Guru dan Budaya Literasi

RajaBackLink.com

Oleh: Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

LITERASI sekarang ini semakin sering disosialisasikan lewat berbagai media. Ada keyakinan yang kuat bahwa literasi adalah kunci kemajuan sebuah bangsa. Begitu tulis Berdasarkan asumsi ini maka literasi harus menjadi budaya jika bangsa Indonesia ingin maju. Tanpa budaya literasi, kemajuan rasanya berat untuk diwujudkan. Individu yang maju hidupnya secara umum memiliki budaya literasi yang kokoh. Begitu juga dengan negara yang maju.

Suparto Brata (2011) dalam karyanya berjudul “Ubah Takdir Lewat Baca dan Tulis Buku”, sastrawan Jawa yang beberapa kali memperoleh Hadiah Rancage ini memberikan contoh negara Inggris yang maju berkat gagasan-gagasan masyarakatnya yang cemerlang. Padahal Inggris –dan negara maju lainnya– tidak memiliki sumber daya alam melimpah. Gagasan cemerlang diperoleh karena orang Inggris rajin membaca dan menulis. Keyakinan Suparto Brata ini bukan hanya berbasis asumsi semata, melainkan didukung oleh data-data empiris dan juga pengalaman personalnya. Ada banyak lagi contoh pengaruh positif literasi terhadap kehidupan. Proses membaca dan menulis sesungguhnya bukan sekadar kegiatan menyerap pengetahuan, tetapi juga bagaimana mereproduksi dan merekonstruksinya sesuai konteks tertentu. Jika ini mampu dilakukan maka transformasi –individu atau sosial– bisa berlangsung secara maksimal sesuai dengan harapan.

Pengaruh literasi juga sangat kuat. Salah satu kegiatan literasi, yaitu menulis,memiliki pengaruh sangat luas dan lebih awet dibandingkan ucapan. Karya tulis bisa dibaca oleh masyarakat luas dalam rentang waktu yang lama, sementara ucapan lisan hanya diketahui dalam skala yang terbatas. Misalnya kita mendengarkan ceramah, maka hanya hadirin yang ada di tempat ceramah itu saja yang tahu, sementara mereka yang berada di lain tempat tidak mengetahuinya. Selain itu, apa yang dibicarakan dalam forum ceramah itu akan hilang begitu saja ketika acara usai. Sementara tulisan, sepanjang bentuk fisiknya masih ada, masih dapat dibaca, ditelaah, dan terus dikaji sepanjang masa.

Kita bisa belajar kepada para penulis besar dunia Islam. Salah satu contohnya adalah Imam Al-Ghazali. Kita semua tidak ada yang tahu secara pasti mengenai Al-Ghazali dan kehidupannya. Kita semua juga tidak ada yang berkenalan secara fisik dengan beliau. Beliau hidup di masa yang jauh sekali dengan kita, karena beliau telah meninggal dunia pada tahun 1111 M. Jadi, rentang waktunya memang sangat jauh dari kita. Tetapi nama Imam Al-Ghazali dan pemikirannya masih memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan umat Islam sampai sekarang ini karena –salah satu sebabnya–beliau meninggalkan karya tulis yang berlimpah. Karya tulis yang dihasilkan oleh Imam Al-Ghazali sangat bermutu. Beliau patut dianggap sebagai ulama-intelektual raksasa, bahkan oleh gurunya sendiri.

Baca Juga:  Antara Pendidikan Keluarga dan Kasih Sayang

Mungkin menyebut nama Imam al-Ghazali terlalu besar dan terlalu jauh dari konteks kita saat ini. Kalau dalam konteks sekarang, mungkin bisa kita sebut nama novelis yang cukup terkenal, yaitu Andrea Hirata. Salah satu novel karyanya yang fenomenal “Laskar Pelangi” telah membius ratusan ribu pembaca Indonesia dan manca negara. Tidak hanya itu, novel tersebut ternyata memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan banyak orang. Inspirasi dari novel “Laskar Pelangi” ternyata tidak sebatas menghibur pembaca saja, tetapi juga mengubah kehidupan orang-orang dari berbagai latar belakang. Selain Andrea Hirata, tentu ada banyak lagi tokoh yang menebarkan pengaruh kepada masyarakat dalam skala luas karena karya-karya mereka. Sebenarnya bukan persoalan besar atau kecilnya pengaruh, tetapi yang lebih penting adalah mau dan mampu menulis sehingga tulisan yang dihasilkan dapat dibaca oleh banyak orang. Pengaruh itu sendiri sifatnya relatif dan tidak jarang di luar dugaan penulisnya.

Dalam gerakan literasi sekolah, guru adalah garda depan  yang dicontoh dalam kegiatan literasi. Karena sekolah merupakan wadah paling strategis untuk menanamkan budaya literasi, maka seorang guru harus menjadi tauladan (modelling) bagi anak didiknya. Peran penting guru saya kira tidak perlu untuk diperdebatkan lagi. Semua pihak mengakui bahwa guru itu peranannya sangat penting dalam dunia pendidikan. Tanpa guru, mustahil kita bisa berada di sini. Pada titik inilah saya kira apresiasi dan ucapan terima kasih harus kita berikan secara tulus kepada Bapak dan Ibu guru yang telah mendidik dan membimbing kita semua.

Namun demikian bukan berarti guru sudah sempurna dalam menjalankan tugasnya. Guru harus menyadari bahwa tugasnya tidak ringan. Dibutuhkan berbagai upaya agar guru bisa menjalankan tugasnya secara lebih maksimal. Jika ini mampu dilakukan maka kemajuan hidup masyarakat secara luas akan dapat terwujud.
Salah satu hal penting yang saya kira seharusnya dipikirkan oleh guru adalah membangun budaya literasi. Di era sekarang ini guru idealnya memikirkan strategi transformasi secara lebih luas. Pembelajaran di kelas memang diyakini sebagai media paling efektif dalam menyebarkan pengetahuan, wawasan, sikap dan keterampilan hidup. Persoalannya bukan pada pembelajaran itu sendiri, tetapi pada strategi implementasinya sesuai dengan konteks zaman. Pola-pola pembelajaran lama tidak bisa lagi dipatenkan tanpa perubahan. Dibutuhkan keberanian untuk menghadirkan perspektif baru yang memperkaya terhadap model dan pola lama.

Baca Juga:  PEREMPUAN, POLITIK & CINTA

Literasi adalah pilihan yang cukup efektif untuk dikembangkan. Menurut Haryanti (2014) literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca, sedangkan budaya literasi adalah kebiasaan berpikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca dan menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Membudayakan atau membiasakan membaca dan menulis itu perlu proses. Lewat menulis, ide-ide dan gagasan seorang guru dapat tersalurkan secara luas dan lebih awet.

Menulis seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi guru. Hal-hal penting –berupa pengetahuan, pengalaman atau pemikiran– dalam hidup seorang guru dapat direkam lewat tulisan. Aspek ini penting untuk direnungkan bersama karena dalam realitasnya tidak sedikit guru yang justru terbebani dengan tugas-tugas yang berkaitan dengan membaca dan menulis. Padahal, salah satu tugas yang harus dilakukan oleh seorang guru, seperti kepentingan naik pangkat, berbentuk tugas menulis. Jika seorang guru paham dan menyadari terhadap hal ini, semestinya ia berusaha sekuat mungkin untuk menjadikan menulis sebagai budaya. Guru yang mau menulis hampir pasti hidupnya akan maju. Kemajuan ini dicapai karena guru yang menulis itu pasti akan rajin membaca. Seorang penulis adalah seorang pembaca. Akumulasi bacaan demi bacaan kemudian direproduksi menjadi pengetahuan baru yang bermanfaat. Pada titik inilah sesungguhnya guru yang mau menulis akan dapat mengalami kemajuan hidup. Wallahu ‘Alam (*)

Rate this article!
Guru dan Budaya Literasi,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply