Hingga Agustus 2020, Ada 48 Orang Nikah Usia Dini di Belitung

by -
Hingga Agustus 2020, Ada 48 Orang Nikah Usia Dini di Belitung
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat, Kemenag Belitung, Ahmad Tibroni.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Belitung mencatat sebanyak 48 orang melakukan pernikahan di bawah umur, dari Januari Hingga Agustus 2020. Terdiri dari 16 pria dan 32 wanita.

“Ada 16 pria dan 32 wanita yang melakukan pernikahan dini, KUA-KUA telah mendata dan menseleksi secara akurat berdasarkan akte kelahiran mereka,” kata Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat, Kemenag Belitung, Ahmad Tibroni kepada Belitong Ekspres, Rabu (23/9).

Dikatakan Ahmad, pihaknya melakukan beberapa giat untuk berusaha menekan angka pernikahan dini. “Kita melalui kepala-kepala KUA, penyuluh dan penghulu melalui sosialiasi mengenai usia pernikahan anak itu, untuk dinikahkan minimal 19 tahun, jangan sampai melaksanakan perikahan di bawah usia, terutama yang nikah sirih,” jelasnya.

Sejauh ini, masih ada beberapa oknum masyarakat yang masih tetap melaksanakan pernikahan. Di mana mereka tidak ada wewenang untuk melaksanakan pernikahan dan tidak ada wewenang untuk pencatatan nikah tersebut.

“Nikah sirih seperti inilah, tidak ada hukum bagi perempuan tersebut, akhirnya perempuan tersebut dirugikan oleh pernikah itu, karena tidak tercatat di dalam catatan pernikahan,” terang Tibroni.

Oleh karena itu, Tibroni berharap kepada oknum yang masih melaksanakan pernikahan tersebut, agar segera mungkin berhenti melakukan hal itu.

“Kita harap, kita mohon sekali, karena dari kementrian agama sudah ada kemudahan. Apabila di bawah umur, ya silahkan mengajukan ke pengadilan agama untuk meminta disposisi pernikahan, tapi kalau di atas umur tidak ada hak KUA untuk menolak pernikahan, dengan catatatan seluruh syarat lengkap,” paparnya.

Dia menambahkan, peraturan menteri agama (PMA) terbaru, mengenai usia pernikahan itu tidak lagi 16 tahun, akan tetapi laki-laki dan perempuan minimal berumur 19 tahun. Peraturan tersebut sudah diberlakukan sejak Oktober 2019 lalu.

“Itu bukan untuk melarang menikah, tetapi untuk mengatur jangan sampai hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti segi kesehatan, anak dibawah 19 tahun masih dikategorikan anak-anak, baik dari calon ibunya, calon bakal rahimnya masih belum kuat, itu dari Dinas Kesehatan. Secara akal anak dibawah 19 tahun belum dewasa untuk mengambil keputusan kurang tepat atau kurang wajar, masih ada sifat kekanak-kanakan,” jelasnya. (dod)