Hari Raya, Biaya Masuk Sekolah dan Pencabutan Subsidi Listrik

by -
Uang Rupiah. Foto: JPNN

Bulan ini (awal Juli) merupakan bulan yang berat bagi penduduk negeri ini. Berat karena baru saja menghabiskan isi kantong (gaji dan lainnya) untuk pulang kampung dan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Tradisi merayakan hari raya ini memang tidak bisa dihindarkan, bahkan pemerintah pun mendukungnya dengan memberi libur tambahan untuk aparat sipil negara (ASN).

Masalahnya, setelah merayakan Hari Raya Idul Fitri di kampung atau bagi yang tidak pulang kampung (tentunya ikut merayakan dengan membeli baju baru dan kue dan lainnya), muncul pula agenda berikutnya, yakni biaya untuk anak masuk sekolah.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa masuk sekolah itu hanya sebutannya saja tanpa pungutan, tetapi kenyataannya, banyak biaya yang harus dibayar. Jangankan untuk memasukkan anak ke perguruan tinggi, untuk masuk ke taman kanak-kanak (TK) saja memerlukan uang jutaan.

Awal bulan Juli menjadi hari yang berat bagi penduduk negeri ini, jika ditambah lagi dengan rencana pemerintah akan mencabut subsidi listrik untuk pelanggan 900 VA. Hal ini sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan pemerintah, bahwa seharusnya Juli ini merupakan penyesuian tarif yang ketiga kalinya untuk 900 VA.

Entahlah, dengan penyesuaian tarif yang ada saja selama ini, warga sudah kewalahan membayarnya. Biasa mereka hanya membayar Rp200 ribu per bulan, berubah menjadi Rp400 ribu. Tentu ini sangat berat. Nah, bagaimana jika penyesuaian tarif jilid III, tentu tagihan listrik akan lebih dari bulan-bulan sebelumnya.

Bahkan, belum lama ini pemerintah akan menaikkan harga premium pada Juli ini, jika ini terjadi, lengkap sudahlah penderitaan rakyat itu, tambah dengan kenaikan harga elpiji.

Kadang muncul pemikiran dari rakyat, mengapa subsidi listrik 900 VA itu harus dicabut? Dan anehnya dana bantuan parpol malah ditambah. Muncul pertanyaan kok ”subsidi” parpol pula ditambah dan subsidi untuk rakyat dibabat habis. Entahlah. Hemat-hemat pakai listrik.***