Harga Beras Naik, Janda Menjerit

by -

MANGGAR-Harga beras yang terus naik dalam beberapa hari terakhir membuat masyarakat mulai resah. Lonjakan harga beras tak hanya di beberapa kota besar di Indonesia saja, namun juga terjadi di Kabupaten Belitung Timur.

Masyarakat pun menjerit dan berharap agar pemerintah segara mengambil langkah untuk bisa menekan harga kebutuhan pokok tersebut.

“Kalau yang naik bahan pokok lain kami tak khawatir. Yang penting jangan beras. Kalau nggak ada beras perut lapar tak bisa ditahan,” ungkap Anisa (47), warga Desa Kurnia Jaya Manggar yang ikut resah atas kenaikan harga beras tersebut, Rabu (25/2) kemarin.

Janda dua orang anak itu berharap pemerintah bisa menekan kenaikan harga beras tersebut. “Kami orang kecil, kalau harga beras mahal, tak bisa kebeli,” ujarnya, saat ditemui di salah satu toko kelontongan di Manggar.

Ia menuturkan, semisal beras Bulog kini naik Rp. 6000 per karungnya. Biasa satu karung Rp 179.000 sudah naik menjadi Rp 185.000, apalagi jenis beras yang lainnya.

“Dampak dari beras yang naik tentu akan dirasakan sangat berat oleh masyarakat. Harga beras yang mahal, membuat masyarakat lebih banyak membeli beras eceran,” keluh ibu rumah tangga ini.

Menyikapi harga yang terus naik, anggota DPRD Beltim, Haryanto Johannes berharap pemerintah harus bertindak cepat menyikapi hal ini. Salah satunya dengan menggelar Operasi Pasar (OP), meski sudah dilakukan Selasa (24/2), oleh Disperindagkop Beltim bersama tim.

Selain itu, dinas terkait seperti Disperindagkop juga harus jemput bola dengan melakukan tindaklanjut bersama ke dua kabupaten di Pulau Belitung. Itu untuk menanggulangi masalah kenaikan beras ini. Intinya harus melakukan pengawasan dan pengecekan ke agen pendistribusian besar,” ungkapnya.

Sedangkan di Kabupaten Beltim sendiri, para petani padi di sentra-sentra padi, di Danau Nujau dan Danau Meranteh Kecamatan Gantung beberapa sawah mengalami gagal panen dan terjad penundaan masa tanam. Kondisi ini membuat Kabupaten Beltim belum bisa mengadalkan hasil produksi padi lokal untuk menekan kenaikan harga di Pulau Jawa.

 

“Jumlah produksi padi lokal kita tahun ini kurang maksimal akibat terserang penyakit plast yang disebabkan oleh jamur. Para petani kita juga terpaksa harus menunda musim tanam akibat kurangnya curah hujan,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Kehutanan dan Pertanian Kabupaten Beltim Warsinu.

 

Masih menurut Warsinu, kondisi kenaikan harga ini jarang terjadi. Saat ini katanya, harga di tingkat petani padi lokal sudah mencapai Rp 10.000 perkilogram. “Insyaallah, jika dengan rata-rata produksi sawah kita perhektarnya mencapai 5,1 ton dan kalau 1.118 hektar lahan sawah kita bisa produksi maksimal kita akan bisa menekan kenaikan harga ini,” tandas Warsinu. (feb)