Guru Pelukis Masa Depan

by -
Sadi Suharto, Guru Pelukis Masa Depan
Sadi Suharto, Guru Pelukis Masa Depan
Sadi Suharto

Selamat HUT PGRI ke 74 dan Hari Guru Nasional, 25 November 2019

Oleh: Sadi Suharto, S.Ag*

Momentum Hari Ulang Tahun PGRI ke-74 dan Hari Guru Nasional Tahun 2019, dunia Pendidikan khususnya guru dan tenaga kependidikan menyambut baik hari yang ditunggu-tunggu yaitu tanggal 25 November. Sesuai dengan Keputusan Presiden R.I. Nomor 78 tahun 1994, hari tersebut ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional.

Indonesia merupakan negara dengan potensi yang luar biasa. Cara paling ampuh untuk memenangkan masa depan adalah dengan meningkatkan kualitas manusianya. Dalam hal ini, peran terbesar ada di bidang pendidikan dan guru pada posisi sangat strategis dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Guru adalah pelukis wajah masa depan Indonesia. Menyadari betapa penting peran guru dalam menentukan nasib bangsa, Indonesia perlu menggagas berbagai macam program untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru.

Dalam hal kesejahteraan, upaya peningkatan pendapatan dan mengurangi pengeluaran guru. Perihal meningkatkan pendapatan guru merupakan bagian tugas Kemendikbud, sedangkan yang bertugas mengurangi pengeluaran guru adalah masyarakat.

Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Guru dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masayarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya guru, maka dapat mendidik dan membentuk kepribadian anak didik mereka dengan baik agar mempunyai intelektualitas yang tinggi serta jiwa kepemimpinan yang bertanggungjawab. Jadi dalam pengertian yang sederhana, guru dapat diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.

Sedangkan guru dalam pandangan masyarakat itu sendiri adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan yang formal saja, tetapi juga dapat dilaksanakan dilembaga pendidikan non-formal seperti di masjid, di surau/mushola, di rumah dan sebagainya.

Seorang guru mempunyai kepribadian yang khas. Disatu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan dan menciptakan suasana aman. Akan tetapi di lain pihak, guru harus memberikan tugas,mendorong siswa untuk mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi. Dengan demikian, kepribadian seorang guru seolah-olah terbagi menjadi dua bagian. Di satu pihak bersifat empati, di pihak lain bersifat kritis. Di satu pihak menerima, di lain pihak menolak.

Maka seorang guru yang tidak bisa memerankan pribadinya sebagai guru, ia akan berpihak kepada salah satu pribadi saja. Dan berdasarkan hal-hal tersebut, seorang guru harus bisa memilah serta memilih kapan saatnya berempati kepada siswa, kapan saatnya kritis, kapan saatnya menerima dan kapan saatnya menolak. Dengan perkatan lain, seorang guru harus mampu berperan ganda. Peran ganda ini dapat diwujudkan secara berlainan sesuai dengan situasi dan kondisi yang di hadapi.

PGRI mengajak seluruh rakyat untuk mengurangi pengeluaran guru. Jika mempunyai usaha, misalnya bengkel motor atau toko, berilah diskon untuk guru yang telah berjasa hingga seseorang berhasil memiliki sebuah usaha. Begitu pula dengan orang-orang yang mempunyai usaha lainnya, misalnya transportasi atau kursus. Ini namanya gerakan. Memanggil semua orang untuk terlibat dalam meningkatkan kualitas pendidikan, melalui menyejahterakan guru dengan cara membantu mengurangi pengeluarannya.

Untuk gerakan demikian ini, pemerintah siap memfasilitasi. Jadi, tugas pemerintah menjadi fasilitator dan seluruh rakyat ikut terlibat di dalamnya, sehingga tidak semua permasalahan diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Cara lama, pemerintah sendiri yang melakukannya. Maka dari itu, pendidikan harus berubah, dari program menjadi gerakan. Pemerintah bukan yang menyusun budget untuk guru, tapi menyusun alamat para guru. Lalu, memanggil semua orang untuk membantu mereka.

Sedangkan dalam hal peningkatan kualitas guru, perlu diselenggarakan program yang di antaranya berupa pelatihan dan pengayaan metode mengajar dan mendidik. Harapannya, seluruh guru di Indonesia mempunyai kesempatan belajar yang tidak kalah dengan mereka yang berada di perguruan tinggi. Untuk itu, kesempatan belajar dan meneliti sepatutnya diberikan kepada setiap guru.

Program peningkatkan kualitas guru, termasuk memperbaiki kualitas iman dan taqwanya. Inputnya harus diperbaiki. Kalau inputnya baik, pengembangannya akan jauh lebih baik. Oleh karena itu, kita mengundang putera-puteri Indonesia untuk jadi guru. Mereka bukan akan mengajar, juga bukan akan mendidik, guru dapat melukis wajah masa depan Indonesia. Gambar apa yang mereka lakukan sekarang, dampaknya besar.

Adapun peran-peran guru diantaranya :
1) Guru sebagai pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya.
2) Guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi.
3) Guru sebagai pembimbing, guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu.
4) Guru Sebagai pemimpin, guru diharapkan mempunyai kepribadian dan ilmu pengetahuan. Guru menjadi pemimpin bagi peserta didiknya. Ia akan menjadi imam.
5) Guru sebagai pengelola pembelajaran, guru harus mampu menguasai berbagai metode pembelajaran.
6) Guru sebagai model dan teladan, guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru.
7) Guru sebagai anggota masyarakat, peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan disegala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapatmengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya.
8) Guru sebagai administrator, Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Guru akan dihadapkan pada berbagai tugas administrasi di sekolah.
9) Guru sebagai penasehat, guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang.
10) Guru sebagai pembaharu (Inovator), guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik.
11) Guru sebagai pendorong kreatifitas, guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut.
12) Guru sebagai emansipator, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan.
13) Guru sebagai evaluator, teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.
14) Guru sebagai kulminator, guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi).

Menjadi guru bukan sebuah pengorbanan, melainkan sebuah kehormatan karena mewakili bangsa di depan ruang kelas untuk melukis wajah masa depan Indonesia. Kebanggaan menjadi guru tidak bisa dirupiahkan. Untuk itu, perlu ada usaha untuk mengembalikan kebanggan itu dan menunjukkan bahwa menjadi guru berarti mewakili seluruh bangsa untuk melukis wajah masa depan Indonesia. Wahai para guru Indonesia, marilah kita melukis masa depan Indonesia dengan hati nan cemerlang.

Sebuah renungan kecil

Guru berdiri di depan kelas, dan siswa memberi penghormatan. Itu bukan karena guru haus kehormatan, tetapi karena siswa sedang diajar untuk tahu menghormati,…

Guru mengajar didepan kelas, siswa diminta memperhatikan. Bukan karena guru tak tahu metode mengajar yang baik, tetapi karena siswa sedang diajar untuk menghargai orang lain,…

Guru memberikan Pekerjaan Rumah, siswa diminta menyelesaikan. Bukan karena guru memberi beban tambahan, tetapi karena siswa sedang diajar untuk bisa mengisi waktu berkualitas

Guru merobek kertas ujian karena menyontek, siswa diminta mengikuti ujian susulan. Bukan karena guru berlaku jahat, tetapi karena siswa sedang diajar pentingnya kejujuran,…

Guru membuat jadwal kebersihan, siswa diminta membersihkan lingkungan. Bukan karena guru mau seenaknya memerintah, tetapi karena siswa diajar untuk bisa bertanggung jawab,…

Guru berbicara keras karena siswa kurang memperhatikan. Bukan karena guru benci, tetapi karena siswa sedang diajar untuk sadar akan kesalahan,…

Guru memukul siswa karena bandel. Bukan karena guru marah, tetapi karena siswa sedang diajar untuk mengerti kebaikan,…

Guru memberi hukuman yang wajar. Bukan karena guru tak punya kasih, tetapi karena siswa sedang diajar mengakui kesalahan,…

Guru melarang siswa melakukan hal-hal yang terlihat asyik. Bukan karena guru tak mengerti kesenangan siswa, tetapi karena siswa sedang diajar untuk melihat masa depan lebih baik,…

Tanyakan pada mereka yang sukses sekarang, pantaskah membenci seorang guru?
Selamat hari Guru, 25 November 2019

*Wakil Sekretaris PGRI Belitung Timur