Hai Dermawan! Dhea Memanggil

by -

PANGKALPINANG – Dhea, penderita hidrosefalus (penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak) kini membutuhkan uluran tangan kita semua. Bayi berusia 9 bulan ini sejak 4 minggu terakhir terbaring lemah di Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) Pangkalpinang. Ia hanya merintih menahan sakit yang dialaminya.
Memang, sejak dalam kandungan kondisi Dhea sudah diprediksi oleh dokter. Namun, pembesaran baru terjadi sejak ia berusia 3 hari. Semakin hari, kepala warga Desa Air Gegas, Bangka Selatan (Basel) ini semakin membesar. “Dhea dilahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pangkalpinang. Pas dalam kandungan pun sebenarnya sudah dikasih tahu dokter kalau anak kita mengidap penyakit ini. Jadi kita harus terima, dan mengusahakan yang terbaik untuknya,” ungkap Ismail, ayah kandung Dhea kepada Radar Bangka (RB), Rabu (28/4) kemarin.

Diceritakannya kembali, usai dilahirkan, Dhea harus menjalani operasi pertama. Saat itulah, ia membawa Dhea ke RSBT. “Sudah hampir 4 minggu ini yang dilakukan satu kali operasi di sini. Kita menggunakan biaya BPJS, mungkin setidaknya kalau ingin sembuh diharuskan tiga kali operasi,” tuturnya. Ismail mengaku dokter sebenarnya menyarankan Dhea dibawa ke Palembang untuk menjalani operasi. Tapi, lantaran terkendala biaya ia akhirnya mengurungkan niat tersebut. “Walaupun kita pakai BPJS kan tetap saja banyak mengeluarkan biaya. Terutama biaya hidup kalau dibawa ke Palembang otomatiskan tiket dan biaya hidupnya tetap bayar. Apalagi kalau operasi harus nunggu 20 hari minimal baru bisa. Kita tinggal dimana, uang juga gak ada,” ucapnya berkaca-kaca.
Ia mengatakan keinginannya kalaupun ada uang ingin membawa putri kesayangannya ini berobat keluar daerah seperti yang disarankan dokter, tapi apalah daya Ismail hanya seorang buruh harian. “Jika ada uang pastinya kita ingin bawa anak kita operasinya ke Palembang seperti yang dikatakan dokter. Tapi untuk sementara disini dulu, saya juga hanya buruh harian, apalagi sekarang kita sama-sama jaga Dhea,” tandasnya.
Nia, ibu kandung Dhea menambahkan anaknya selama hampir 9 bulan sering menangis dan jika malam haripun jarang tidu karena sakit yang dideritanya. “Dhea jarang tidur. Nangis-nangis terus. Kita orang tuanya pun ikut gak bisa tidur, kemaren juga kita gantian harus dirawat juga,” jelasnya. Nia berharap, pemerintah, dermawan dan masyarakat Babel dapat membantu meringankan penderitaan keluarganya tersebut. “Mudah-mudahan ada yang tergerak membantu meringankan penderitaan keluarga kami ini,” lirihnya.(zul)