GP Ansor NU Prihatin Pembangunan Masjid Molor

by -

*Minta Aparat Penegak Hukum Turun Tangan Lakukan Penyelidikan

TANJUNGPANDAN– Ormas Islam GP Ansor Nadhlatul Ulama (NU) Kabupaten Belitung, menyatakan sangat prihatin dengan molornnya pembangunan masjid Al Ikhsan di Jalan Jenderal Sudirman Air Rayak Tanjungpandan. Seharusnya pembangunan masjid yang menelan anggaran dana Rp 9,1 Miliar, selesai tepat waktu, pada 28 Desember 2016 lalu.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Seharusnya, pembangunan masjid selesai dan bisa digunakan masyarakat sekitar untuk melakukan aktivitas keagamaan Islam,” kata Ketua GP Ansor Nadhlatul Ulama (NU) Kabupaten Belitung Aldi Reinaldi, kepada Belitong Ekspres Senin (9/1) kemarin.

Menurut Aldi, molornya pembangunan ini sangat berpengaruh bagi aktivitas ibadah warga sekitar. Meski begitu, ia meminta kepada masyarakat untuk tetap beribadah di rumah atau di surau lain walau kondisi masjid belum selesai.

Atas molornya pembangunan masjid dua lantai ini, pihaknya juga meminta aparat penegak hukum di Belitung melakukan penyelidikan, untuk mengendus jika adanya indikasi korupsi. Jika sampai dana pembangunan ini disalahgunakan atau di korupsi, iapun sangat menyayangkannya.

“Pihak yang berwajib (polisi dan kejaksaan,red) harus turun tangan dalam menangani kasus ini. Jika ada dugaan indikasi korupsi, ya harus ditindak,” tegas Aldi.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Belitung Edi Haryadi mengaku tidak mengetahui adanya molornya pembangunan itu. Sebab, dari pihak pengurus Masjid Al Ikhsan, tak pernah terbuka dalam masalah ini.

“Kami belum memantau hal tersebut. Kami belum bisa bergerak, sebab pihak masjid tak pernah melaporkan hal itu,” kata Edi Haryadi.

Nampaknya, ada miskomunikasi antara Ketua DMI Belitung dengan ketua BKM Al-Ikhsan. Sebab, sebelumnya, ketua BKM Al-Ikhsan Noval Syaihendra mengaku sudah mengetahui molornya pembangunan masjid ini.

Meski demikian, pihaknya mengaku cukup memaklumi kendala keterlambatan pekerjaan pembangunan masjid di desanya itu. Noval berharap agar pembangunan masjid ini segera diselesaikan dalam masa perpanjangan waktu kontrak tersebut.

“Karena ini menyangkut kepentingan orang banyak, semua masyarakat pasti berharap pembangunan masjid bisa cepat selesai, tentunya dengan kualitas terbaik,” kata Noval kepada Belitong Ekspres saat ditemui di kediamannya, Jumat (30/12) lalu.

Ia menambahkan, apabila pekerjaan pembangunan tidak bisa diselesaikan, apalagi putus kontrak, semua masyarakat sudah pasti kecewa.

“Kita tetap berharap segera selesai. Kalau tidak, jelas semua masyarakat kecewa lah,” tandasnya.

Sementara itu, Kapolres Belitung AKBP Sunandar mengaku sudah mengetahui adanya berita molornya pembangunan masjid yang terletak di Kawasan Jembatan Air Raya ini. Namun, pihak kepolisian masih belum dapat melakukan penyelidikan.

Termasuk jika adanya indikasi dugaan korupsi dalam pembangunan ini, AKBP Sunandar masih enggan berkomentar. Pasalnya, saat ini pembangunan masjid masih berjalan dengan tambahan waktu 50 hari kerja.

“Kami masih belum bisa lidik mengenai masalah ini. Sebab pembanguna belum selesai, dan juga masa pemeliharaan. Jadi, untuk saat ini, kita belum bisa lidik,” kata AKBP Sunandar kepada Belitong Ekspres, kemarin.

Pihak kepolisian baru bisa melakukan penyelidikan dan penyidikan setelah pembangunan masjid yang menelan biaya Rp 9,1 selesai.

Senada juga diungkapkan Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Belitung Doni Ferdiansyah.

Menurutnya, Kejaksaan Negeri Belitung masih belum bisa melidik kasus ini. Sebab, masjid yang dikerjakan oleh Kontraktor PT Zuti Wijaya Sejati masih dalam tahap pembangunan. Belum lagi, masa pemeliharaan.

“Jika pihak kejaksaan melakukan penyelidikan dan penyidikan, maka akan terkesan cari-cari dan penghambat pembangunan,” kata Pria yang pernah bertugas di Kejaksaan Negeri Surabaya ini.

Diberitakan sebelumnya, Bupati Belitung Sahani Saleh menyatakan pesimis pembangunan Masjid Al-Ikhsan di Jalan Jenderal Sudirman Desa Aik Rayak Tanjungpandan, bisa diselesaikan. Meskipun, pembangunan masjid dua lantai itu, telah diberikan perpanjangan waktu kontrak 50 hari kerja.

Itu disampaikan Bupati menanggapi molornya pembangunan masjid yang menghabiskan anggaran dana sebesar Rp. 9,1 miliar tersebut. Seharusnya sesuai kontrak pembangunan masjid sudah selesai pada 28 Desember 2016 lalu. Sebab, pembangunan sudah memakan waktu kurang lebih 7 bulan.

Sanem sapaan akrab Bupati Belitung, mengaku tidak begitu yakin karena kondisi fisik bangunan masjid baru mencapai 65 persen saat habisnya masa kontrak pertama. Oleh karenanya, tidak mungkin pekerjaan bisa diselesaikan hanya dalam waktu 50 hari. Menurutnya, jika ingin mendapatkan hasil maksimal, tentu akan memakan waktu yang lebih lama.

“Seharusnya kemarin itu, ketika sudah mepet kontraktor harus menambah jumlah tenaga kerja. Mana mungkin pembangunan itu, bisa diselesaikan dalam waktu 50 hari. Apalagi bangunannya berupa coran (dag), tentu memerlukan waktu yang lama baru bisa dikatakan betul-betul selesai,” ujar Sanem kepada Belitung Ekspres, Selasa (3/1) lalu.

Sementara, atas molornya pembangunan Masjid Al-Ikhsan, PT. Zuty Wijaya Sejati selaku kontraktor terancam dikenakan denda keterlambatan sebesar Rp.450 juta.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Belitung Pratiwi mengatakan, denda akan diberikan selama masa perpanjangan waktu kontrak 50 hari kedepan.

Selama masa perpanjangan kontrak itu, rekanan diharuskan membayar denda dengan rumus 1/1.000 x nilai proyek atau maksimal 5% dari nilai proyek. Denda itu dihitung setiap hari selama masa perpanjangan.

“Mulai hari ini (kemarin,red) denda sudah diberlakukan. Jadi, kalau pekerjaan selesai dalam waktu 50 hari, denda yang harus dibayar sekitar Rp.450 juta,” kata Pratiwi kepada Belitong Ekspres, Kamis (29/12) lalu.

Menurutnya, progres fisik pembangunan masjid diperkirakan baru sekitar 65 persen. Adapun permasalahan molornya pembangunan masjid, karena pekerjaan baru dimulai pada bulan puasa dan pekerja banyak pulang kampung saat hari Raya Idul Fitri.

Selain itu, ada beberapa item pekerjaan pembangunan masjid yang tidak sesuai dengan rencana awal, sehingga harus direvisi atau CCO. Permasalahan lainnya juga, yaitu, ada peralatan kerja yang harus didatangkan dari luar Pulau Belitung, seperti bore pile.

“Jadi itulah sejumlah kendalanya, sampai saat ini kita juga sudah melakukan CCO sebanyak 3 kali. Alat bore pile juga harus nunggu lama karena didatangkan dari luar Belitung. Termasuk juga kendala cuaca hujan,” jelasnya.

Meski demikian, ia berharap pembangunan masjid Aik Rayak bisa diselesaikan pada masa perpanjangan waktu 50 hari tersebut.

“Harapan saya bisa segera selesai, jadi pembayaran dendanya bisa berkurang, maksimal selesai 40 hari lah,” ucapnya.

Pratiwi menambahkan, kalau pembangunan masjid tidak selesai pada masa perpanjangan waktu, maka akan diberikan sanksi pemutusan kontrak.

“Selain itu, sanksi lain kontraktor juga akan diblacklist, dan uang jaminan pelaksanaan pekerjaan bisa dicairkan,” tandasnya.

Pantauan Belitong Ekspres hingga Senin (9/1) kemarin, sejumlah pekerja nampak terus mengebut pekerjaan agar pembangunan selesai dalam perpanjangan waktu 50 hari ke depan. Bahkan, pantauan di lokasi penyelesaian pembangunan masjid tersebut dikebut siang malam. (kin/yud)