Guru Nyatakan Tak ada Hukuman

by -

*Dalam Kasus Anak-anak Soal Infak dan Keberadaan Kantin

foto A-sdn 38 tanjung guru bantah tak ada saknsi jemur dll

Foto : ainul yakin/be
Kepala Sekolah SD Negeri 38 Tanjungpandan Agustiningsih didampingi sejumlah guru menunjukkan buku rekap dana infak siswa.

TANJUNGPANDAN-Kepala Sekolah SD Negeri 38 Tanjungpandan Agustiningsih dan para guru menyatakan, tak ada kewajiban berupa surat resmi dari Kepala Sekolah mengenai infak sebesar Rp 5 ribu per anak per minggu. Sebab, infak itu bersifat sukarela dan hampir semua sekolah menerapkan dana infak ini dengan besaran bebas, bahkan ada juga yang tak berinfak karena memang tidak ditetapkan.
Selain, meluruskan kabar soal infak yang diwajibkan, Kepsek dan para guru juga membantah dengan tegas, tak ada ancaman menghukum siswa-siswi dengan dijemur atau tak akan naik kelas jika jajan di kantin belakang sekolah. “Kami tegaskan tak ada kewajiban infak Rp 5 ribu per siswa per minggu, salah itu, atau kabar soal ancaman dijemur dan tidak naik kelas segala,’’ tandas Agustiningsih didampingi sejumlah guru kepada Belitong Ekspres, Sabtu (12/9), siang, lalu.
Menurut Kepsek, soal infak, pihak sekolah dan guru membebaskan jumlah infak sesuai kemampuan siswa-siswi. Bahkan, ada yang tidak berinfak pun, pihak sekolah tidak pernah meminta siswa, apalagi dikaitkan dengan hukuman tertentu.
“Ini lihat catatan soal infak, ada yang Rp 1000 ada yang Rp 2000 yang infak, beda-beda, jadi sesuai kemampuan,’’ ungkap Agustiningsih di kantor Belitong Ekspres, sembari menunjukkan catatan buku rekap infak SDN 38 Tanjungpandan.
“Saya sudah menanyakan kepada para guru, mengenai nominal tersebut. Dan para guru juga membantah, kalau mereka memintai uang sebesar Rp 5 ribu kepada murid,” sambungnya.
Dikatakan, Agustiningsih saat acara pertemuan di SDN 38 Tanjungpandan, Jumat (11/9) lalu yang dihadiri pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dirinya belum bisa memberikan keterangan detil. Sebab, dia akan merundingkan terlebih dahulu dengan para guru mengenai infak ini apakah benar ada kewajiba Rp 5 ribu per anak. Selain itu, dalam pertemuan waktu relatif terbatas.
“Usai pertemuan, kami memanggil guru-guru. Setelah itu, saya tanyakan apa benar, para guru menargetkan infaq perminggu sebesar Rp 5 ribu ke murid? Mereka para guru menjawab tidak, jadi tidak benar kami menarik infaq Rp 5 ribu per murid,” katanya.
Soal hukuman bagi siswa-siswi lantaran jajan di kantin belakang sekolah, ia juga membantah. Diungkapkan Agustiningsih, dia tidak pernah melarang siswa untuk jajan di kantin belakang sekolah, apalagi menghukumnya.
“Kami menghukum para siswa lantaran mereka tidak mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah,red) dan juga tugas sekolah. Hukumannya pun, tidak dijemur. Para siswa ini disuruh mengerjakan PR di luar kelas,” pungkasnya.
Beberapa guru yang mendampingi Kepsek, dengan lugas juga menyatakan tak ada hukuman kepada siswa-siswi. “Kan semua sudah terbukti tak ada yang tak naik kelas, semua bisa naik kelas. Jadi adanya kabar ancaman kepada siswa-siswi itu tidak berdasar,’’ kata seorang guru kepada BE. (kin)