemampuan literasi (khususnya budaya baca) siswa kita diakui oleh Dr. Taufik Ismail menunjukkan tingkat yang masih rendah.

Dari indeks membaca, rata-rata penduduk Indonesia hanya membaca 4 judul buku setahun dan masih jauh dari standar UNESCO yaitu 7 judul buku dalam setahun.

Indonesia masih memiliki peringkat yang rendah dalam indeks membaca. Data hasil penelitian tahun 1996, rata-rata budaya membaca lulusan SMA masih 0 buku setiap tahun.

Kalah dengan Jerman 32 judul buku, Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku. Ditambah dengan data UNESCO, persentase minat baca orang Indonesia hanya 0,01 persen, artinya dari seribu orang hanya satu yang terbiasa membaca.

Dari 65 negara Indonesia berada pada peringkat 60 dan masih di bawah Malaysia. Berdasarkan data tersebut, sudah bisa terlihat bahwa Indonesia masih jauh ketinggalan dari negaranegara lain, bahkan dari Malaysia yang konon puluhan tahun lalu, banyak mengimpor guru dari Indonesia, dan berguru pada bangsa kita, namun mengapa sekarang Indonesia ketinggalan?

Mungkin tradisi membaca dan menulis masih agak lumayan muncul di kalangan perguruan tinggi. Padahal sejak jaman Belanda, tradisi intelektual ini sudah dimunculkan di tingkat sekolah. Siswa AMS (sekolah Belanda) diwajibkan harus membaca 25 judul buku sebelum mereka lulus.

Dengan kebijakan seperti itu kita bisa melihat hasilnya yaitu tradisi intelektual yang kuat dari para tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan yang mencicipi sistem persekolahan Belanda tersebut pada waktu itu.

Pemerintah melalui Kemdikbud disponsori Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menggaungkan kembali budaya literasi, menghidupkan Gerakan Literasi Nasional, termasuk salah satunya gerakan literasi sekolah.

Harapannya, para pelajar Indonesia lebih melek mengolah informasi dari berbagai sumber melalui kegiatan literasi. Kegiatan literasi yang selama ini sering dimaknai sebagai sesuatu yang berhubungan dengan tulis menulis saja seperti yang tercantum dalam KBBI, perlu diubah.

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan kesadaran budaya baca ini, selaian menjadi tanggung jawab pemerintah, namun semua lapisan masyarakat baik orang tua, guru dan lingkungan masyarakat juga harus berparan aktif, sebab salahsatu upaya kita menjadikan pendidikan berkualitas adalah melalui peningkatan budaya literasi di sekolah.

Sebagaimana di ketahui, pentingnya pendidikan yang berkualitas sangat urgen di era persaingan global yang kian kompetitif. Untuk menjadikan pendidikan berkualitas, tentu sangat banyak faktor yang berkaitan dan saling mempengaruhi.

Baca Juga:  MISTERI DAN HISTERIA DALAM POLITIK

Salah satu upayanya adalah melalui meningkatkan budaya literasi terutama di lembaga pendidikan. Di antaranya melalui pendidikan karakter dan pembiasaan kepada peserta didik melalui kebijakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

Namun untuk menyukseskan rencana besar ini, kita tidak bisa instant dan bersifat temporer. sebab yang akan dibangun adalah budaya, maka dibutuhkan suatu pembiasaan (habbit) yang harus terus menerus dilakukan sejak usia dini dan untuk itu konsistensi sangat diperlukan.

Untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa misalnya, kita bisa meniru negara Vietnam. Negara yang pernah mengalami konflik perang saudara berkepanjangan, saat ini sudah lebih dulu menyadari pentingnya mereformasi dunia pendidikannya melalui kegiatan literasi, yang didukung melalui metode gerakan masyarakat mengumpulkan donasi dan buku dan bahan literasi lain, serta menyebarkan melalui pendirian perpustakaan di seluruh pelosok negara tersebut.

Dan kita bisa melihat hasilnya saat ini yaitu kemajuan negara Vietnam yang cukup pesat di Asia Tenggara. Jika kita bandingkan dengan siswa di negeri kita, sumber daya peserta didiknya sangat berpotensi menjadi yang terdepan tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, namun di lingkup Asia bahkan Dunia.

Untuk itu, gerakan literasi yang sekarang ini marak di sekolah-sekolah baik dari jenjang sekolah dasar hingga menengah, tidak hanya dibebankan tanggung jawabnya kepada pemerintah semata, tetapi justru dimulai dari unit terkecil yaitu keluarga.

Saya belum memiliki data ilmiah tentang upaya penumbuhan budaya membaca di keluarga, tapi saya meyakini bahwa keluarga di Indonesia (baik di perkotaan, apalagi di pedesaan), masih belum sepenuhnya menyadari pentingnya budaya membaca apabila dilihat dari indikator persentase pengeluaran keluarga untuk membeli buku.

Selain di keluarga, membangun budaya letarasi harus dimulai dari Sekolah. Mengapa Sekolah? Sebagai sebuah budaya, literasi bermula dari kemampuan yang terdapat pada tiap individu dalam sebuah komunitas, seperti seorang siswa dalam suatu sekolah.

Siswa yang literat akan memiliki kesenangan atau kegemaran terhadap aktivitas baca-tulis, sehingga dalam pertumbuhan dan perkembangan melalui pembiasaan.

Kemampuan tersebut akan menjadi kebiasaan yang membentuk suatu pola kemampuan literasi antara satu siswa dan siswa lain, sehingga bukan lagi sekadar kemampuan tunggal, melainkan kemampuan masyarakat, komunitas, atau warga sekolah.

Oleh karena itu, budaya literasi adalah sesuatu yang lebih luas dan yang lebih penting daripada sekadar keterampilan teknis membaca dan menulis yang bersifat individualistis.

Sekolah sebagai pusat kebudayaan mempresentasikan sebuah miniatur masyarakat. Hal ini berarti bahwa sebuah sekolah akan memiliki nilai-nilai, norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, sikap atau tindakan yang ditunjukkan oleh seluruh warga sekolah sehingga membentuk sebuah sistem sekolah.

Sifat-sifat atau karakteristik itu merupakan akumulasi pengalaman, pengamatan, dan penghayatan seluruh warga sekolah sejak sekolah tersebut berdiri.

Baca Juga:  Muslimah Perindu Surga

Namun, secara umum, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa literasi belum menjadi budaya dalam kehidupan di sekolah. Mengapa ? Karena salah satu penyebab adalah belum ada panduan literasi sekolah yang aplikatif, yang dapat menjadi acuan dalam implementasi literasi di sekolah.

Karena sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berperan sangat penting bagi pengembangan potensi sumber daya manusia.

Namun harus kita akui secara jujur, bahwa secara umum kegiatan intelektual membaca dan menulis belum menjadi tradisi di sekolah.

Bahkan di lingkungan sekolah yang notabene merupakan sebuah komunitas akademik, kegiatan membaca dan menulis di kalangan guru maupun siswa masih rendah.

Dari sinilah dibutuhkan visi dan misi sekolah untuk membangun Gerakan Literasi Sekolah. Visi dan misi ini funsinya sebagai perekat untuk menyatukan kepingan potensi yang terserak sehingga gerakan membaca dan menulis yang dimulai dari siswa, guru, kepala sekolah hingga tenaga kependidikan menjadi perekat kultur sebuah kebutuhan.

Sehingga dengan begitu, akan nampak kesungguhan dari para ‘stakeholder’ (pengambil kebijakan sekolah) agar budaya baca dan tulis ini menjadi suatu orientasi akademik mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Untuk mendekatkan sumber literasi kepada peserta didik atau siswa sebenarnya adalah sederhana saja. Misalnya selain memberdayakan perpustakaan sekolah secara optimal, dengan berbagai kegiatan kompetisi. Dan tak kalah pentingnya ialah dengan memanfaatkan setiap sudut kelas sebagai sudut baca.

Guru bersama siswa dapat menciptakan perpustakaan mini di sudut maupun di depan kelas agar siswa lebih dekat dan mudah dalam mengakses keberadaan buku sebagai sumber literasi.

Untuk menciptakan sudut baca yang menarik dan kaya akan informasi, bukan hanya tanggung jawab guru namun peserta didik pun terlibat di dalamnya.

Dengan melibatkan peserta didik dalam pengelolaan sudut baca akan menumbuhkan sikap tanggung jawab dan rasa memiliki dalam diri peserta didik.

Selain berbagai buku yang syarat informatif dan sebagai sumber literasi dalam kelas, guru juga dapat memanfaatkan hasil karya siswa baik berupa gambar, puisi, cerpen, maupun anekdot  yang di pajang di dinding kelas sehingga menjadi sumber inspirasi dan media penumbuhan rasa percaya diri para peserta didik.

Akhirnya, untuk mewujudkan siswa atau pelajar yang literat, salah satu cara adalah dengan mengoptimalkan sudut kelas sebagai sudut baca, apresiasi hasil karya siswa dengan memajangnya di dinding kelas dan peran  guru sebagai ‘role mode’ yang senantiasa mengoptimalkan kemampuannya dan berusaha menjadi guru literat.

Dengan teladan guru literat, maka peserta didik kita nanti akan menjadi manusia literat sejati yang akan memenangkan peran sumber daya manusia menuju ‘Generasi Emas 2045’ mendatang. Insya-Allah: Semoga! (*)

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply